Tampilkan postingan dengan label Asyiknya Jadi Wanita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asyiknya Jadi Wanita. Tampilkan semua postingan

30 Oktober 2015

LIFE IS BEAUTIFUL - Berhenti Menunggunya

Ketika membaca ayat “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga”.

Saya suka ayat ini. Saya selalu memperkatakannya ketika kekhawatiran muncul, baik dalam pekerjaan, keuangan, makan, pergi hang-out atau mingle dengan teman, traktir teman, pacar? Saya mempercayai-Nya. Hanya saja saya (baru) menyadari satu hal, burung memang tidak bisa menabur atau mengumpulkan bekal dalam lumbung. Ia tidak bisa berpikir, apalagi menghitung. Namun, agar si burung dapat makan dan memberi makan anak-anaknya, jelas ia harus terbang, melakukan sesuatu. Dan Tuhan berjanji terus memeliharanya. Si burung akan terus mendapatkan makanan dimana saja. Hanya saja, ia harus terbang.

Saya sedang membaca artikel dari Mandy Hale berjudul “Three Lies Us Single People Need to Stop Telling Ourselves” dan kebohongan yang ketiga adalah “Thinking that we have to wait around for a relationship to realize our destiny”, Mandy menghimbau kita untuk “It’s time to stop waiting and start LIVING.” Ini adalah salah satu saran terbaik yang saya ketahui...

Pernahkah Anda menyukai seseorang, lalu memutuskan untuk menunggunya menghubungi Anda, mengajak pergi, memperkenalkan Anda dengan teman-temannya kemudian keluarganya, suatu hari “nembak” Anda, dan (siapa tahu) ia akan melamar nanti. Well, ini yang disebut menunggu…

Saya tidak menyalahkan Anda. Saya pun pernah melakukan hal yang sama. Dan begitu ia “nembak” saya, entah kenapa rasanya tidak sempurna atau seindah yang saya rasakan sebelumnya. Teman saya sempat berujar, “Mungkin terlalu lama ya, Eve…” Hmm, mungkin juga… Tapi saya sadar sekarang, hal tersebut dikarenakan saya hanya menunggu saja, tidak “terbang” atau “living”. Saya tidak melakukan apa-apa untuk mencerahkan hari saya, untuk mengisi kehidupan saya, dan (yang terpenting) melakukan persiapan untuk siapapun pasangan saya kelak.

Saya sering membalas perkataan teman-teman saya yang berkata, “Eve, sebenarnya kamu tuh sudah cocok berumah tangga dan punya anak” (Yes, I totally agree). Hanya saja ini jawaban saya, “Saya lebih baik telat menikah daripada salah pilih orang. Tidak apa deh terlambat, tapi saya percaya it’s all worth it…”

Bagaimana dengan Anda? Masihkah Anda menunggunya? Hentikan dulu sejenak “memikirkan dia”. Perhatikan diri Anda. Mulailah lakukan sesuatu. Upgrade yourself. Perkaya diri Anda dengan hal-hal hebat. Hidupi hidup Anda. Rasakan indahnya diri Anda dan lihatlah, you are worth it…  


Seperti kata-Nya kemudian, “Bukankah kamu lebih berharga daripada mereka (burung)?” Yes, you are, ladies…

12 Maret 2015

And Remember, "You Are Beautiful..."


Saya yakin, setiap pertemuan bukanlah sebuah kebetulan...

Jadi, setelah Anda siap sekarang, what's next? 
Nah, ini kelanjutannya...

Sebuah pertanyaan besar,
"JIKA ANDA MEMBAYANGKAN SEBUAH PERNIKAHAN, APA YANG ADA DALAM BAYANGAN ANDA?"

Seperti yang kita tahu, pernikahan itu untuk membentuk keluarga. Jadi di dalamnya, ada suami, istri, juga anak. 
Dan bukan sekadar ayah, ibu, dan dua anak saja -Tapi, ini sih poster Keluarga Berencana ya- Maksud saya jika anggota keluarga ini berada dalam lingkaran, akan diisi apa dalamnya? 

Apa yang mau dan akan Anda isi dalam pernikahan Anda nantinya?

