Tampilkan postingan dengan label Inspirasi Saya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi Saya. Tampilkan semua postingan

30 April 2016

Sticking to God Limits

Pernahkah kita merasa kesulitan melakukan sebuah pekerjaan? Atau merasa bahwa pekerjaan tersebut sebenarnya bukan untuk kita, mungkin itu porsi pekerjaan orang lain? Dan akhirnya berujung pada pertanyaan, "Am I fit in here? Am I belong in here?"

2 Korintus 10:12-18 (Message Bible)
“We're not, understand, putting ourselves in a league with those who boast that they're our superiors. We wouldn't dare do that. But in all this comparing and grading and competing, they quite miss the point. We aren't making outrageous claims here. We're sticking to the limits of what God has set for us. But there can be no question that those limits reach to and include you. We're not moving into someone else's "territory." We were already there with you, weren't we? We were the first ones to get there with the Message of Christ, right? So how can there be any question of overstepping our bounds by writing or visiting you? We're not barging in on the rightful work of others, interfering with their ministries, demanding a place in the sun with them. What we're hoping for is that as your lives grow in faith, you'll play a part within our expanding work. And we'll all still be within the limits God sets as we proclaim the Message in countries beyond Corinth. But we have no intention of moving in on what others have done and taking credit for it. "If you want to claim credit, claim it for God." What you say about yourself means nothing in God's work. It's what God says about you that makes the difference.” (penekanan ditambahkan)

Ayat ini membuat saya merenung. Dikatakan di sana, “...We’re sticking to the limits of what God has set for us...” Jadi, seperti posisi di perusahaan, Tuhan selaku atasan kita, telah mengatur atau menetapkan pekerjaan kita sejak semula. Dan di penghujung acara (hasil), tidak/bukan menjadi pertanyaan kalau limit tersebut berhasil kita raih, karena memang itu rencana-Nya dari awal.

Saya teringat dulu ketika bekerja, atasan saya kerap menggunakan kalimat ini, “Sudah lakukan itu dulu, nanti biar saya yang memikirkan apa langkah berikutnya.” Dan saya selalu mendahului beliau dengan mengatakan atau memberikan beberapa ide yang mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan. Tapi akhirnya, itu bukan bagian saya. Atau urusan saya malah... Saya sudah diberikan pekerjaan yang sesuai dengan kapasitas saya. Apabila saya bisa mengerjakannya dengan lebih baik atau menyelesaikannya lebih cepat, berarti saya memaksimalkan potensi saya. Dengan kata lain, saya sedang membuktikan ke diri sendiri bahwa saya bisa lebih baik daripada saya yang sebelumnya.

Dan kita, tidak di set untuk melakukan pekerjaan orang lain, atau bahkan mengacak/ mengatur pekerjaan mereka, lalu akhirnya menuntut posisi yang sama dengan mereka. Karena bukan untuk itu Tuhan menempatkan kita di pekerjaan tersebut. Ia sudah menetapkan apa pekerjaan kita sejak awal. Sulit atau tidak. Membosankan atau menyenangkan. Enjoy or not. Ini proses...

“Jangan habiskan sebagian besar hidup untuk berkompetisi dengan orang lain. Hidup sampai maksimal adalah berkompetisi dengan diri Anda sendiri” 
–Myles Munroe.

Dulu saya pernah mendengar pengertian breakthrough, yaitu sesuatu yang tidak bisa/belum pernah dilakukan sebelumnya, sekarang bisa/sudah dilakukan. Contoh, dulu kita termasuk orang yang tidak pernah berolahraga, tapi sekarang kita menjadi terbiasa untuk berolahraga setiap hari, tanpa disuruh sekalipun oleh orang lain. Ini adalah breakthorugh...

Saya suka kata ini... Karena apabila dikaitkan dengan ayat di atas, pekerjaan yang awalnya terkesan sulit untuk dilakukan, bahkan seolah membutuhkan extra grace untuk melakukannya, menjadi semakin mudah untuk dilakukan sekarang, bahkan bukan tak mungkin membuat kita menjadi mahir. Akhirnya, kita membuktikan kepada diri sendiri bahwa kita baru saja bisa melaluinya.

