Tampilkan postingan dengan label Cerpen-Cerbung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen-Cerbung. Tampilkan semua postingan

05 Februari 2016

CERBUNG: "Sejak Pertama kali Bertemu di Jalan Tol" (Bagian 3)

---Lanjutan minggu lalu---

   DUA MINGGU KEMUDIAN
   "Gila, cantik banget dia. Kulitnya putih. Rambutnya diikat samping. Badannya juga langsing. Dan kakinya kecil pula. Tampak cantik dengan sepatu high heels putihnya. Gua harus melakukan sesuatu," Garry bicara sendiri. "Ya, gua harus melakukan sesuatu." Ia pun segera mematikan mesin mobil, merapikan rambut dan kemejanya. Lalu keluar dari mobil, merasa bingung dan sedikit gugup, tidak tahu harus berkata apa. Akhirnya, ia membuka pintu bagasi mobil, merapikan barang-barang di dalam tas gym yang nyata-nyata tidak berantakan itu.

   Tak berapa lama, Garry mendengar bunyi suara alarm mobil di sampingnya. Garry mendongakkan kepala sejenak. Cewek itu sedang berjalan menuju mobilnya, sambil membuka dompet, merapikan struk kertas dan lainnya. Tiba-tiba angin bertiup agak kencang, membuat rok putih cewek itu tersingkap, juga menerbangkan dua lembar uang berwarna biru. Ia sempat berteriak kecil. Dengan sigap, Garry menangkap uang yang sedang beterbangan itu. Satu lembar berhasil diraihnya, tapi yang satunya lagi membuat Garry sampai merangkak untuk mengambilnya. Ketika dua-duanya berhasil diraih, Garry membalikkan badan. Dan ternyata, cewek itu sudah berdiri tak jauh dari mobil Garry. Ia sudah merapikan rambut dan roknya. "Wah, terima kasih," ia tersenyum lembut.
   Garry berjalan mendekatinya hingga mereka berhadapan sekarang, "My pleasure..."
   "Thank you sampai dikejar gitu..."
   "Hahaha... Tidak apa. Anginnya memang sedikit nakal ya."
   "Iyah nih," balasnya.
  "Ini uang kamu." Garry menyerahkan dua lembar yang dikejarnya dengan susah payah tadi kepada tangan kecil cewek itu. Sekilas, ia mencium harum bunga mawar. Harum sekali dia, ujar Garry dalam hati.
   Cewek itu mengambil dengan lembut uangnya, mencoba memasukkannya ke dalam dompet, sambil berujar, "Oke. Sekali lagi terima kasih ya. Yukk duluan..."
   Garry, dia akan berlalu. Ayo pikirkan sesuatu. Lakukan sesuatu, lakukan sesuatu! Cepat! Perintah dirinya sendiri dalam hati. Garry lalu memanggilnya, "Tunggu." Cewek tersebut sudah membuka pintu mobilnya. Tercium oleh Garry semerbak wangi bunga mawar. 
   "Yah?" tanya cewek itu.
   "Sori, tapi apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"
   Cewek itu terdiam sejenak, lalu menjawab "Hmm, sepertinya belum."
   "Oh gitu ya, sori... Soalnya saya merasa seperti pernah melihat kamu," ujar Garry berdusta.
   "Hmm..." Cewek itu merapikan rambutnya sejenak, lalu melihat sekilas mobil Garry. "Tapi saya pernah lihat mobil kamu sebelumnya."
   "Mobil saya?"
   "Iyah, beberapa kali malah," katanya sambil tersenyum.
   "Oh ya?"
   "Yah, mobil Suzuki Outlander warna putih dengan stiker setengah badan Baymax yang sedang melambai. Di belakang kaca mobil kamu..." Garry tersentak dengan ucapan cewek itu. "Saya sangat suka film Big Hero 6. Yah, kamu bisa melihatnya juga kan?" lanjutnya, menunjuk gantungan boneka Baymax yang telah beberapa kali menjadi penunjuk Garry.
   Garry tersenyum. Ia pun menoleh ke kaca belakang mobilnya, karena apa yang dikatakan cewek ini sangat tepat. Dilihatnya cewek tersebut masih tersenyum padanya. "Sama... I love Big Hero 6 so much... Soalnya saya juga agak sedikit nerd," ujar Garry akhirnya berhasil mengeluarkan suara setelah terdiam beberapa detik tadi. Mereka tertawa berbarengan.
   "Yeah, saya nerd versi baca buku," ujar cewek itu tersenyum.
   "Dan saya nerd versi teknologi. Berhubungan dengan pekerjaan sebagai EO."
   "Wow..."
   "Dan nggak cuma Big Hero 6. I love all animation movies, 3D, sound effects..."
   "Yap, saya juga..."
   "Kamu juga?" tanya Garry sambil berjalan mendekati cewek itu.
   "Yes, I do... Tapi sori saya harus jalan sekarang. Sudah hampir terlambat pergi les."
   "Oh, kamu les ya?"
   "Iya, les bahasa Inggris. Yuk duluan ya..." ujar cewek itu masuk ke dalam mobilnya, meninggalkan Garry yang masih berdiri sedikit termangu di sana. Tapi tak berapa lama, cewek itu langsung membuka jendelanya dan memanggil, "Hey, saya baru teringat dimana pernah ketemu mobil kamu? Di Puri Indah. Mau kesana juga?"
   Garry tersenyum sumringah. "Yah, begitulah."
   "Ok, kita bisa bareng," ujarnya sambil tersenyum.
   "Tentu saja." Lalu Garry langsung mengambil kesempatan, sadar bahwa ini waktunya. "Oh ya, saya Garry." Ia menjulurkan tangannya. Cewek itu menjulurkan tangannya menyambut, "Karlin."
   "Hi Karlin, nice to meet you." Karlin tersenyum. Garry pun langsung menekan tombol "Unlock" dari kunci mobilnya. Ia bergegas masuk dan duduk di balik kemudi. Ketika hendak memundurkan mobilnya, Garry melihat jari telunjuk Karlin memutar-mutar ke arahnya. Segera Garry menurunkan jendela di kursi sebelahnya, lalu mendengar Karlin berseru, "Garry, ayo, kita beriringan lagi seperti sebelumnya."
   Garry tertawa. Ia pun mengikuti mobil Mazda 2 berwarna merah itu, tak terlepas dari pandangannya. 