Nah, Anda tahu Walt Disney? 
Saya pernah mendengar ceritanya. Sesungguhnya waktu Disneyland di California diresmikan, saat itu Walt Disney sudah meninggal. Para tamu yang hadir di peresmiannya mengucapkan selamat kepada istrinya dan berkata, "Sayang sekali Walt tidak sempat melihat karyanya ini." Tapi saya suka jawaban sang istri, "Walt sudah melihat bentuk akhir karyanya ini berpuluh, bahkan beratus kali di dalam pikirannya." Wow...
Yes... Ketika Walt Disney sedang berada di sebuah lahan seluas 8 hektar tanah, ia sedang membayangkan sebuah Magical Park yang indah dan "Fun." Walt Disney merencanakan semuanya, setiap detail ada dalam pikirannya. Seperti apa Disneyland's King Arthur Carousel itu? Dan akan diletakkan dimana nanti? Lalu akan dibangun seperti apa Disney's Castle yang akhirnya jadi ikon Disney? 
Kemudian saat ia memberi nama Adventureland, Fantasyland, Frontierland, Tommorrowland, dst. Semua nama tersebut ada artinya... Bahkan tata letak, petanya... Ada yang ditaruh di tengah, lalu dipenuhi dengan taman atau dibangun jembatan dan sungai buatan yang indah, dan seterusnya.
Semua sudah ada di dalam pemikiran Walt Disney. Ia sudah tahu akan jadi seperti apa Disneyland itu. Ia sudah membayangkannya beratus-ratus kali. Ia telah melihatnya di dalam pikirannya. Jadi waktu Walt masih hidup, begitu pun Disneyland hidup di dalam pikirannya...

Nah, hebatnya pikiran kita, ia akan selalu menarik kita ke arah dominan.
Apa yang kita tatap paling lama, maka itu akan menjadi semakin kuat.
Semakin kamu berfokus kepadanya, akan semakin besar dampaknya. Lalu, penglihatan kita mengembangkan desire. 

Oleh karena itu, menurut saya, pernikahan bukanlah sebuah tujuan. Saya mengerti memang setiap wanita  mendambakan pernikahan, namun itu bukan goal Anda, Saudariku...
Goal Anda adalah apa yang akan terjadi setelah Anda menikah. Apa yang akan Anda isi? Nilai-nilai apa yang akan Anda anut, untuk kemudian diterapkan kepada anak-anak? Kehidupan seperti apa yang mau Anda jalani?

Sebabnya, if I can see it, I can have it. Itulah pola pikir kita...

Nah, saya termasuk orang yang suka menulis sesuatu, lalu menempelkannya di tempat yang bisa saya lihat. Tempat tersebut bisa di dinding, pintu lemari, pintu, samping lemari, dll, yang biasanya akan dipenuhi dengan segala sesuatu yang saya suka. Misal, tips/trik yang saya ambil dari majalah, quote dari buku, cita-cita saya, rencana, gambar puppies yang lucu, harapan dan keinginan, juga tambahan tulisan mengenai bayangan saya tentang sebuah pernikahan nantinya? 

Jujur saja, saya tidak punya kendala membayangkan pernikahan yang baik. Saya punya orang tua yang masih romantis. Papi saya masih memberi surprise pergi ke Bali berdua saja untuk Mami waktu ulang tahun pernikahan mereka kemarin. Mami saya masih menyiapkan makanan untuk papi saya, setiap harinya. Jadi, saya berharap kami (saya dan suami saya kelak), dapat terus menjadi pasangan romantis.
Selain itu, masih banyak lagi yang bisa saya bayangkan... Saya belajar dan melihat banyak dari Mami saya, juga lainnya. Sejak dulu, Mami saya punya kebiasaan menyiapkan bekal makanan buat anak-anaknya. Jadi, di kantor saya jarang jajan, Saudariku... Saya terbiasa makan di kantor. Selain enak tentunya, terjamin juga kebersihannya. Dan ternyata, kebiasaan ini menular ke teman-teman kantor saya lainnya. Ramai-ramai kami jadi membawa bekal, lalu makan bersama-sama saat lunch, sambil saling mencoba masakan masing-masing. Bangga rasanya kalau mendengar teman saya suka masakan Mami... Karena itulah, saya inigin mengurus keluarga juga nantinya, memasak, membawakan bekal, dll.
Buat saya, Mami tidak hanya sekadar role model, tapi seorang sahabat juga. Saya bisa bercerita apa saja dengannya...  Tentang cowok, pekerjaan, teman, dst. Sehingga rasanya keren banget kalau saya bisa menjadi sahabat anak-anak nantinya, juga suami. Dapat memberi kenyamanan, apalagi Mami saya sabarnya bukan main...

Itu beberapa harapan saya. Bagaimana dengan Anda? Apa harapan Anda mengenai pernikahan nantinya? Akan diisi apa hari-hari Anda? Dengan suami Anda setiap harinya? Dengan anak-anak? Bersama keluarga? Apa yang akan Anda isi? Apa yang hendak Anda lakukan? 

Coba tutup mata Anda sekarang dan bayangkan. Imajinasikan... Karena if I can see it, I can have it.