Inilah pekerjaan yang ditetapkan/ditentukan Tuhan sejak awal. Tidak ada yang susah untuk dilakukan. Lagipula, memang itu pekerjaan/tanggung jawab kita sejak awal. Dan seperti atasan saya, Tuhan sangat tahu kapasitas kita. Justru kitalah yang belum mengetahui kapasitas diri sendiri. Tapi, apapun yang kita katakan mengenai pekerjaan sendiri tidaklah penting. Saya suka kata ayat ini, “...It’s what God says about you that makes the difference.”

Jadi, tidak apa mengalami kesulitan dalam bekerja. Tidak apa kalau tidak mengerti (di awal) pekerjaan kita. Terus jalani saja. Tidak perlu mengeluh, menangis, apalagi jadi kasak-kusuk pekerjaan orang lain, buruknya lagi, membandingkan orang lain dengan diri sendiri. No... Ingat, Anda di sini bukan untuk berkompetisi dengan orang lain, tapi diri Anda sendiri. Jadikan tiap hari, tiap saat, adalah breakthrough Anda. Lihatlah sesuatu yang belum Anda lihat sebelumnya. Kerjakan sesuatu yang belum pernah Anda kerjakan sebelumnya. Kerjakan setiap hari... Pada akhirnya Anda akan tahu kok. Kerennya, Anda berhasil melaluinya. Dan ini semua bukan karena kehebatan Anda, tapi bagaimana Tuhan menentukan/menetapkan pekerjaan tersebut sejak mula. Sebabnya, IA tidak pernah menetapkan standar yang biasa-biasa saja, selalu luar biasa, yang melebihi pikiran kita sendiri.

So, don’t stress out, my friends... Just enjoy it... Your journey is fine.

12 Maret 2015

And Remember, "You Are Beautiful..."


Saya yakin, setiap pertemuan bukanlah sebuah kebetulan...

Jadi, setelah Anda siap sekarang, what's next? 
Nah, ini kelanjutannya...

Sebuah pertanyaan besar,
"JIKA ANDA MEMBAYANGKAN SEBUAH PERNIKAHAN, APA YANG ADA DALAM BAYANGAN ANDA?"

Seperti yang kita tahu, pernikahan itu untuk membentuk keluarga. Jadi di dalamnya, ada suami, istri, juga anak. 
Dan bukan sekadar ayah, ibu, dan dua anak saja -Tapi, ini sih poster Keluarga Berencana ya- Maksud saya jika anggota keluarga ini berada dalam lingkaran, akan diisi apa dalamnya? 

Apa yang mau dan akan Anda isi dalam pernikahan Anda nantinya?

Nah, Anda tahu Walt Disney? 
Saya pernah mendengar ceritanya. Sesungguhnya waktu Disneyland di California diresmikan, saat itu Walt Disney sudah meninggal. Para tamu yang hadir di peresmiannya mengucapkan selamat kepada istrinya dan berkata, "Sayang sekali Walt tidak sempat melihat karyanya ini." Tapi saya suka jawaban sang istri, "Walt sudah melihat bentuk akhir karyanya ini berpuluh, bahkan beratus kali di dalam pikirannya." Wow...
Yes... Ketika Walt Disney sedang berada di sebuah lahan seluas 8 hektar tanah, ia sedang membayangkan sebuah Magical Park yang indah dan "Fun." Walt Disney merencanakan semuanya, setiap detail ada dalam pikirannya. Seperti apa Disneyland's King Arthur Carousel itu? Dan akan diletakkan dimana nanti? Lalu akan dibangun seperti apa Disney's Castle yang akhirnya jadi ikon Disney? 
Kemudian saat ia memberi nama Adventureland, Fantasyland, Frontierland, Tommorrowland, dst. Semua nama tersebut ada artinya... Bahkan tata letak, petanya... Ada yang ditaruh di tengah, lalu dipenuhi dengan taman atau dibangun jembatan dan sungai buatan yang indah, dan seterusnya.
Semua sudah ada di dalam pemikiran Walt Disney. Ia sudah tahu akan jadi seperti apa Disneyland itu. Ia sudah membayangkannya beratus-ratus kali. Ia telah melihatnya di dalam pikirannya. Jadi waktu Walt masih hidup, begitu pun Disneyland hidup di dalam pikirannya...

Nah, hebatnya pikiran kita, ia akan selalu menarik kita ke arah dominan.
Apa yang kita tatap paling lama, maka itu akan menjadi semakin kuat.
Semakin kamu berfokus kepadanya, akan semakin besar dampaknya. Lalu, penglihatan kita mengembangkan desire. 