   SATU MINGGU KEMUDIAN
   "Halo Karlin, sudah siap?" tanya Garry lewat telepon genggamnya.
   "Halo... Almost..."
   "Hahaha... It's ok, take your time. Sudah di depan rumah kamu."
   "Ok. Aku turun sekarang."
   "Lho, tadi katanya almost?" kata Garry tersenyum. 
   "Iyah, hampir selesai menyisir rambut. Dan sekarang tinggal turun..."
   "Hehe... Ok, bye..." jawab Garry masih memegang telepon genggamnya. "Bye..." balas Karlin, "Mama aku pergi dulu..." Garry mendengar suara Karlin sedang meminta ijin sebelum menutup teleponnya. Ia langsung merapikan dirinya. 
   Dilihatnya Karlin keluar mengenakan gaun bermotif bunga. Anggun sekali cewek ini, pujinya dalam hati. Garry pun turun dari mobilnya, sedikit berlari ke arah kursi penumpang untuk membukakan pintu buat Karlin. Garry menyempatkan diri memuji Karlin, "You look beautiful as always, Karlin..." sambil tersenyum. 
   "Thank you and thank you," jawab Karlin sambil masuk ke mobil putih Outlander Garry.
   Garry menutup pintunya pelan, lalu berjalan ke arah pintunya sendiri. Setelah duduk di balik kemudia, ia bertanya, "Siap?"
   "Tentu saja. Kamu sudah tahu kan mau kemana," jawab Karlin sambil mengenakan sabuk pengaman."
   "Yes, tentu saja..."
   "Dan kamu tahu juga kan dimana?" tanya Karlin tersenyum. Garry memandangnya sambil tersenyum juga. "Yes, ma'am. Ke belakang ruko Puri Indah tempat aku tertinggal."
   Mereka pun sama-sama tertawa. Garry mulai menjalankan mobilnya, sambil memandang mobil merah Mazda 2 yang terparkir rapi di depan rumah Karlin. Istirahat ya kali ini, aku tidak perlu mengejar-ngejar kamu lagi, kata Garry dalam hati.

---SELESAI---

11 Januari 2016

CERBUNG: "Sejak Pertama kali Bertemu di Jalan Tol" (Bagian 2)

---Lanjutan minggu lalu---

   SATU MINGGU KEMUDIAN
   Garry meninggalkan rumahnya untuk bekerja kembali. Bedanya hari ini, ia sedikit antusias, juga membawa harapan. "Jam yang sama seperti minggu lalu. Mudah-mudahan ketemu lagi," ujarnya dengan suara cukup keras, bagai seorang sedang berjanji.
     
   Memasuki jalan yang sama, dengan cermat Garry melihat ke kanan dan ke kiri dari balik kemudinya. Ia pun juga tidak berjalan cepat-cepat, santai saja. Gila, seminggu ini cewek itu nggak bisa gua lupain. Mobil Mazda 2. Matanya. Pipinya, hidungnya, rambutnya walaupun hanya terlihat dari belakang. Lalu tangannya yang kecil. Gua memikirkannya terus. Kenapa ya? Apa dia jodoh gua? Suara hatinya bicara cukup keras, sampai-sampai bisa terdengar suara degup jantungnya sendiri.
   Tak berapa lama, tampak jalanan macet di depan. "Hah, macet!? Pasti gara-gara bayar tol nih," keluh Garry. Dengan terpaksa ia ikuti juga antrian panjang kemacetan tersebut. Di saat sedang mengantre, sekilas Garry melirik kaca spionnya. Sungguh kaget bukan kepalang, di belakang adalah cewek si Mazda 2 merah itu... Garry sampai menoleh ke belakang untuk memastikan penglihatannya. Benar, mobil Mazda 2 cewek itu. Ia langsung membetulkan letak kaca spionnya agar semakin mudah melihat ke belakang. "Yes, that's her... Itu benar-benar dia. Makasih Tuhan. Akhirnya ketemu lagi," soraknya sendiri di dalam mobil.
   Setelah itu, tak henti-hentinya Garry melihat kaca spion. Dan sekarang ia seperti diyakinkan, ya, cewek ini memang cantik. Rambutnya sebahu, mengenakan atasan bunga-bunga. Di tangannya ada satu keping CD. Ia sedang menggantinya. Dan kemudian, mengangguk-anggukkan kepalanya. Hahaha, persis seperti minggu lalu. Hanya saja kali ini pemandangannya tepat berada di belakang. Jadi gua bisa melihatnya dengan bebas. Rasa puas membara di hati Garry, membuatnya tak memperhatikan jalan. Ketika melihat ke depan, jarak mobilnya dengan mobil depan sudah cukup jauh. Dengan perasaan malu, ia memajukan mobilnya pelan, namun pandangannya tetap tak lepas dari mobil Mazda 2 di belakang.
   Mendekati pintu tol Karang Tengah, Garry melirik kaca spionnya lagi, seumpama seorang gentleman yang membuka jalan bagi gadisnya, demikian Garry menyalakan lampu dim sebelah kanannya, menuju pintu tol GTO paling kanan yang masih sepi. Ia senang sang gadis mengikutinya begitu saja.
   Garry sengaja membuka jendelanya kepagian, lalu mengeluarkan wajahnya untuk dapat melihat ke belakang. Tatapan matanya bertepatan dengan pandangan mata cewek itu. Garry sempat tersenyum sekilas, lalu menempelkan kartu e-toll ke mesin GTO. Ketika pintu palang terbuka, Garry melajukan mobilnya, namun tidak cepat-cepat. Ia sedang menunggu mobil merah di belakang. Tak berapa lama ia melihat pintu palang naik, cewek itu berjalan maju. Garry mempersilahkan mobil merah itu melewatinya, kemudian dengan buru-buru ia mendekatkan mobilnya lagi. "Kali ini gua harus tahu dia kemana. Akan gua ikutin," ucap Garry memenuhi rasa ingin tahunya seminggu kemarin. 
   Mobil merah itu menyalakan lampu dim sebelah kiri, berjalan pelan ke arah pintu keluar tol Kembangan. Garry mengikuti dari belakang. Mobil mereka masih beriringan hingga lampu merah. Lagi-lagi dari belakang, Garry melihat dua orang pengamen mendekati mobil Mazda 2 di depannya. Mereka terus saja memetik gitar bututnya. Padahal dengan jelas Garry melihat tangan cewek tersebut melambai, menadakan 'Tidak.' Tapi dua pengamen itu terus tersenyum. Bahkan mengganti lagunya menjadi, "Cantik... Ingin rasa hati berbisik..." dendangnya dengan suara yang sumbang, tak enak didengar. Merasa kesal melihat kejadian tersebut, Garry menekan klakson, membuyarkan pandangan keduanya, disangka mereka sudah lampu merah padahal belum. Akhirnya, mereka mundur, menjauhi mobil cewek tersebut, menuju mobil di sebelahnya.
   Lampu merah pun berubah ke warna hijau. Semua mobil mulai maju sedikit-sedikit, tak terkecuali mobil Garry dan mobil Mazda 2 di depannya. Setelah melewati lampu merah, Garry melihat lampu dim mobil merah berkedip-kedip ke arah kanan, Garry menyalakannya juga. Mereka sudah putar balik, melewati lampu merah Puri Indah, Mal Puri Indah, lalu berbelok di ujung jalan. Di sebelah kiri adalah Carrefour Puri Indah dan di sebelah kanan adalah pintu tol masuk Kembangan. Hmm, mau kemana ya dia? Garry mulai bertanya-tanya dalam hati.
   Mendadak, Garry dikagetkan oleh dering telepon genggamnya. Buru-buru ia mengangkat, "Halo?" jawabnya sedikit berteriak.
   "Pak Garry, ada dimana? Pak Andre sudah mau sampai, Pak," terdengar suara Eko dari kejauhan.
   Garry melihat jam tangannya. Ia sudah melalui perjalanan 15 menit jauhnya dari arah biasa ke kantor. "Saya masih dalam perjalanan, Eko. Tadi sempat terkena macet di pintu tol Karang Tengah," jawab Garry, sambil terus mengikuti mobil Mazda 2 itu hingga masuk ke Perumahan Puri Indah, melewati sekolah Notredame.
   "Baik, Pak," jawab Eko sopan.
   "Tolong sampaikan permintaan maaf saya. Tapi sebentar lagi saya akan sampai kok."
   "Baik, Pak."
   "Makasih ya," Garry langsung memutuskan percakapannya dengan Eko. Kali ini, mobil Mazda 2 menyalakan lampu dim kanannya. "Ok, mau belok kanan atau putar balik dia?" Garry bertanya sendiri. Ternyata, putar balik dan kemudian membelokkan setir ke arah kiri. Garry agak mengenali jalan ini. Ini arah ke Pasar Puri. Dulu, ia punya teman yang tinggal di perumahan Taman Permata Buana, tak jauh dari jalanan dan perumahan ini. 
   Meski telah mengetahui lokasinya dimana, dengan lincah, Garry terus mengikuti mobil cewek itu. Ia merasa seperti sedang konvoi mobil dengan teman-teman prianya, melihat gaya menyetir cewek ini serupa cowok. Kemudian, mobil Mazda 2 telah melewati sekolah Ipeka di sebelah kanannya, berjalan terus, hingga tiba-tiba ia belok kiri mendadak, masuk ke jalan kecil di sebelah Ruko Puri Indah. Garry terhenyak. "Wah, mana bisa gua belok mendadak begitu. Oh no, gua tertinggal lagi dari cewek itu," ucap Garry. 
   Garry hanya bisa melewati belokan itu dengan muka memelas. Masih terlihat mobil merah itu tengah berbelok ke kiri, tepat di belokan pertamanya. Garry terpaksa terus berjalan lurus, menuju tempat tujuan awalnya, yaitu kantor. Tapi kali ini ia tersenyum lebar. Tidak mengecewakan kok. Setidaknya hari ini gua tahu dia kemana. Pasti ke rumah di belakang ruko ini. Yah, tidak jauhlah dari kantor gua. Sejalan juga kok. Tidak apa, ini kemajuan, batinnya. "We'll see next week," seru Garry sedikit bergelora. 

   SATU MINGGU KEMUDIAN
   Semenjak bangun di pagi hari, Garry sudah seperti orang yang terisi penuh baterainya. Dengan penuh semangat, ia mengeluarkan mobil dari garasi rumahnya di waktu yang sama dengan minggu lalu, juga dua minggu sebelumnya. Ia yakin, Tuhan akan membantunya kali ini. Lagipula gua sudah tidak masuk kantor lagi kok. Hari ini demi cewek itu, batinnya.
   Ia tersenyum sumringah. Minggu lalu sungguh luar biasa. Sudah berhasil mengetahui tujuan cewek itu, acara Grand Opening kantor pun berjalan lancar. Tak habis-habisnya gua dan tim dipuji Andre, pemilik saham, juga pemilik perusahaan, Bapak Jimmy. Hari Sabtu yang indah, suara hatinya bicara puas. "Dan hari ini juga pasti akan menjadi seindah minggu lalu, bahkan lebih baik," teriaknya. Di pikirannya sudah terkumpul banyak rencana. Salah satunya, Garry berencana ke jalanan Puri Indah itu. Dan mungkin saja ia akan berbelok, memasuki jajaran rumah di belakang ruko Puri Indah. Tapi hal itu belum diputuskannya. Takut disangka mau rampok lagi, berhenti di depan rumah orang sembarangan. Atau, dia akan coba masuk ke ruko Puri Indah dan memarkirkan mobilnya tak jauh dari pintu keluar. Yah, lihat nanti sajalah...
   Ketika sedang asyik berpikir, Garry terkaget-kaget ada mobil yang menyalipnya dari sebelah kiri. Ia sempat mengeluarkan suara, "Wow..." Tapi langsung ngeh kalau yang melewatinya itu mobil Mazda 2 berwarna merah. Buru-buru ia membuntuti. Mudah-mudahan ini dia, mudah-mudahan, harapnya dalam hati. Dan ternyata benar, ia sudah melihat boneka Baymax yang berayun-ayun cepat, juga stiker mobil 'Don't worry, be happy.' Garry langsung berteriak riang, "Yes, ketemu... Thanks God." Ia pun mulai melongo lewat kaca depan mobilnya, berusaha melihat si pengemudi. Dengan penuh harap, ia akhirnya berujar, "Yes, positive. It's her." Garry terus mendekatkan mobilnya ke mobil Mazda 2 di depan. Kali ini akan gua ikuti terus dia, batinnya berikrar. Tak diduga, mobil Mazda 2 itu menyalakan lampu dim sebelah kiri. "Ow ow, dia mau kemana? Oh, mau ke Rest Area ya. Bagus..." ujar Garry.
   Memasuki Rest Area, mobil Mazda 2 itu langsung menyalakan lampu dim sebelah kanan, berbelok ke deretan tempat-tempat makan dan istirahat. Ia melaju pelan, sampai akhirnya memarkirkan mobilnya di depan toko Seven Eleven. Garry melihat di samping mobil merah itu masih kosong, selekas mungkin ia memarkirkan mobilnya di sebelah. Kemudian, Garry melihat pintu mobil Mazda 2 terbuka dan keluar cewek berpakaian dress warna putih lengan panjang. Melihat dari samping jendela penumpangnya, Garry terkesima. "Astaga, ia cantik sekali, sangat cantik malah," gumamnya takjub. Sampai-sampai Garry masih melanjutkan pandangannya dari kaca spion, melihat gaun putih cewek itu beterbangan sedikit tertiup angin. Cewek Mazda 2 itu masuk ke dalam ATM Center yang terletak di belakang mobil mereka. 
   "Gila, cantik banget dia. Kulitnya putih. Rambutnya diikat samping. Badannya juga langsing. Dan kakinya kecil pula, tampak cantik dengan sepatu high heels putihnya. Gua harus melakukan sesuatu," Garry bicara sendiri. "Ya, gua harus melakukan sesuatu." Ia pun segera mematikan mesin mobil, merapikan rambut dan kemejanya. Lalu keluar dari mobil, merasa bingung dan sedikit gugup, tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya, ia membuka pintu bagasi mobil, merapikan barang-barang di dalam tas gym yang nyata-nyata tidak berantakan itu. 
   Tak berapa lama, Garry mendengar bunyi suara alarm mobil di sampingnya. Garry mendongakkan kepala sejenak. Cewek itu sedang berjalan menuju mobilnya, sambil membuka dompet, merapikan struk kertas dan lainnya. Tiba-tiba angin bertiup agak kencang, membuat rok putih cewek itu tersingkap, juga menerbangkan dua lembar uang berwarna biru. Ia sempat berteriak kecil. Dengan sigap, Garry menangkap uang yang sedang beterbangan itu. Satu lembar berhasil diraihnya, tapi yang satunya lagi membuat Garry sampai merangkak untuk mengambilnya. Ketika dua-duanya berhasil diraih, Garry membalikkan badan. Dan ternyata, cewek itu sudah berdiri tak jauh dari mobil Garry...

---Bersambung---

27 Desember 2015

CERBUNG: "Sejak Pertama Kali Bertemu di Jalan Tol" (bagian 1)

“Iya, kamu telepon dulu tukang tendanya… Iyah, benar… Pak Ricky. Bilang saja ditunggu saya di kantor, sebelum makan siang… Yah, bolehlah jam 11 pagi… Oke? Oke. Makasih ya Eko…” Garry menutup teleponnya.

Huh, malas banget hari ini. Hari Sabtu biasanya gua libur. Ini gara-gara acara Grand Launching kantor hari Sabtu depan. Huh!? Garry ngedumel dalam hati. Ia sedang menyetir mobil kantornya, sengaja menjalankannya pelan-pelan, tak sampai kilometer 60, sambil menyalakan lampu dim belok kiri, memasuki jalan tol bebas hambatan ke arah tol Karang Tengah. Tak berapa lama, ada mobil Mazda 2 menyalip dari sebelah kanan mobil Garry. Ia sampai berseru karena kaget, “Woww…” Mobil itu berwarna merah dan terlihat oleh Garry gantungan boneka Baymax dari film kartun 'Big Hero 6' di belakang kaca mobilnya bergoyang-goyang. Garry menggeleng-gelengkan kepala, “Berani juga tuh orang” gerutunya. 

Garry terus mengemudikan mobilnya sampai dengan Rest Area KM 14 menuju pintu tol Karang Tengah. Jalanannya mulai tersendat, alias macet. Garry menghembuskan napas tanpa mengeluarkan suara. Ia meraih telepon genggamnya dan melihat ada e-mail masuk. Ternyata undangan rapat dengan Pak Ricky jam sebelas nanti. Ia menaruh kembali telepon genggamnya, lalu menengok ke kiri dan kanan. Hingga baru menyadari bahwa di depannya adalah mobil Mazda 2 warna merah yang menyalipnya tadi. “Ehh, ketemu lagi…” ujarnya. Boneka Baymax yang tertempel di kaca mobil belakang sekarang terlihat jelas. 

Diam-diam, Garry sedikit memperhatikan mobil tersebut dengan saksama karena kaca film-nya tidak gelap-gelap amat. Ia melihat pengemudinya berambut panjang, sedang mengangguk-anggukkan kepala, seperti sedang mengikuti beat lagu. Mungkin dia lagi mendengarkan lagu cepat, sampai kepalanya ikut-ikutan gitu, batin Garry. Dan ternyata cewek ini sendirian, tidak ada penumpang di samping ataupun belakangnya, lanjutnya dalam hati. Di tengah dashboard, tampak pewangi mobil kaca berbentuk bunga mawar warna merah muda yang anggun. Di kaca belakang mobilnya tertempel stiker “Don’t Worry, Be Happy”. Mungkin ia adalah klien Garda Oto, tebak Garry menyebut slogan perusahaan asuransi tersebut. Selain itu, juga ada stiker logo Mazda di tengah kaca bagian atasnya.

Sekarang, Garry melihat tangan pengemudi mobil Mazda 2 itu sedang memegang roti. Ohh, dia sambil makan rupanya, kata Garry dalam hati. Tiba-tiba saja ia merasa lapar. Maklum, nasib bujang belum menikah. Di rumahnya tidak ada persediaan makanan. Biasa rumah Garry akan dibanjiri makanan ketika orang tuanya berkunjung dari Bandung. Lemari pendinginnya akan dipenuhi tumpukan kotak makan Tupperware, dari makanan manis hingga lauk-pauk yang cukup untuk mengisi perut tiga orang atau dirinya sendiri sampai empat hari ke depan. Yah, namanya juga anak tunggal yang tinggal jauh dari ibukota, sedikit –hanya sedikit lho– dimanjakan. Tapi di kantor Garry terlihat seperti atasan yang sudah berumah tangga. “Mau apa lagi, wong, gua juga sudah nggak muda,” ujarnya pasrah. “Belum ketemu jodoh, bro, semenjak putus sama Icha.”

“Icha, mantan loe yang pramugari itu?”

“Yap, dia…”

“Kenapa emangnya?” tanya atasannya, yang kebetulan juga teman masa kuliah dulu, Andre.

“Keseringan pergi dia. Heran gua, kayak nggak ada pramugari yang lain saja. Dia terus yang pergi. Capai saja gua malam mingguan sendiri terus, seperti long distance relationship gitu. Padahal kagak. Rumah juga dekat, cuma memang jarang ketemu kita. Boro-boro date, ketemu saja mungkin cuma bisa dua kali sebulan.”

“Wah, nggak enak juga ya.”

“Begitulah, Ndre… Kalau kata gua sih, tidak ada prioritas. Susah juga kan kalau gua saja yang fokus, tapi dari sisi dia nggak. Yah, masih muda juga sih, baru lulus kuliah. Akhirnya kita putus…”

“Sori, bro…” ujar Andre prihatin.

“Yah, masa lalu. Setidaknya gua dapat pelajaran kok, jadi nggak sia-sia juga.”

Lamunan Garry terhenti lantaran melihat pengemudi mobil Kijang di sebelah mobil Mazda 2 itu melambai-lambai, seolah-olah seperti mengenal cewek itu. Herannya si pengemudi –cewek Mazda 2 ini– tidak membuka jendelanya sama sekali. Malah terlihat dari kaca belakang, ia cuma menengok ke kiri sebentar lalu kembali menatap lurus ke depan lagi. Deretan mobil Garry pun maju mendahului mobil Kijang. Garry menyempatkan diri melihat penumpang mobil Kijang yang sekarang sudah berada di sebelahnya. Terlihat dua anak muda sedang memperlihatkan ibu jarinya berbarengan. Lalu dari gerak bibirnya menyebutkan, “Cantik, cantik, oke.” Garry merasa sebal, “Dasar kebanyakan gaya loe.” Ia pun memajukan mobilnya lagi mendekati mobil di depannya.

Garry pun semakin mengamati, tapi memang sepertinya cewek ini cantik. Aduh, kaca spionnya menghadap dia dong, Garry berharap dalam hati. Seolah-olah bisa membaca pikirannya, cewek itu memperbaiki kaca spionnya agak ke kanan, jadi lebih mengarah ke dirinya. Sehingga, tak disengaja wajah bagian atasnya terlihat sedikit oleh Garry. Yes, kelihatan. Yeah, I think she’s beautiful. Suka deh melihat matanya. Pipinya. Hidungnya. Rambutnya walaupun hanya terlihat dari belakang. Ia masih makan sepertinya. Garry senyum-senyum sendiri. Syukurlah kaca spion tidak diubahnya lagi. Seketika, mata cewek itu melirik ke kaca spion. Tak dianyar, matanya beradu pandang dengan mata Garry. Wah, ia sedang melirik ke belakang. Garry sempat salah tingkah, walaupun sebenarnya, belum tentu cewek itu melihatnya juga. Buru-buru Garry mengambil telepon genggamnya, lalu memonyongkan mulutnya tanda bersiul. 

Wanita itu memajukan mobilnya kembali. Garry mengikuti. Lalu ia melirik lagi melalui kaca spionnya. Kali ini Garry tetap memandang ke depan. Ia tidak peduli. Ia tetap menatap cewek itu. Mobilnya dimajukan lagi dan Garry mengikutinya agar bisa mendekat. 

Tetap suka dengan matanya. Pipinya. Hidungnya. Rambutnya walaupun hanya terlihat dari belakang.

Tiba-tiba terdengar suara klakson dari mobil belakang, menghentikan lamunan Garry. Sambil berkata, “Iya, iya”, Garry memindahkan gigi mobilnya ke gigi satu, tapi ia pun baru sadar, mobil Mazda 2 belum beranjak. Jadi mobil belakang ini bukan klakson mobil gua. Dari kaca spion mobil di depannya, Garry melihat cewek tersebut menggerakkan tangan kirinya dan memajukan mobil. Ia tersenyum, apakah mungkin cewek ini tidak memperhatikan gara-gara memandangku? Garry tertawa dalam hati. 

Mobil Mazda 2 dan mobil Garry terus seperti itu sampai dengan hendak memasuki pintu tol Karang Tengah. Garry terus mempertahankan posisinya di belakang mobil cewek yang diduganya cantik itu. Dari lampu dim mobil Mazda 2, tampaknya ia hendak memasuki pintu GTO (Gardu Tol Otomatis). 

"Waduh, dia akan masuk ke GTO dan gua tidak punya kartu e-toll," Garry bergumam kecil. Ia mulai celingak-celinguk. Kalau gua nekat masuk, nanti pinjam kartunya siapa? Kan dia di depan bukan di belakang gua. Bisa-bisa gua habis di-klakson orang, dibilang, “Woi, bikin macet saja…” Kalau bayar pintu tol di sebelahnya, wah, nggak deh, belum apa-apa antrinya sudah dua kali antrian pintu GTO. Garry tampak berpikir keras. Sebabnya, ia tidak mau tertinggal dari mobil Mazda 2 ini. 

Tak berapa lama dilihatnya ada orang yang berdiri di tengah-tengah jalan, tak jauh dari pintu tol GTO, mengangkat tinggi-tinggi beberapa buah kartu e-toll. Tanpa pikir panjang, Garry membuka jendelanya dan memanggil orang itu, “Pak… Pak… Jual e-toll ya?”

“Selamat siang, Pak. Iya benar…”

“Berapa?”

“Seratus ribu rupiah saja, Pak.”

Buru-buru Garry mengeluarkan lembaran uang berwarna merah itu. Untung saja dia sempat pergi ke ATM malam sebelumnya. Dan untungnya juga, ia tidak jadi membeli paket nasi McDonalds. “Ini uangnya… Terima kasih ya,” kata Garry buru-buru, sambil tangannya menekan tombol power window ke atas. Sampai-sampai tak terdengar ucapan terima kasih dari orang penjual e-toll tersebut. 

Garry menancap gas, terus mendekati mobil Mazda 2 di depannya. Ia sempat diselak satu mobil sedan. Garry sibuk menyalakan lampu jauhnya, seperti memberi tanda, “Woi, minggir dong. Pindah… Pindah…” Mungkin merasa terganggu, mobil sedan tersebut belok mendadak ke kanan jalan. Akhirnya Garry dapat memajukan mobilnya lagi, kembali ke posisi awal sepanjang jalan tol tadi. 

Garry melihat jendela mobil Mazda 2 terbuka. Terlihat tangan cewek terjulur keluar dari jendela. Tangannya kecil, ia mengenakan gelang emas yang tipis. Cewek tersebut sempat memajukan wajahnya sedikit, sehingga terlihat dari samping oleh Garry. Hidungnya mancung. Tapi hanya sekilas. Kemudian pintu palang terbuka dan mobil tersebut melaju cepat. Garry menurunkan jendela mobilnya dan menempelkan kartu e-toll yang baru dibelinya ke mesin GTO. Ia menunggu, sesaat kemudian palangnya pun terbuka. Ia langsung melaju kencang, berniat mengebut demi mengejar mobil Mazda 2 tadi. 

Sayangnya, Garry menemukan mobil tersebut sudah berada di pintu keluar tol Kembangan. Garry telat seperdetik saja. Ia tidak bisa berbelok ke kiri karena bukan itu tujuannya. Akhirnya Garry menuju ruas jalan paling kiri, dan berjalan sedikit pelan, tidak lagi kesetanan seperti tadi. Ia hanya bisa melihat mobil berwarna merah itu berbelok ke kiri, kemudian hilang dari pandangan. Garry merasa kecewa. Ia mengemudikan mobilnya di jalan tol dengan perlahan. “Wah, hilang sudah… Apakah bisa bertemu lagi ya?” katanya pelan.

SATU MINGGU KEMUDIAN

Garry meninggalkan rumahnya untuk bekerja kembali. Bedanya hari ini, ia antusias, juga membawa harapan. “Jam yang sama seperti minggu lalu. Mudah-mudahan ketemu lagi,” ujarnya dengan suara cukup keras, bagaikan seorang sedang berjanji. 

Memasuki jalan yang sama, dengan cermat ia melihat ke kanan dan ke kiri dari balik kemudinya. Ia pun juga tidak berjalan cepat-cepat, santai saja. Gila, seminggu ini cewek itu nggak bisa gua lupain. Mobil Mazda 2. Matanya. Pipinya, hidungnya, rambutnya walaupun hanya terlihat dari belakang. Lalu tangannya yang kecil. Gua memikirkannya terus. Kenapa ya? Apa dia jodoh gua? Suara hati Garry bicara cukup keras. Jantungnya pun sampai berdegup kencang, sambil menyetir mobilnya, sampai dengan tampak olehnya jalanan macet di depan. “Hah!? Gara-gara bayar tol nih,” keluhnya, tapi ia mengikuti juga antrian panjang kemacetan tersebut. Di saat sedang mengantre, sekilas Garry melirik kaca spionnya. Sungguh kaget bukan kepalang, di belakang adalah cewek si Mazda 2 merah itu...


---Bersambung---

16 Juni 2014

I Love my Country, Indonesia

Sungguh menarik sekali yang kualami pada hari Minggu (15 Jun 2014) kemarin...

Pertama-tama, aku akan menceritakan satu hal dulu. Minggu lalu, tepatnya sekitar hari Selasa (10 Jun), kantorku kedatangan anak magang dari luar negeri, Amerika tepatnya. Ia bernama Mary dan ia masih sangat muda...

Telah beberapa kali ia menanyakan padaku jalan paling aman dan nyaman ke Jakarta. Karena kami tinggal di daerah Tangerang, aku menyarankannya untuk menggunakan shuttle bus yang selalu stand-by setiap jam di halte mal terdekat. Kuberitahukan juga tempat-tempat pemberhentian shuttle bus di Jakarta. Kemudian kulanjutkan, "Sesampainya di Jakarta, kamu bisa menggunakan transportasi busway yang akan melewati setiap jalan protokol atau jalan besar di Jakarta", kataku.

Tapi, sepanjang aku menjelaskan padanya, jujur saja, ada perasaan sedikit menggelitik, apakah dia mengerti semua yang kujelaskan ini, bagaimana kalau dia nyasar atau tidak sampai di tujuan, pikirku. Sehingga, kuputuskan untuk mengantar dan memperlihatkan semua hal yang kubicarakan itu padanya hari Minggu. "Juga sekalian kamu kuliner, mencoba beberapa masakan Indonesia," sambungku.

Ternyata pada hari Sabtu, ia telah pergi sendiri ke Jakarta. Katanya, "Menggunakan shuttle bus." Aku sempat bernapas lega, berarti ia menangkap semua yang kuterangkan. Dan sesuai janji, hari Minggu aku akan menemaninya berkeliling Jakarta, semenjak siang hingga malam. 

Hari Minggu tiba, kujemput Mary di lobi Pacific Place Mall. Meski cuaca sedang hujan deras, tapi entah kenapa, rasa semangatku juga meluap-luap, sama persis dengan perasaannya saat memasuki mobilku. Aku langsung jalan, berencana melewati FX mal, yang menjadi salah satu tempat pemberhentian shuttle bus. Saat itulah Mary baru bercerita. Ternyata yang dimaksudnya dengan shuttle bus (yang digunakannya hari Sabtu kemarin) adalah bis umum. Waktu mendengarnya, sontak aku terkaget-kaget, menaikinya saja aku tidak pernah, tapi ia pergi ke Jakarta menggunakan bis itu? Aku langsung melarang Mary menggunakannya lagi. Ia pun mengakui sedikit merasa takut ketika berada di dalamnya. Syukurlah Tuhan sangat baik padanya, karena menempatkan satu orang pria yang cukup fasih berbahasa Inggris, memberinya arahan, bahkan ikut turun menemani Mary. Aku berkata, "Ya, Tuhan sangat peduli padamu, Mary." Lalu aku membuatnya berjanji untuk tidak menaiki bis itu lagi dan menunjukkan seperti apa shuttle bus yang sesungguhnya. Kulihat ia mencatatnya...

Nah kejadian berikut inilah, saat kami sangat bersenang-senang... 
Kuajak Mary mencoba nasi goreng iga di Plaza Indonesia mal. Tak lupa sesudahnya, kami pergi beribadah ke gerejaku yang terletak tepat di seberangnya. Syukurlah ia menikmati ibadah di sana... Sepulangnya, kembali kuajak Mary mencoba makanan di daerah Pecenongan. Awalnya, kami menyantap hot plate daging campur dan cah kangkung, di mana ia mengaku inilah pertama kalinya mencoba sayuran kangkung itu. Selanjutnya, kubawa ia mencoba salah satu makanan khas jalan itu, tak lain dan tak bukan, "Martabak Nutella", asli buatan "Perintis Martabak Pecenongan". Mary sangat memuji-muji setiap makanan yang dicobanya. Ia pulang dengan perasaan puas dan sukacita...

Ketika aku di rumah, berbaring di tempat tidurku, kulewati lagi ingatan sepanjang hari dengannya. Aku menyadari satu hal, ternyata aku sangat menyukai hal ini, menjadi host atau tuan rumah. Dan aku rasa semua itu bisa terjadi, karena aku mencintai negaraku, Indonesia. Aku ingat berulang kali mengatakan hal ini pada Mary, "Kupikir, yang harus kamu lakukan ketika mengunjungi negara lain adalah mencoba sebanyak mungkin ciri khas negara tersebut. Karena untuk apa menempuh perjalanan jauh -juga berjam-jam lamanya- kalau ujung-ujungnya hanya menikmati sesuatu yang sesungguhnya ada juga di negaramu?" Ia mengangguk tanda setuju...