Lalu, catatlah segera. Taruh di tempat atau lokasi yang mudah dilihat.
Dan jangan ditulis saja, Sahabatku... Tapi berfokuslah pada hal itu. Kerjakan dan kejar, kalau perlu. Mulai lakukan. Mulai cari tahu. Mulai mempelajarinya.
Lanjutkan upgrade diri Anda. Saya yakin Anda akan bertambah-tambah siap sekarang...

Dan, tahukah Anda pengertian dari flower itu? Berikut beberapa pengertiannya berdasarkan situs www.sederet.co.id
  • A plant cultivated for its blooms or blossoms
  • The period of greatest prosperity or productivity
  • Produce or yield flowers
  • To blossom, to bloom, to expand the petals as a plant
  • To embellish with flowers
So, be blossom... Be prosper... Be productive... It is not too late. Show it...
And remember, "You are beautiful... Strong enough. Good enough. And bright enough."

19 Desember 2014

Sometimes We Ask These BIG Questions


I’m not going to lie, I’m ask it too sometimes…

Yes, the big question: Why am I still single till now? When am I getting married? Or Am I going to be marry one day or not and why I had to wait for this so long?

Well, what can I say, we’re woman. We’d like to use a feeling than mind. Sebagai contohnya saja, kita akan menangis saat nonton cerita yang sedih atau perpisahan, sementara pria hanya memutarkan bola matanya. Dan saya yakin sekali, setiap kali kita melihat bayi yang lucu ataupun anak anjing yang nakal, kita akan bersuara, “Owww, so cute…”

Hahahaha… That’s nothing wrong with that… Itulah yang membedakan kita dengan kaum pria. Hanya saja sayangnya, karena demikian terkadang wanita  membutuhkan lebih banyak waktu untuk move on, lebih lama dalam memilih daripada memutuskan, terlalu sering mengorbankan dirinya sendiri bagi orang lain namun menyia-nyiakan keinginan pribadi atau (buruknya) diri sendiri, lebih sering terbawa perasaan/lingkungan di sekitar daripada membuat perubahan atau berdiri teguh. Kerap berlarut-larut dalam perasaannya, susah move on, memilih “terbiasa” dibanding keluar dari zona nyamannya, mengambil sikap pasrah ketimbang membela dirinya sendiri (keinginannya).

Sahabatku yang cantik, ijinkan saya mengatakan hal ini kepada Anda, “Semua itu adalah masa lalu... Semua itu telah berada di belakang. Tidak ada yang bisa Anda lakukan lagi untuk kembali atau mengulangnya, tidaklah mungkin hingga jutaan tahun kemudian. Yang ada hanya hari ini…”

Ucapkan syukur untuk saat ini. Syukuri pekerjaan Anda. Syukuri keberadaan Anda. Syukuri perpisahan Anda, walau rasanya sakit di sini (sambil menunjuk hati Anda). Syukuri status Anda. Syukuri teman-teman Anda. Syukuri lingkungan Anda. Syukuri komunitas Anda. Syukuri keluarga Anda, baik jauh maupun dekat. Ucapkan syukur… Lalu, jalani kembali hidup Anda…

Masih ada waktu. Masih ada kesempatan. Belumlah terlambat. Semua itu masih ada di luar sana. Anda tinggal terus melanjutkan perjalanan. Terus berjalan maju, mau jalan cepat bahkan berlari pun tidak masalah, yang penting Anda maju dan bersemangat melanjutkannya. Barangkali sebentar lagi Anda akan sampai. Bisa jadi tepat di persimpangan/belokan di sana, ‘the right one’ itu berdiri. Tetaplah yakin... Walaupun belum kelihatan, bukan berarti tidak ada apa-apa di ujung jalan sana. Anda hanya perlu melangkah sedikit lagi, maju sedikit lagi… Then, you’ll see…

Sembari itu, cobalah lihat sekitar. Saya yakin Anda tidak berjalan sendirian. Ada beberapa teman dan orang yang sedang berjalan juga di samping Anda. Boleh jadi mereka baru berpisah/putus, ada juga yang masih terluka, gapailah tangan mereka. Peganglah tangannya. Berjalanlah bersama-sama. Teruslah maju ke depan… Anda mungkin tidak tahu harus berkata apa. Tak mengapa, Saudariku… Terkadang yang dibutuhkan hanya telinga, diri Anda, dan tatapan mata penuh pengertian, juga kasih dari Anda. Yang lainnya tidaklah penting…

Ingatlah selalu, Anda tidak sendirian, Sahabatku, tidak pernah seperti itu… Berhentilah berpikir demikian dalam hidup ini. Cobalah keluar dan mulailah perhatikan dengan seksama. Berhentilah bertanya, “Kenapa dan Kapan?” Toh tidak membuat Anda tenang apalagi lega, malahan bertambah-tambah kepikiran. Mulailah berkata, “Apa yang bisa kulakukan? Apa yang bisa kuperbuat?” Mulailah explore keasikan menjadi seorang wanita. Bersenang-senanglah. Its our privilege… *wink