Oleh karena itu, menurut saya, pernikahan bukanlah sebuah tujuan. Saya mengerti memang setiap wanita  mendambakan pernikahan, namun itu bukan goal Anda, Saudariku...
Goal Anda adalah apa yang akan terjadi setelah Anda menikah. Apa yang akan Anda isi? Nilai-nilai apa yang akan Anda anut, untuk kemudian diterapkan kepada anak-anak? Kehidupan seperti apa yang mau Anda jalani?

Sebabnya, if I can see it, I can have it. Itulah pola pikir kita...

Nah, saya termasuk orang yang suka menulis sesuatu, lalu menempelkannya di tempat yang bisa saya lihat. Tempat tersebut bisa di dinding, pintu lemari, pintu, samping lemari, dll, yang biasanya akan dipenuhi dengan segala sesuatu yang saya suka. Misal, tips/trik yang saya ambil dari majalah, quote dari buku, cita-cita saya, rencana, gambar puppies yang lucu, harapan dan keinginan, juga tambahan tulisan mengenai bayangan saya tentang sebuah pernikahan nantinya? 

Jujur saja, saya tidak punya kendala membayangkan pernikahan yang baik. Saya punya orang tua yang masih romantis. Papi saya masih memberi surprise pergi ke Bali berdua saja untuk Mami waktu ulang tahun pernikahan mereka kemarin. Mami saya masih menyiapkan makanan untuk papi saya, setiap harinya. Jadi, saya berharap kami (saya dan suami saya kelak), dapat terus menjadi pasangan romantis.
Selain itu, masih banyak lagi yang bisa saya bayangkan... Saya belajar dan melihat banyak dari Mami saya, juga lainnya. Sejak dulu, Mami saya punya kebiasaan menyiapkan bekal makanan buat anak-anaknya. Jadi, di kantor saya jarang jajan, Saudariku... Saya terbiasa makan di kantor. Selain enak tentunya, terjamin juga kebersihannya. Dan ternyata, kebiasaan ini menular ke teman-teman kantor saya lainnya. Ramai-ramai kami jadi membawa bekal, lalu makan bersama-sama saat lunch, sambil saling mencoba masakan masing-masing. Bangga rasanya kalau mendengar teman saya suka masakan Mami... Karena itulah, saya inigin mengurus keluarga juga nantinya, memasak, membawakan bekal, dll.
Buat saya, Mami tidak hanya sekadar role model, tapi seorang sahabat juga. Saya bisa bercerita apa saja dengannya...  Tentang cowok, pekerjaan, teman, dst. Sehingga rasanya keren banget kalau saya bisa menjadi sahabat anak-anak nantinya, juga suami. Dapat memberi kenyamanan, apalagi Mami saya sabarnya bukan main...

Itu beberapa harapan saya. Bagaimana dengan Anda? Apa harapan Anda mengenai pernikahan nantinya? Akan diisi apa hari-hari Anda? Dengan suami Anda setiap harinya? Dengan anak-anak? Bersama keluarga? Apa yang akan Anda isi? Apa yang hendak Anda lakukan? 

Coba tutup mata Anda sekarang dan bayangkan. Imajinasikan... Karena if I can see it, I can have it.

Lalu, catatlah segera. Taruh di tempat atau lokasi yang mudah dilihat.
Dan jangan ditulis saja, Sahabatku... Tapi berfokuslah pada hal itu. Kerjakan dan kejar, kalau perlu. Mulai lakukan. Mulai cari tahu. Mulai mempelajarinya.
Lanjutkan upgrade diri Anda. Saya yakin Anda akan bertambah-tambah siap sekarang...

Dan, tahukah Anda pengertian dari flower itu? Berikut beberapa pengertiannya berdasarkan situs www.sederet.co.id
  • A plant cultivated for its blooms or blossoms
  • The period of greatest prosperity or productivity
  • Produce or yield flowers
  • To blossom, to bloom, to expand the petals as a plant
  • To embellish with flowers
So, be blossom... Be prosper... Be productive... It is not too late. Show it...
And remember, "You are beautiful... Strong enough. Good enough. And bright enough."