Di samping itu, tak henti-hentinya, aku bercerita soal berbagai kebiasaan dan habit orang Indonesia. Syukurlah, dalam perjalanan ke Pecenongan, kami melewati Monas, dan di sana sedang diadakan Pasar Rakyat. Meski jalanan sangat macet -untuk ukuran hari Minggu- kami sempat dilalui delman, bajaj, dan Ondel-ondel. Juga beberapa macam jajanan murah di samping jalan Monas. Kuberitahu kepadanya satu per satu dengan bangga...

Dan ketika kuperkenalkan Mary kepada teman-temanku, mereka juga sangat menyambut hangat. Membuat Mary sangat nyaman dan berkata, "Orang Indonesia memang baik-baik. Aku mau pergi lagi ke gerejamu dan berkumpul bersama teman-temanmu, Eve." Tentu saja, aku akan mengajaknya lagi di lain waktu. 

Kurasa siapapun bisa menjadi tour guide, selama ia menyukai hal tersebut... Dan entah kenapa aku punya perasaan akan mengalaminya lagi di kemudian hari. Sepertinya, dengan tamu-tamu orang asing lainnya, dan perjalanan yang berbeda pula. Tentunya, aku harus semakin memelajari negaraku dengan lebih baik. Siapa tahu kali ini kami akan pergi ke luar kota, dan ia akan semakin melihat keindahan negaraku Indonesia, pikirku dalam hati. Ya, bisa jadi... *fingercrossed

29 Juli 2011

Nerry's Comfort Zone


Di dekat rumahku, ada salah seorang tetangga yang adalah pembantu rumah tangga. Ia baru saja dititipi anjing Golden Retriever oleh salah satu majikannya.
Mungkin kamu bingung mengapa aku berkata, “Salah satu majikannya?” Karena rumah yang ditinggali olehnya sebenarnya merupakan rumah milik majikan (aslinya) yang tinggal di Jakarta. Si Mbak hanya dititipi saja. Tapi, ia boleh tinggal bebas di situ dan memeliharanya/mendekorasi (memasang lampu hias, menempelkan poster-poster, memakai air, listrik, dsb). Dan kalau boleh kukatakan, rumahnya sangat bersih, meski tidak banyak perabotnya.
Untuk memenuhi kebutuhan (karena si mbak hanya dititipi saja :p), ia memutuskan untuk bekerja keliling menjadi pembantu harian dari beberapa orang majikan. Ia menyebutnya, "Bos-ku." 
Selama ini si Mbak merasa beruntung karena katanya, "Bos-ku selama ini baik-baik Non... Biar kata agak jauh rumahnya, tapi saya sih betah saja kerja di situ..." Yahh, lucky her... Cuma kalau menurutku sih, selain beruntung mendapat majikan yang baik, si Mbak juga orangnya memang sangat baik dan rajin, jadi rasanya ia tidak akan mengalami kesulitan bekerja di manapun dan bersama siapapun.
Oke, kembali lagi ke anjing Golden Retriever betina, warna putih, bernama Nerry yang usianya baru saja 6 bulan. Tapi selayaknya anjing Retriever, tubuhnya sudah bertumbuh sesuai dengan batas tingginya. Jadi rasanya ia tidak akan meninggi lagi, mungkin yang terjadi adalah melebar ke samping. Ya, aku yakin begitu...

Nah, Nerry persis sekali dengan foto ini
Nerry adalah anjing dari majikannya si Mbak yang sedang pulang ke negaranya, Korea, untuk berlibur sejenak. Nah, Nerry dititipi (juga) ke mbak. Tapi semua kebutuhannya sudah tentu disediakan, sekarung dog food, tempat makan dan minumnya, sisir, tali untuk berjalan-jalan, sampo anjing, bahkan vitamin, dan beberapa obat-obatan untuk hewan (yang adalah obat merah, minyak tawon, dsb :p)
Karena kesukaanku akan anjing, rumah si Mbak menjadi tempat yang sering kukunjungi dalam 2 minggu belakangan. Lagipula aku memang berencana tidak pergi kemana-mana juga selama seminggu ini (pas banget), hanya ingin berdiam di rumah, karena ada 2 deadline tulisan yang harus diselesaikan. Dan percayalah, aku betah-betah saja tidak kemana-mana...
Waktu hari pertama aku mengunjungi Nerry dan membelai-belainya, aku sudah (langsung) memutuskan untuk mengajaknya jalan-jalan, yang disambut riang gembira (sekali, kalo boleh kutambahkan) oleh Nerry. Ia sampai-sampai tidak bisa diam dengan menyalak sejadi-jadinya, seolah-olah berkata, "Hore.. hore.. Asik.. asik.. Kita akan berjalan-jalan..." Tentu saja aku mengerti, karena sejak menonton acara 'Dog Whisperer' (Cesar Milan), aku semakin yakin bahwa rutinitas yang harus dilakukan setiap hari adalah mengajak jalan. 
Hanya saja ternyata aku salah menduga, entah kenapa anjing ini tidak suka berjalan lama-lama... Apakah penyebabnya karena cuaca sore itu yang agak panas atau (mungkin) energinya sudah terkuras habis saat ia berlompat-lompat tadi. Aku melihatnya dengan lesu ketika Nerry sudah berbaring di tengah jalan raya kompleks, 10 menit kemudian. Ia benar-benar berbaring di sana dan tidak beranjak... Aku cukup khawatir memikirkannya, masalahnya tubuh Nerry pasti sudah mencapai 27 kg, setengahnya dari berat badanku. Aku tidak akan mungkin menggendongnya, bahkan aku gagal juga menariknya... Sampai dengan aku berkata, "Ayo dong Ner, wake up... Oke, kita pulang deh.." Tiba-tiba dia bangkit dan -tepatnya- menarikku pulang kembali ke rumah si Mbak. Aku sampai takjub melihatnya, sekaligus juga tertawa dalam hati. Sepertinya dia memang sangat mengerti dengan kata 'pulang' itu.
Sesampainya di rumah, Nerry langsung menuju tempat minumnya. Dengan tergesa-gesa, juga pasrah, ia menurut saja diikat kembali oleh si Mbak, lalu menjulurkan tangannya, tanda ingin 'bersalaman' dan aku menyambutnya. Namun ternyata tanganku tidak mau dilepasnya.
Aku tahu maksud Nerry, ia tidak mengijinkanku pulang ke 'rumahku,' ia masih ingin aku tetap di sana membelai-belainya, mengusap hidungnya, dan sedikit memberi pijatan di kepalanya. Kulakukan semua itu sampai 4 menit lamanya dan dia tetap tidak membiarkanku pergi. Si mbak pun berkata, "Dia tau tuh, Non, kalo sama Non dia disayang-sayang. Makanya dia nggak ijinin Non pulang."
Aku berpikir... Berarti secara nggak langsung, aku telah memberi kenyamanan kepada anjing ini. Meskipun perjumpaan kami terbilang singkat (dan rasanya tidak sampai 30 menit, dari pertama kali aku menghampiri rumah si Mbak hingga mengajaknya jalan-jalan), tapi Nerry merasa nyaman berada di dekatku (yang adalah orang asing) dibanding si Mbak. Padahal si Mbak yang memberinya makan, menyisirnya, tapi aku yang dia harapkan berada di sisinya. 
Cukup kagum aku dibuatnya, berhasil memberi kenyamanan kepada seekor anjing lagi... Dulu aku pernah berada di situasi yang sama, hanya saja anjingnya waktu itu adalah anjingku sendiri, yaitu Zacky, Doogie, Lea, dan terakhir adalah Cathy dengan 2 anaknya, Diane dan Florence. Memoriku sedikit mengenang mereka sebentar, sambil tersenyum-senyum sendiri...
Secara pribadi, aku sih senang-senang saja tiap hari kesana, membelainya dan mengajaknya jalan, toh cuma itu kerjaanku... Ringan... :p Yang berat-berat (memberinya makan, menyisir, membersihkan kotorannya) justru adalah pekerjaan si Mbak. Hehe... Aku seperti memiliki anjing, yang tidak ada bebannya... ;) Enaknya...
5 menit kemudian, aku diijinkan pulang oleh Nerry karena matanya sudah mulai tertutup sedikit. Sepertinya ia mulai capai dan mengantuk. Aku langsung pamit ke si Mbak (dan anaknya yang sedang berkunjung dari kampungnya), mengelus Nerry terakhir kali dan melambai, sambil berjanji, "Besok aku akan ajakin jalan-jalan lagi ya Mbak.."
Nerry sempat gusar waktu aku berjalan menjauhi rumah si Mbak. Ia pun bangkit lagi, tapi kali ini tidak menggonggong. Aku sempat berteriak kecil padanya, "Besok kita ketemu lagi ya Ner.. Jalan-jalannya lanjut besok.." Lagi-lagi, anjing itu tampaknya mengerti ucapanku, ia mengibas-ngibaskan ekornya sambil kaki depannya berdiri di tembok sebatas lutut di sebelahnya. 
Aku pun akhirnya bisa pulang ke rumah... :D

