Tampilkan postingan dengan label Life is Beautiful. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Life is Beautiful. Tampilkan semua postingan

30 April 2016

Sticking to God Limits

Pernahkah kita merasa kesulitan melakukan sebuah pekerjaan? Atau merasa bahwa pekerjaan tersebut sebenarnya bukan untuk kita, mungkin itu porsi pekerjaan orang lain? Dan akhirnya berujung pada pertanyaan, "Am I fit in here? Am I belong in here?"

2 Korintus 10:12-18 (Message Bible)
“We're not, understand, putting ourselves in a league with those who boast that they're our superiors. We wouldn't dare do that. But in all this comparing and grading and competing, they quite miss the point. We aren't making outrageous claims here. We're sticking to the limits of what God has set for us. But there can be no question that those limits reach to and include you. We're not moving into someone else's "territory." We were already there with you, weren't we? We were the first ones to get there with the Message of Christ, right? So how can there be any question of overstepping our bounds by writing or visiting you? We're not barging in on the rightful work of others, interfering with their ministries, demanding a place in the sun with them. What we're hoping for is that as your lives grow in faith, you'll play a part within our expanding work. And we'll all still be within the limits God sets as we proclaim the Message in countries beyond Corinth. But we have no intention of moving in on what others have done and taking credit for it. "If you want to claim credit, claim it for God." What you say about yourself means nothing in God's work. It's what God says about you that makes the difference.(penekanan ditambahkan)

Ayat ini membuat saya merenung. Dikatakan di sana, “...We’re sticking to the limits of what God has set for us...” Jadi, seperti posisi di perusahaan, Tuhan selaku atasan kita, telah mengatur atau menetapkan pekerjaan kita sejak semula. Dan di penghujung acara (hasil), tidak/bukan menjadi pertanyaan kalau limit tersebut berhasil kita raih, karena memang itu rencana-Nya dari awal.

Saya teringat dulu ketika bekerja, atasan saya kerap menggunakan kalimat ini, “Sudah lakukan itu dulu, nanti biar saya yang memikirkan apa langkah berikutnya.” Dan saya selalu mendahului beliau dengan mengatakan atau memberikan beberapa ide yang mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan. Tapi akhirnya, itu bukan bagian saya. Atau urusan saya malah... Saya sudah diberikan pekerjaan yang sesuai dengan kapasitas saya. Apabila saya bisa mengerjakannya dengan lebih baik atau menyelesaikannya lebih cepat, berarti saya memaksimalkan potensi saya. Dengan kata lain, saya sedang membuktikan ke diri sendiri bahwa saya bisa lebih baik daripada saya yang sebelumnya.

Dan kita, tidak di set untuk melakukan pekerjaan orang lain, atau bahkan mengacak/ mengatur pekerjaan mereka, lalu akhirnya menuntut posisi yang sama dengan mereka. Karena bukan untuk itu Tuhan menempatkan kita di pekerjaan tersebut. Ia sudah menetapkan apa pekerjaan kita sejak awal. Sulit atau tidak. Membosankan atau menyenangkan. Enjoy or not. Ini proses...

“Jangan habiskan sebagian besar hidup untuk berkompetisi dengan orang lain. Hidup sampai maksimal adalah berkompetisi dengan diri Anda sendiri” 
–Myles Munroe.

Dulu saya pernah mendengar pengertian breakthrough, yaitu sesuatu yang tidak bisa/belum pernah dilakukan sebelumnya, sekarang bisa/sudah dilakukan. Contoh, dulu kita termasuk orang yang tidak pernah berolahraga, tapi sekarang kita menjadi terbiasa untuk berolahraga setiap hari, tanpa disuruh sekalipun oleh orang lain. Ini adalah breakthorugh...

Saya suka kata ini... Karena apabila dikaitkan dengan ayat di atas, pekerjaan yang awalnya terkesan sulit untuk dilakukan, bahkan seolah membutuhkan extra grace untuk melakukannya, menjadi semakin mudah untuk dilakukan sekarang, bahkan bukan tak mungkin membuat kita menjadi mahir. Akhirnya, kita membuktikan kepada diri sendiri bahwa kita baru saja bisa melaluinya.

Inilah pekerjaan yang ditetapkan/ditentukan Tuhan sejak awal. Tidak ada yang susah untuk dilakukan. Lagipula, memang itu pekerjaan/tanggung jawab kita sejak awal. Dan seperti atasan saya, Tuhan sangat tahu kapasitas kita. Justru kitalah yang belum mengetahui kapasitas diri sendiri. Tapi, apapun yang kita katakan mengenai pekerjaan sendiri tidaklah penting. Saya suka kata ayat ini, “...It’s what God says about you that makes the difference.”

Jadi, tidak apa mengalami kesulitan dalam bekerja. Tidak apa kalau tidak mengerti (di awal) pekerjaan kita. Terus jalani saja. Tidak perlu mengeluh, menangis, apalagi jadi kasak-kusuk pekerjaan orang lain, buruknya lagi, membandingkan orang lain dengan diri sendiri. No... Ingat, Anda di sini bukan untuk berkompetisi dengan orang lain, tapi diri Anda sendiri. Jadikan tiap hari, tiap saat, adalah breakthrough Anda. Lihatlah sesuatu yang belum Anda lihat sebelumnya. