Mengambil judul dari sebuah idiom Amerika: "Pain in the neck," yang artinya "If someone is very annoying and always disturbing you, they are a pain in the neck.
Pain in the butt, or pain in the ass."
Untuk kasus saya adalah tubuh saya, my health condition. Ketika dirawat inap di Siloam Hospitals Lippo Village tanggal 14-15 Desember 2015 lalu, akibat sakit vertigo infeksi telinga, ada beberapa pelajaran yang saya peroleh dari peristiwa ini.
Pertama, Bahwa kita tidak bisa membohongi tubuh sendiri.
Selasa lalu, tepatnya tanggal 8 Desember 2015, saya sempat dilarikan ke UGD (Emergency/Unit Gawat Darurat) oleh teman kantor karena kepala saya berputar tak keruan. Alangkah terkejutnya saya didiagnosa dokter, "Ibu terkena vertigo." What!? Saya resmi punya vertigo sekarang? Padahal saya sudah punya penyakit asma, tekanan darah rendah, mengapa ini jadi bertambah? Kemudian, dokter meminta saya untuk rawat inap, tapi saya menolak. Masa gara-gara sakit vertigo sampai dirawat inap segala. Akhirnya saya diperbolehkan pulang dengan obat resep dokter.
Berjalannya waktu, ternyata bertambah buruk. Puncaknya adalah pada hari Jumat (11 Desember 2015), saya mengalami gempa. Tapi hanya diri saya saja. Saya lihat sekeliling, bahkan air di botol minum pun tidak bergoyang sama sekali. Saya terpaksa ijin tidak masuk kantor hari itu. Merasa tidak enak, hari Seninnya saya memutuskan masuk kantor. Saya masih dapat bekerja, hingga pukul tiga sore, dunia saya berputar lagi. Saya sempat menyender dan memejamkan mata di pantry kantor, tapi sepertinya tidak terlalu berguna. Karena setiap orang yang lewat bertanya, "Kamu kenapa?" (yang sebenarnya ini bentuk perhatian dari mereka). Sampai saya tidak tahan lagi. Pada jam empat sore, saya dibawa kembali ke UGD. Kali ini saya pasrah. Alhasil, saya dirawat inap selama satu malam dan diharuskan istirahat satu minggu kemudian.
Sayalah penyebab semua ini. Seolah-olah saya berpikir akan kuat, memperlakukan tubuh ini layaknya kondisi normal. Padahal tidak, saya sedang sakit. Terkadang kita suka berpikir, "Tinggal sedikit lagi, perut saya dapat menahannya... Setengah jam lagi baru tidur, karena nanggung ini film-nya.... Seminggu ini belum berolahraga, tapi pasti saya bisa naik gunung atau jalan jauh..."
Bukannya tidak bisa, namun terkadang, kita memforsir tubuh sendiri untuk bisa mengikuti pikiran kita, rencana, aktivitas, dll. Hentikan... Anda mulai mengganggu diri sendiri! Mobil saja perlu beristirahat, padahal cuma sebuah mesin. Jangan paksa lagi... Dengarkan tubuh Anda. Karena Anda sedang tidak dibohongi di sini. Sayangi diri sendiri. Jangan sampai tumbang baru paham. Ini namanya "Kepalang tanggung," bukan "Mencegah lebih baik dari mengobati."
Kedua, Tidak memanjakan diri sendiri.
Saya paham, hal yang kedua ini terkesan kontradiktif dengan perihal pertama. Tapi ijinkan saya menjelaskannya.
Kembali ke kisah saya di UGD, saya akui kurang bersabar waktu itu. Saya sedikit mendesak perawat untuk segera mendatangkan dokter. Dokter spesialis saraf akhirnya datang dua jam kemudian, baru saya dipindahkan ke kamar. Saya menempati kamar 857 bersama dengan seorang wanita yang baru saja selesai dioperasi siang harinya. Saya ditemani orang tua, adik, adik ipar saya. Dan disinilah saya jadi sedikit "manja" terhadap mereka. "Pusing... Dingin... Mau nonton, apakah bisa berikan saya remote control televisinya? Belum makan, lapar (memang waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam)." Lalu, karena tidak ada yang menemani saya malam harinya, saya mulai beberapa kali menekan tombol "Nurse Call" dan mengeluhkan, "Tidak bisa tidur, sus... Salah bantal..." Apakah Anda membacanya dengan mencibir? Yah, saya sedang mengeluh. Saya sedang manja...
Tak dipungkiri, ketika dirawat inap, kita sebagai pasien memang merasakan sakit dan rasa tidak nyaman di sekujur tubuh. Walaupun kepala saya yang didagnosis sakit, tapi entah kenapa, bagian tubuh lain, seperti paha, leher, tangan, juga ikut merasakan nyeri. Seumpama tubuh ini mati rasa, membatasi ruang gerak saya yang biasanya dapat saya lakukan sendiri...
Saya bersyukur sempat mengobrol dengan teman sekamar saya di pagi harinya ketika kami breakfast -Anda ingat, wanita yang habis dioperasi ini?- Ia bercerita, bahwa sudah mulai dirawat inap sejak hari Minggu sore. Dan saat itu, rumah sakit betul-betul sangat sibuk, sampai-sampai semua kebutuhan ibu ini terlambat. Namun hebatnya, ia tidak mengeluh. Ditemani suaminya di kamar, ia yang terus-menerus mengingatkan perawat akan kebutuhannya. Dan menurutnya, selama masih bisa dilakukan sendiri, mengapa tidak?
Waktu mendengar hal itu saya jadi malu... Ya, meski tubuh ini sakit, bukan berarti kita jadi pity self (mengasihani diri sendiri). Bersyukurlah kita sudah dirawat, bersyukurlah untuk tempat tidur yang nyaman, perawat yang baik dan penuh perhatian, teman-teman yang memperhatikan, makanan yang diantarkan, dokter yang mengobati, dll. Semenjak itu saya berhenti pity self... Saya meyakinkan diri sendiri bahwa vertigo ini akan sembuh, tidak akan menghambat aktivitas saya lagi, dan saya akan keluar dari rumah sakit ini segera. Akhirnya, siang hari, setelah diperiksa dokter spesialis saraf, saya diijinkan pulang karena hasil-hasil tes dan kondisi kesehatan saya sudah jauh membaik.
Jangan ikuti rasa sakit itu... Jangan terus menuruti kehendak yang demikian... Miliki keyakinan Anda akan sembuh dan bisa beraktivitas seperti sediakala lagi. Dan itulah yang saya lakukan sekarang, menulis blog lagi dan melanjutkan kegiatan menulis saya, seperti biasanya.