01 Desember 2014

MAGIC Christmas? A Magic Definitely Doesn’t Only Happened on Christmas


Magic Christmas = You are the magic Christmas
Christmas is near...
Sungguh tak terasa… Kita sudah memasuki hari pertama di bulan Desember. Yes, time flies…

Apakah Anda telah mempunyai acara nanti? Atau mungkin sudah tak sabar menunggu libur panjang di akhir tahun? Sebagian besar teman saya sudah merencanakannya dengan baik. Pesta kostum, Christmas party, menghias pohon natal, kegiatan bakti sosial, memegang tiket liburan ke negara yang sedang musim dingin. Juga, pastinya berbelanja hadiah Natal atau untuk cross kado, beli aksesori Natal, seperti topi Santa, dasi bercorak Snowman, bando Rudolf, dll. 

Bicara soal Natal, saya jadi teringat waktu masih kecil dulu, saya termasuk anak kecil yang memercayai bahwa ada hadiah dari Santa Claus. Biasanya sekitar awal bulan Desember, saya dan adik-adik memotong rumput, memasukkannya ke dalam sepatu kami, lalu menaruhnya di sebelah bantal, dan kami pun tertidur. Keesokan paginya kami memperoleh hadiah dengan kartu natal bertulisan tangan yang tidak dikenal, berisi, “Jadilah anak yang baik dan menurut kepada orang tua, dst” Ya, saat itu saya berpikir, “Ini memang dari Santa. This is magic." 

Kegiatan ini terus saya lakukan setiap tahun. Sampai dengan suatu kali, tidak ada hadiah apapun di samping bantal kami. Alhasil, kami terus menaruhnya di sana hingga pertengahan bulan, namun hasil tetaplah nihil. Saya langsung mengeluh di depan Ibu dengan cemberut, “Santa melupakan kami tahun ini.” Anehnya, Ibu saya menjawab, “Karena mami belum membeli hadiah, Sayang. Mami masih sibuk mengurus papi kamu setelah pulang dari rumah sakit.” (Saat itu ayah saya dalam masa pemulihan akibat sakit hepatitis B). Jujur, saya tidak terlalu mengerti dengan jawabannya. Mungkin Ibu saya melihatnya, sehingga beliau melanjutkan kembali, “Selama ini Mami Papi yang membeli dan menaruh hadiah tersebut di samping bantal kalian.”

“Tapi, tulisan di kartu berbeda dengan tulisan mami?”
“Yah, Mami bedain dong. Kalau tidak kamu tahu yang menulis Mami.”
Saya langsung mengerti kenapa pesan-pesan di kartu natal selama ini terdengar familiar. 

Yah, saya rasa Anda tahu sesudahnya, bukan? Saya tidak pernah menaruh apapun lagi di samping bantal. Serta, berhenti berpikir bahwa hadiah dari Santa merupakan sesuatu yang magic.

Tapi, pernahkah Anda mengalaminya? Atau, mungkin Anda salah satu orang yang seperti saya, memercayai hadiah dari Santa. Hahaha… Senang rasanya tidak menjadi satu-satunya anak yang berpikir demikian. Dan dengan seiring berjalannya waktu, saya juga semakin menyadari bahwa keajaiban (MAGIC), tidak hanya terjadi menjelang atau saat Natal saja. Sesungguhnya, terjadi setiap hari. Bahkan Anda pun seorang keajaiban sebenarnya.

Sekitar dua minggu yang lalu, hari itu adalah hari Senin, saya bertemu tidak sengaja (dalam kamar mandi wanita), CEO dari Toko Buku (TB) Books and Beyond (B&B). Karena kami bekerja dalam satu groups, saya mengenalnya, bahkan telah beberapa kali mewawancarai beliau untuk keperluan publikasi. Saya langsung saja memberitahu, “Bu, saya ada menulis buku dan buku tersebut baru diterbitkan sekitar satu bulan yang lalu. Saya bermaksud menawarkannya ke ibu dan berharap buku saya bisa dimasukkan ke dalam TB B&B.” Ternyata perkataan saya langsung disambut baik oleh beliau. Sore harinya, saya memberikan sampel buku dan surat penawaran. Selasa pagi, keesokan harinya, saya menerima e-mail untuk mengatur pertemuan. Saya langsung membalas e-mail, pertemuan sebaiknya dilakukan hari Kamis saja, ketika jam saya makan siang.