Mulailah kumpulkan teman-teman wanita Anda, baik yang masih jomblo, bertunangan, maupun yang sudah menikah. Pergilah berlibur dengan mereka atau belanja bareng. Bisa juga mengobrol santai sambil minum teh/ngopi, lalu sama-sama mengatur asupan diet, ataupun sekadar pergi ke gym bersama,  mengikuti kelas yoga, pilates, dll. Bagaimana dengan belajar masak, yang dilanjutkan mencoba tempat makanan baru? Tidak apa kok sekali-kali mentraktir diri sendiri makanan mewah dan fancy. Atau yang sering saya lakukan, chatting dengan my girlfriend sampai puas hingga tengah malam (sampai-sampai kami berdua ketiduran). Its sounds fun, ladies…

So, my dearest friend,
I hope this Christmas will be for you a cheerful ending to the year
 and a great beginning to a happy new one.
Merry Christmas and Happy New Year...

13 November 2014

Menikah Bukanlah Jalan Keluarnya


Suatu hari, saya mendapat pertanyaan seperti ini dalam sebuah acara talk show di komunitas, "Mengapa saya masih sendiri? Padahal dalam segi umur saya sudah siap. Apakah ini pertanda saya akan sendirian terus?" Saat mendengar pertanyaan tersebut, saya langsung jujur mengungkapkan, "Inilah alasan saya menulis buku Are You Still 'Single'?"

Pasalnya saya mengerti, tak sedikit wanita yang memiliki pertanyaan sama. Dan kemudian berpikir, "Apakah karena aku tidak cantik lagi... Apakah karena pria takut/merasa terintimidasi denganku... Apakah ada yang salah dengan diriku..." Jawaban yang akhirnya menjadi bab-bab buku saya. 

Seperti yang saya tulis di buku, tidak ada jaminan juga saat Anda membaca habis buku saya, tiba-tiba 'the right one' itu muncul di depan mata. Ta daa... No... (Tapi jika hal itu terjadi pada Anda, ijinkan saya memeluk Anda nanti saat bertemu. Saya turut berbahagia).

Saudariku, menikah bukanlah jalan keluarnya...

Isu Anda untuk menikah bukanlah usia atau bertambahnya usia, tetapi harusnya kesiapan. 
Artinya, ketika Anda menikah nanti, semua itu akibat kesiapan Anda, karena Anda benar-benar telah siap memasuki dunia pernikahan, BUKAN lantaran umur kian bertambah.

Menyambung pertanyaan di atas, "Kenapa dan mengapa?" Saya kira bukan ini pertanyaan yang tepat. Toh juga semakin kita pertanyakan, semakin kita kepikiran dan merasa khawatir. Namun, saya ingin mengajak Anda semua mengubahnya menjadi, "Apa yang bisa kulakukan dalam masa jomblo ini?"

Karena let me tell you my beautiful friends, Anda mempunyai banyak 'persiapan' yang bisa dilakukan. Tidak hanya sekadar persiapan keuangan membeli gaun pengantin impian ataupun perawatan kecantikan, lebih dari itu... Anda dapat mengisinya dengan belajar masak, membaca buku mengenai relationship dan/atau parenting, mengikuti sebuah kursus, tergabung dalam sebuah badan organisasi, mingle dengan komunitas yang hobinya sama dengan Anda, rutin ikut seminar dan workshop mengenai kesehatan, rajin nge-gym dan menjaga gaya hidup sehat, berlibur bersama keluarga, menghabiskan waktu bersama dengan sahabat (atau saya menyebutnya girlfriends), dll. 

Upgrade diri Anda... Tingkatkan kualitas kecantikan Anda... *wink
Biarlah mereka dapat melihat keindahan luar dan dalam Anda.
Dan lihatlah, bukankah dunia Anda menjadi sangat menarik, berwarna dan hidup. Anda menikmati masa tersebut. Bertahan tidak ada dalam kamus Anda...

Kita memang tidak pernah tahu sampai kapan akan menyendiri, tapi di 'musim/momen' ini, saya juga tidak berharap Anda tidak menikmatinya. Besar harapan saya Anda dapat terus 'hidup' dan berhasil. Layaknya, teman-teman saya yang hendak pergi berlibur ke negara yang sedang mengalami musim dingin. Mereka mempersiapkannya dengan riang gembira, belanja pakaian dingin, jaket, sweater, pelembap wajah, make up, bahkan perlengkapan ski. Kesiapannya meluapkan semangat yang ikut saya rasakan juga, meski saya tidak turut serta.