10 Juni 2009

"Saya bukan Korban"

Saya selalu melihatnya disana.. Seorang bapak tua berdiri di ujung jembatan, menjual dua dirigen air.

Dengan tidak mau mengetahui asal usul airnya, saya selalu bertemu bapak itu pada saat sedang menunggu lampu merah. Dari balik kemudi, saya perhatikan ia berdiri di bawah pohon rindang dengan kemeja berlengan panjang birunya dan celana selutut berwarna hitam -yang sepertinya merupakan "Seragam kerjanya"

Beberapa kali, tangannya menunjuk-nunjuk mobil atau motor yang lewat, sambil mulutnya komat-kamit mengatakan, "Air buat cuci piring neng.. Air buat bersih2 Pak.."

Sebenarnya kali pertama saya melihatnya, hati saya sudah meringis. Namun ternyata itu belum seberapa... Suatu kali saya melihatnya sedang merapikan dua dirigen air tersebut dan berjalan turun ke bawah. Bingung juga saya, kenapa dia turun ke bawah, tapi saya perhatikan terus saja Bapak itu dengan lebih seksama. Sungguh pilu saat mengetahuinya, ternyata ia berjalan ke rumahnya yang berada di bawah kolong jembatan. Rumah yang tidak ada atap itu terlihat berantakan, sarat dengan barang-barang miliknya.

Cukup lama saya menatap kolong jembatan itu, sampai tidak sadar lampu lalu lintas sudah berubah ke hijau. Saya berjalan cukup pelan, merasa syok. Selama ini saya pikir "Tinggal di kolong jembatan" hanya kiasan belaka. Tapi, hari ini saya betul-betul melihatnya.. Di sana.. Lalu, bagaimana dengan kamar mandinya? Bagaimana cara ia tidur di malam hari? Bagaimana kalau sedang hujan, tidak kepikirankah ia kalau air sungai/got bisa meluap? "Seperti itukah kemiskinan di ibukota?" Yah.. Banyak sekali pertanyaan yang melintas di kepala saya saat itu.

Hanya saja saya melihat ada yang berbeda, satu hal yang pasti bapak itu tidak mau menjadi korban. Ia tetap mau berusaha "menaklukkan" dunia ini. Walaupun hidupnya seperti itu..

Tuhan pernah mengatakan bahwa salah satu tugas manusia adalah menaklukan bumi. Makanya,
"Control hidup kalian, control waktu dan uang kalian, jika tidak hidup, waktu dan uanglah yang akan mengontrol kalian."

Lagipula, keadaan ini bukan untuk selamanya kok. Saya buktinya..
Selama sepuluh tahun lebih, kami sekeluarga mempunyai financial problem. Namun, saat ini kami masih terus berdiri dan yakin Tuhan sedang memulihkan dan memperbaiki keuangan kami. Dimulai dari keuangan saya -yang perubahannya sangat luar biasa- dan bukan tidak mungkin juga keuangan orang tua saya pada akhirnya.

Saya sungguh salut terhadap Bapak tua itu.. Ia tidak meminta-minta atau mengemis, melainkan ia berusaha. Ia menemukan sesuatu yang ada dari dirinya (kedua dirigen tersebut), lalu mengusahakannya dengan sekuat tenaga. IA bukan KORBAN DUNIA melainkan IA sedang BEKERJA.

Dan malam itu, saya langsung mendoakannya, "Tuhan, aku tidak tahu siapa nama Bapak itu dan bagaimana ceritanya hingga dia bisa tinggal disana. Tapi Tuhan, berkatilah dia.. Pulihkan keuangan dan kehidupannya. Biar Engkau berkati dia dalam penjualan airnya itu, bahkan Engkau tambahkan, sehingga bisa menopang hidupnya. Amien.."