Tibalah hari Kamis, saya bersama dengan penerbit bertemu B&B. Pertemuannya sendiri tidak memakan waktu lama, namun mereka memberitahu siap memasukkan buku saya ke dalam B&B. As simple as that, wow… Tidak berhenti sampai situ saja, B&B bertanya hal ini, “Ibu Eve, apakah sudah melakukan book launching?”
“Belum, karena jujur saya tidak siapkan budget untuk itu. Ditambah lagi kemarin masih sibuk menawarkan buku saya ke teman-teman.”
“Kami bisa memberikan tempat kok, Bu, and that’s for free. Di lantai 2 ini.” (Saya ternganga mendengarnya). “Ibu tinggal mendatangkan massa dan media saja” ucapnya tersenyum.

Ketika pulang dari sana, perasaan kami (saya dan penerbit) adalah overwhelmed, sambil terus berujar, “Ini keajaiban… Ini pasti Tuhan yang lancarkan… Ini pasti seijin Tuhan, dari Tuhan.” Kami langsung membahas book launching tersebut dan mulai membagi tugas. Bahkan penerbit saya sudah menentukan waktunya, yaitu sekitar bulan Februari 2015. & guess what, at this moment, preparation of book launching is something happening for me...

I got the magic in me
Every time I touch that track it turns into gold
Everybody knows I've got the magic in me
(Lirik lagu "Magic In Me". Penyanyi: B.O.B) 

29 Agustus 2014

Apa saja kata Mereka? (Bagian 2)


Suatu kali,
saya pernah memberikan pertanyaan ini kepada sebanyak mungkin teman wanita yang masih lajang dan saya kenal karib, 
"Menurut kamu, why are you still single so far?"
Dari sinilah saya memperoleh 10 jawabannya.
Dan akhirnya menjadi ide dasar (atau kerangka karangan) 
dari buku pertama saya.
Check it out!


5. "Masih banyak hal yang lebih penting"
Maksudnya di sini adalah bicara tentang fokus. Para wanita ini lebih memilih untuk membiayai sekolah adik-adiknya terlebih dulu atau menjadi tulang punggung keluarga, maupun berkarier, ketimbang punya pacar. Bahkan, di antara mereka ada juga yang telah terikat kontrak dengan perusahaan tempatnya bekerja hingga beberapa waktu ke depan untuk tidak menikah. Sehingga, berpacaran atau menikah masih bisa ditunda, setidaknya sampai keadaan menjadi lebih baik. Lagipula, kalau pacaran dan menjadi tulang punggung keluarga dijalani bersamaan, belum tentu hasilnya maksimal, bisa-bisa malah berantakan. Jadi, memang lebih baik fokus satu-per-satu.

6. "Baru saja putus, pernah batal menikah, atau bercerai sebelumnya"
Saya bersimpati saat mendengar para wanita ini bercerita tentang kisah hidup percintaannya, sekaligus juga merasa kagum menyaksikan kegigihan mereka untuk tidak menyerah, apalagi menjadi korban trauma. "I won't give up loving somebody," demikian kata mereka. Hanya saja pada kenyataannya, perkataan ini tidak semudah yang diucapkan mulut. Walau telah berpisah dua minggu atau satu tahun, tiga tahun lamanya, keadaannya tidaklah berbeda. Mereka masih memendam perasaan terhadap si mantan dulu, bahkan semakin berlarut-larut memikirkannya. Sehingga, setiap kenangan membawa mereka ke masa lampau kembali, mengakibatkan perasaan sedih ataupun tidak berarti muncul. 

Sudah menjadi sifat dasar wanita (memang) lebih sering menggunakan perasaannya ketimbang pikiran. Hal ini membuat wanita lebih sulit melupakan dibanding pria.

7. "Pernikahan itu sesuatu yang serius bagiku"
Pernikahan memang merupakan hal yang serius dan bukan main-main (permainan). Dibutuhkan kesadaran penuh untuk melalui tiap prosesnya. Setiap wanita tentu mendambakan pernikahan, namun pernikahan seperti apa yang diharapkan. Pernikahan adalah kerja keras, di mana Anda dan pasangan tidak akan mendapat cuti, kendatipun hanya satu hari. Sebagaimana ditulis Santo Aboeprajitno dalam Fatwa Cinta, "Pernikahan itu ibarat sekolah seumur hidup untuk belajar mencintai pasangannya."