Kemudian di sana, saya yakin, mereka tidak akan mengenakan pakaian musim kemaraunya, celana pendek ataupun kaus. Mereka tidak mau bertahan di musim dingin, mereka ingin berjalan-jalan menikmati pemandangan dan keindahannya. Mereka siap dan mencoba menikmati musim yang baru ini. Alih-alih bersembunyi, menghindar, apalagi tidak mau keluar, berharap musim ini tidak nyata dan segera berlalu. Nope... 

Sahabatku yang cantik, pernah ada pepatah yang bagus berkata, "Menjadi tua adalah sebuah keharusan. Menjadi dewasa adalah sebuah pilihan." Usia akan terus bertambah, tapi biarlah kita semkin bijak, dewasa, matang, komplit. Single forever...

Jadilah sibuk mempersiapkan diri sendiri... Sehingga hidup Anda berada dalam keadaan siap. Dan saat Tuhan membawa Anda memasuki musim yang baru, seperti pacaran/ tunangan/menikah/menjadi istri/menjadi ibu, Anda telah siap. Bukannya kalang-kabut lagi bersiap-siap, baru belajar sana-sini. Akhirnya, tidak menikmati momen tersebut, karena sudah keburu capai atau lelah. 

Tidak, justru sekaranglah waktunya...

"The bad news is time flies, the good news is you are the pilot" (Michael Altshuler)

20 Oktober 2014

Apakah Salah Kalau Wanita Memiliki Standar/Kriteria Untuk Pria?

Pertanyaan di atas pernah beberapa kali ditanyakan ke saya oleh beberapa orang teman. Datangnya juga random, berasal dari wanita maupun pria. "Apakah seorang wanita perlu memiliki standar/kriteria? Dan salahkah kalau memilikinya, takut terlalu tinggi atau malah terlalu rendah?"

Waktu ditanya pertama kali, saya sempat terdiam sejenak. Tapi setelah saya renungkan, kembali saya berpikir bahwa hal ini sangat penting. Ya, penting bagi wanita memiliki standar atau kriteria pria yang diinginkannya... 

Seperti ketika hendak mengikuti sebuah ekstrakurikuler atau bergabung dalam komunitas. Pertama-tama, yang akan kita perhatikan tentu standar yang diinginkan dan apakah ketentuannya sesuai dengan yang diharapkan. Kita tidak mungkin masuk komunitas bikers (misalnya), kalau kita saja tidak bisa naik sepeda (seperti saya, hehe...). Atau masuk dalam sanggar tari, tapi waktu latihan selalu bentrok dengan waktu kuliah. Jelas, kita akan berpikir ulang... Bahkan saya yakin, ketika kita telah menjadi anggota dari salah satu tempat gym yang memiliki beragam kelas atraktif pun, kita akan melakukan hal yang sama, memilih kelas yang sesuai dengan standar/kriteria kita. Mungkin kita akan coba-coba dulu di awalnya, tapi setelah itu, kita pasti akan mengambil keputusan mengikuti kelas-kelas tertentu saja.

Juga, ketika melamar pekerjaan. Yang akan kita pilih adalah standar sesuai pendidikan atau kesukaan/passion kita. Jarang sekali (bukan berarti tidak mungkin), kita memilih pekerjaan yang belum pernah kita pelajari atau mengerti lantaran ingin mencobanya dulu, ataupun ingin tahu seperti apa dunia tersebut. Mungkin kita akan melakukan pekerjaan ini sebagai pekerjaan tambahan atau part-time. Tapi, saya kira perasaan "ingin coba-coba" biasanya berlangsung sementara, jarang lama, dan akhirnya berujung pada keputusan ingin melanjutkan atau menghentikannya.

Maka, begitu juga dengan pemikiran, perlukah seorang wanita memiliki standar untuk pria dalam hidupnya, terutama jika hubungan yang dijalani ke depannya akan serius. Jelas saya katakan, "SANGAT PERLU..."

Ditambah lagi kenyataannya hingga saat ini saya belum pernah mendengar ada seorang yang berkata, "Saya mau pacaran sama siapa saja. Tak peduli dia baru membunuh orang tadi malam atau baru masuk atau keluar dari penjara. Saya mau dengannya..." Tolong selamatkan dan bangunkan teman Anda yang berkata demikian :)

Sehingga, kalau penting untuk memiliki kriteria, pertanyaannya sekarang, "Apa standar/kriteria yang harus ada?" 
Nah, untuk menjawab pertanyaan ini, saya kira hanya Anda yang bisa menjawabnya, karena... 

Semua bergantung dari seberapa baik Anda mengenal diri sendiri

Jika Anda memahami diri sendiri dengan baik, tahu persis apa yang Anda suka dan tidak, apa yang ingin Anda raih ke depannya atau tidak, maka pria yang memiliki standar/kriteria tersebut, ia akan mendukung, bahkan membantu Anda menuju ke sana. Dan itu semua dapat terjadi akibat pengenalan diri Anda sendiri...

Ibarat sebuah pengukuran, kita akan terbiasa menempatkan sesuatu berdasarkan urutannya. Beberapa berkata, "Yang terutama: Seiman". Yang lainnya, "Sudah mapan dan cinta keluarga." Ada juga yang berujar, "Yang penting: Dia dewasa. Jika sudah duda/janda, tidak apa." Well, untuk ketentuan ini saya akan bebaskan Anda berpikir. Karena, lagi, hanya Anda yang dapat menjawab dan menentukannya.

Tapi bagi saya yang terpenting, alangkah baiknya kalau Anda memiliki standarnya dulu, terlepas seperti apa urutan/tingkatnya nanti buat Anda. Jangan terbalik, Sahabatku...

Di sebuah acara eliminasi atau kompetisi, tidak pernah kita lihat sebaliknya. Mulai dari: Top 1, Top 5, Top 10, Top 40, dst --> No, tidak pernah terjadi demikian. Selalu dimulai dari banyak menjadi sedikit: Top 20, Top 10, Top 5, Top 3, akhirnya pemenang Top1. 


Begitu juga dalam menentukan standar/kriteria pria untuk Anda. Adalah normal kalau Anda memiliki standar/kriteria yang sangat banyak di awal. Ini tidak buruk, justru pertanda Anda sangat mengenal diri sendiri dengan baik. Tapi pada akhirnya, Anda akan mulai menempatkannya dalam Top 10, Top 5, Top 3. Justru bukan tak mungkin urutannya jadi berganti, yang tadinya prioritas turun ke nomor 2, yang tadinya ada menjadi Anda buang karena ada yang lebih penting.

Jadi, Sahabtku, hanya Anda yang dapat membuatnya terlalu tinggi atau terlalu rendah. Harapan saya, teruslah bijak dalam menentukannya karena ini tentang masa depan Anda. So obviously, you must think about it so serious...


Buku "Are You Still 'Single'?" masih:
Harga Promosi Rp 58.000,- s/d pembeli ke-500
Jika membeli 9 buku, gratis 1 buku untuk kamu
Dapat dikirim via pos

For order, please contact me: 08159878975
WA: 081805509562. Email: evelyne.priscilla@gmail.com

29 Agustus 2014

Apa saja kata Mereka? (Bagian 2)


Suatu kali,
saya pernah memberikan pertanyaan ini kepada sebanyak mungkin teman wanita yang masih lajang dan saya kenal karib, 
"Menurut kamu, why are you still single so far?"
Dari sinilah saya memperoleh 10 jawabannya.
Dan akhirnya menjadi ide dasar (atau kerangka karangan) 
dari buku pertama saya.
Check it out!


5. "Masih banyak hal yang lebih penting"
Maksudnya di sini adalah bicara tentang fokus. Para wanita ini lebih memilih untuk membiayai sekolah adik-adiknya terlebih dulu atau menjadi tulang punggung keluarga, maupun berkarier, ketimbang punya pacar. Bahkan, di antara mereka ada juga yang telah terikat kontrak dengan perusahaan tempatnya bekerja hingga beberapa waktu ke depan untuk tidak menikah. Sehingga, berpacaran atau menikah masih bisa ditunda, setidaknya sampai keadaan menjadi lebih baik. Lagipula, kalau pacaran dan menjadi tulang punggung keluarga dijalani bersamaan, belum tentu hasilnya maksimal, bisa-bisa malah berantakan. Jadi, memang lebih baik fokus satu-per-satu.

6. "Baru saja putus, pernah batal menikah, atau bercerai sebelumnya"
Saya bersimpati saat mendengar para wanita ini bercerita tentang kisah hidup percintaannya, sekaligus juga merasa kagum menyaksikan kegigihan mereka untuk tidak menyerah, apalagi menjadi korban trauma. "I won't give up loving somebody," demikian kata mereka. Hanya saja pada kenyataannya, perkataan ini tidak semudah yang diucapkan mulut. Walau telah berpisah dua minggu atau satu tahun, tiga tahun lamanya, keadaannya tidaklah berbeda. Mereka masih memendam perasaan terhadap si mantan dulu, bahkan semakin berlarut-larut memikirkannya. Sehingga, setiap kenangan membawa mereka ke masa lampau kembali, mengakibatkan perasaan sedih ataupun tidak berarti muncul. 