Pernikahan dapat diartikan sebagai tiket sekali jalan, yang hanya ditujukan bagi "Orang dewasa" BUKAN "Anak-anak." Itu sebabnya, kita perlu memandang nilai diri kita dengan serius, serta memahami urutan yang sepatutnya terjadi dalam sebuah hubungan. Anda harus menghormati diri sendiri dan memperlakukannya secara istimewa, karena memang begitulah adanya diri Anda. 

8. "Mungkin karena aku sudah punya segalanya, pria jadi takut berhubungan denganku"
Jawaban ini malah keterbalikan dari jawaban pertama. Kelompok wanita yang menjawab demikian, justru berpenampilan lebih sederhana. Mereka lebih memilih naik busway dibanding mengemudi mobilnya sendiri. Kalau pun berkendara, mereka akan memilih mobil kantor yang relatif kuno, daripada mobil matic (milik pribadi) yang tentunya lebih memberi kenyamanan, terutama di tengah kemacetan lalu-lintas. 

Saat melihat penampilan mereka, sepertinya tidak ada yang mengira kalau pribadi/diri mereka bisa menakutkan pria untuk menjalin hubungan. Mungkin saja pria akan berpikir sama seperti saya, Wanita-wanita ini begitu sederhana. Namun nyatanya, sejumlah wanita di luar sana masih berpikir sebaliknya.

9. "Karena laki-laki itu bodoh dan aku sudah lelah berhubungan dengan mereka"
Jawaban kali ini mengingatkan saya akan sebuah cerita di buku "More Taste Berries for Teens" karya Bettie B Young, Ph.D., Ed.D. dan Jennifer Leigh Youngs. Ada seorang gadis yang putus hubungan karena curiga pacarnya berselingkuh. Setiap hari ia dan teman-temannya menjelek-jelekkan sang mantan, juga wanita yang diduga selingkuhannya itu, hingga suatu hari ia mengetahui bahwa semuanya hanyalah gosip belaka. Ia merasa sangat bersalah dan buru-buru meminta maaf. Dengan perasaan bodoh akibat memercayai gosip begitu saja lantaran emosi, ia berkata pada teman-temannya, "Mulai hari ini, jangan ada lagi kata-kata buruk mengenai mereka. Maksudku, siapa sih aku ini? Jelas-jelas perbuatanku jauh lebih buruk. Aku memang sudah minta maaf, tapi rasa malu ini sepertinya tidak akan pernah hilang."

10. "Wah, tidak tahu deh kenapa aku masih jomblo sampai sekarang"
Kemudian, ia justru balik bertanya ke saya, "Menurut kamu kenapa?"


HAPPY READING *wink

22 Agustus 2014

Apa Saja Kata Mereka? (Bagian 1)


Suatu kali,
saya pernah memberikan pertanyaan ini kepada sebanyak mungkin teman wanita yang masih lajang dan saya kenal karib, 
"Menurut kamu, why are you still single so far?"
Dari sinilah saya memperoleh 10 jawabannya.
Dan akhirnya menjadi ide dasar (atau kerangka karangan) 
dari buku pertama saya.
Check it out!

Menyadari pertanyaan tersebut bersifat pribadi dan agak sensitif, maka saya menggunakan "Prinsip Garam" yang pernah saya baca dalam sebuah buku berjudul, "For Better or For Best Understanding Your Husband (Alasan Tersembunyi Mengapa Pria Berperilaku Tertentu)" ditulis oleh Dr. Gary Smalley. Buku yang ditujukan bagi kaum Hawa ini, menyodorkan sebuah prinsip menarik, yakni sifat garam yang pada dasarnya membuat orang haus. Menurut Dr. Gary, sebuah hubungan harusnya berhasil menciptakan dahaga akan percakapan yang membangun antara dirinya sendiri dengan orang lain. Sehingga hasilnya, masing-masing individu dapat mempelajari kebutuhan lawan bicaranya dengan baik. Well, saya sangat setuju...

Ibarat melakukan sebuah wawancara, Anda tidak akan pernah dipersiapkan banyak pertanyaan, melainkan hanya 3 atau 4 pertanyaan saja, di mana selebihnya harus Anda gali sendiri melalui pernyataan para narasumbernya, sambil memperhatikan dengan seksama setiap jawabannya. Karena dari situlah biasanya muncul penjelasan yang jujur. Ya, Anda hanya perlu mendengarnya dengan lebih cermat...

Untuk hal ini, gaya Oprah Winfrey maupun Najwa Shihab bisa dijadikan contoh. Menurut saya, mereka menggunakan prinsip garam saat mewawancarai narasumbernya. Terlihat sekali rasa haus yang sangat akan setiap jawaban narasumbernya. Tak henti-henti mereka melontarkan pertanyaan hingga semua menjadi jelas. Sampai-sampai penonton di studio ataupun di rumah ikut terhanyut merasakan suasananya.

Dengan cara yang sama, pertanyaan di atas saya ajukan. Akhirnya, diperoleh 10 jawaban yang diberikan oleh para wanita yang berani dan luar biasa ini:

1. "Mungkin karena aku sudah tidak cantik lagi"
Awalnya, merasa bingung juga mendengar jawaban ini keluar dari mulut mereka. Sebabnya, mereka termasuk wanita yang sangat cantik dan menarik. Sejujurnya, andai saya ini pria, tentu akan berpikir untuk mengejarnya. Mereka merupakan para wanita sophisticated yang penuh gaya dan hebat, lengkap dengan ciri-ciri: Menjinjing tas branded terkenal, sepatu tumit tinggi beralas merah, senyuman yang ramah, sikap yang akrab namun sopan, gadget yang selalu on, juga pekerjaan hebat yang dapat menunjang segalanya. Sungguh mengagumkan, bukan?

Namun, ketika pembicaraan berlanjut, saya baru mengerti alasannya, ternyata, "Aku merasa bingung saja. Padahal sudah seperti ini (sambil menunjuk dirinya sendiri), tapi kok belum laku ya? Padahal umur bertambah terus. Apakah karena kecantikanku sudah luntur?"

2. "Belum menemukan orang yang tepat"
Ini menjadi jawaban paling banyak yang diberikan. Saking banyaknya, juga karena "sedikit bosan" mendengar jawaban yang sama berulang-ulang, saya memutuskan memberi pertanyaan tambahan, "Lalu, apakah kamu sudah tahu standar atau kriteria pria yang kamu inginkan?"

Beberapa menjawab, "Tentu saja. Aku mau dia begini...begitu... Dan seterusnya," dengan bermimik muka penuh keyakinan, sampai-sampai saya pun ikut merasakan semangatnya, yang terpenting ia sudah mengetahui apa keinginannya. Lalu, ada juga yang menjawab dengan standar-standar, "Seiman. Baik. Ganteng. Sayang keluarga. Sayang saya. Pengertian. Dewasa. Kaya... Dan sebagainya." Namun, ada juga yang malah mengangkat bahunya sambil geleng-geleng kepala. Yah, Anda tentu mengerti maksudnya, bukan?

3. "Akunya saja yang belum mau. Santai saja"
Waktu mendengar jawaban ini, sempat terbersit pertanyaan dalam hati saya, Hmm, mau sampai kapan santainya? Kalau hanya sampai esok hari, mungkin saya tidak terlalu mengkhawatirkannya, walau kemudian sempat terganjal pikiran juga sih, "Kenapa harus santai sampai besok kalau sebenarnya bisa dimulai hari ini?"

4. "Masih muda. Masih banyak yang ingin aku lakukan"
Entah apa yang mendasari mereka menjawab demikian. Apakah mereka sungguh-sungguh merasa masih muda sehingga ibarat berkata, "Don't tell my age, I know that. But somehow, I still feel young and always excited for new things." 

Atau, mungkinkah dikarenakan ketidaksiapan mereka, "Mumpung masih muda, rasanya sah-sah saja bersenang-senang dulu." Akhirnya mereka tidak membuat rencana, tidak mengatur waktu, tidak peduli. Mereka melakukannya semata-mata akibat sikap yang belum siap berkomitmen, sehingga tidak tahu ke arah mana hubungan yang sedang dijalankannya, bagaimana kelanjutannya, dan tidak berusaha mempersiapkannya juga. Mereka menjalani hari demi hari begitu saja, hanya mengisinya tanpa mengetahui dengan jelas tujuan memilih pria tersebut, alasan melakukan rutinitas tertentu. Dan sebagainya.

5. "Masih banyak hal yang lebih penting"

...to be continued...