Sudah menjadi sifat dasar wanita (memang) lebih sering menggunakan perasaannya ketimbang pikiran. Hal ini membuat wanita lebih sulit melupakan dibanding pria.

7. "Pernikahan itu sesuatu yang serius bagiku"
Pernikahan memang merupakan hal yang serius dan bukan main-main (permainan). Dibutuhkan kesadaran penuh untuk melalui tiap prosesnya. Setiap wanita tentu mendambakan pernikahan, namun pernikahan seperti apa yang diharapkan. Pernikahan adalah kerja keras, di mana Anda dan pasangan tidak akan mendapat cuti, kendatipun hanya satu hari. Sebagaimana ditulis Santo Aboeprajitno dalam Fatwa Cinta, "Pernikahan itu ibarat sekolah seumur hidup untuk belajar mencintai pasangannya."

Pernikahan dapat diartikan sebagai tiket sekali jalan, yang hanya ditujukan bagi "Orang dewasa" BUKAN "Anak-anak." Itu sebabnya, kita perlu memandang nilai diri kita dengan serius, serta memahami urutan yang sepatutnya terjadi dalam sebuah hubungan. Anda harus menghormati diri sendiri dan memperlakukannya secara istimewa, karena memang begitulah adanya diri Anda. 

8. "Mungkin karena aku sudah punya segalanya, pria jadi takut berhubungan denganku"
Jawaban ini malah keterbalikan dari jawaban pertama. Kelompok wanita yang menjawab demikian, justru berpenampilan lebih sederhana. Mereka lebih memilih naik busway dibanding mengemudi mobilnya sendiri. Kalau pun berkendara, mereka akan memilih mobil kantor yang relatif kuno, daripada mobil matic (milik pribadi) yang tentunya lebih memberi kenyamanan, terutama di tengah kemacetan lalu-lintas. 

Saat melihat penampilan mereka, sepertinya tidak ada yang mengira kalau pribadi/diri mereka bisa menakutkan pria untuk menjalin hubungan. Mungkin saja pria akan berpikir sama seperti saya, Wanita-wanita ini begitu sederhana. Namun nyatanya, sejumlah wanita di luar sana masih berpikir sebaliknya.

9. "Karena laki-laki itu bodoh dan aku sudah lelah berhubungan dengan mereka"
Jawaban kali ini mengingatkan saya akan sebuah cerita di buku "More Taste Berries for Teens" karya Bettie B Young, Ph.D., Ed.D. dan Jennifer Leigh Youngs. Ada seorang gadis yang putus hubungan karena curiga pacarnya berselingkuh. Setiap hari ia dan teman-temannya menjelek-jelekkan sang mantan, juga wanita yang diduga selingkuhannya itu, hingga suatu hari ia mengetahui bahwa semuanya hanyalah gosip belaka. Ia merasa sangat bersalah dan buru-buru meminta maaf. Dengan perasaan bodoh akibat memercayai gosip begitu saja lantaran emosi, ia berkata pada teman-temannya, "Mulai hari ini, jangan ada lagi kata-kata buruk mengenai mereka. Maksudku, siapa sih aku ini? Jelas-jelas perbuatanku jauh lebih buruk. Aku memang sudah minta maaf, tapi rasa malu ini sepertinya tidak akan pernah hilang."

10. "Wah, tidak tahu deh kenapa aku masih jomblo sampai sekarang"
Kemudian, ia justru balik bertanya ke saya, "Menurut kamu kenapa?"


HAPPY READING *wink

22 Agustus 2014

Apa Saja Kata Mereka? (Bagian 1)


Suatu kali,
saya pernah memberikan pertanyaan ini kepada sebanyak mungkin teman wanita yang masih lajang dan saya kenal karib, 
"Menurut kamu, why are you still single so far?"
Dari sinilah saya memperoleh 10 jawabannya.
Dan akhirnya menjadi ide dasar (atau kerangka karangan) 
dari buku pertama saya.
Check it out!

Menyadari pertanyaan tersebut bersifat pribadi dan agak sensitif, maka saya menggunakan "Prinsip Garam" yang pernah saya baca dalam sebuah buku berjudul, "For Better or For Best Understanding Your Husband (Alasan Tersembunyi Mengapa Pria Berperilaku Tertentu)" ditulis oleh Dr. Gary Smalley. Buku yang ditujukan bagi kaum Hawa ini, menyodorkan sebuah prinsip menarik, yakni sifat garam yang pada dasarnya membuat orang haus. Menurut Dr. Gary, sebuah hubungan harusnya berhasil menciptakan dahaga akan percakapan yang membangun antara dirinya sendiri dengan orang lain. Sehingga hasilnya, masing-masing individu dapat mempelajari kebutuhan lawan bicaranya dengan baik. Well, saya sangat setuju...

Ibarat melakukan sebuah wawancara, Anda tidak akan pernah dipersiapkan banyak pertanyaan, melainkan hanya 3 atau 4 pertanyaan saja, di mana selebihnya harus Anda gali sendiri melalui pernyataan para narasumbernya, sambil memperhatikan dengan seksama setiap jawabannya. Karena dari situlah biasanya muncul penjelasan yang jujur. Ya, Anda hanya perlu mendengarnya dengan lebih cermat...

Untuk hal ini, gaya Oprah Winfrey maupun Najwa Shihab bisa dijadikan contoh. Menurut saya, mereka menggunakan prinsip garam saat mewawancarai narasumbernya. Terlihat sekali rasa haus yang sangat akan setiap jawaban narasumbernya. Tak henti-henti mereka melontarkan pertanyaan hingga semua menjadi jelas. Sampai-sampai penonton di studio ataupun di rumah ikut terhanyut merasakan suasananya.

Dengan cara yang sama, pertanyaan di atas saya ajukan. Akhirnya, diperoleh 10 jawaban yang diberikan oleh para wanita yang berani dan luar biasa ini:

1. "Mungkin karena aku sudah tidak cantik lagi"
Awalnya, merasa bingung juga mendengar jawaban ini keluar dari mulut mereka. Sebabnya, mereka termasuk wanita yang sangat cantik dan menarik. Sejujurnya, andai saya ini pria, tentu akan berpikir untuk mengejarnya. Mereka merupakan para wanita sophisticated yang penuh gaya dan hebat, lengkap dengan ciri-ciri: Menjinjing tas branded terkenal, sepatu tumit tinggi beralas merah, senyuman yang ramah, sikap yang akrab namun sopan, gadget yang selalu on, juga pekerjaan hebat yang dapat menunjang segalanya. Sungguh mengagumkan, bukan?

Namun, ketika pembicaraan berlanjut, saya baru mengerti alasannya, ternyata, "Aku merasa bingung saja. Padahal sudah seperti ini (sambil menunjuk dirinya sendiri), tapi kok belum laku ya? Padahal umur bertambah terus. Apakah karena kecantikanku sudah luntur?"

2. "Belum menemukan orang yang tepat"
Ini menjadi jawaban paling banyak yang diberikan. Saking banyaknya, juga karena "sedikit bosan" mendengar jawaban yang sama berulang-ulang, saya memutuskan memberi pertanyaan tambahan, "Lalu, apakah kamu sudah tahu standar atau kriteria pria yang kamu inginkan?"

Beberapa menjawab, "Tentu saja. Aku mau dia begini...begitu... Dan seterusnya," dengan bermimik muka penuh keyakinan, sampai-sampai saya pun ikut merasakan semangatnya, yang terpenting ia sudah mengetahui apa keinginannya. Lalu, ada juga yang menjawab dengan standar-standar, "Seiman. Baik. Ganteng. Sayang keluarga. Sayang saya. Pengertian. Dewasa. Kaya... Dan sebagainya." Namun, ada juga yang malah mengangkat bahunya sambil geleng-geleng kepala. Yah, Anda tentu mengerti maksudnya, bukan?

3. "Akunya saja yang belum mau. Santai saja"
Waktu mendengar jawaban ini, sempat terbersit pertanyaan dalam hati saya, Hmm, mau sampai kapan santainya? Kalau hanya sampai esok hari, mungkin saya tidak terlalu mengkhawatirkannya, walau kemudian sempat terganjal pikiran juga sih, "Kenapa harus santai sampai besok kalau sebenarnya bisa dimulai hari ini?"

4. "Masih muda. Masih banyak yang ingin aku lakukan"
Entah apa yang mendasari mereka menjawab demikian. Apakah mereka sungguh-sungguh merasa masih muda sehingga ibarat berkata, "Don't tell my age, I know that. But somehow, I still feel young and always excited for new things." 

Atau, mungkinkah dikarenakan ketidaksiapan mereka, "Mumpung masih muda, rasanya sah-sah saja bersenang-senang dulu." Akhirnya mereka tidak membuat rencana, tidak mengatur waktu, tidak peduli. Mereka melakukannya semata-mata akibat sikap yang belum siap berkomitmen, sehingga tidak tahu ke arah mana hubungan yang sedang dijalankannya, bagaimana kelanjutannya, dan tidak berusaha mempersiapkannya juga. Mereka menjalani hari demi hari begitu saja, hanya mengisinya tanpa mengetahui dengan jelas tujuan memilih pria tersebut, alasan melakukan rutinitas tertentu. Dan sebagainya.

5. "Masih banyak hal yang lebih penting"

...to be continued...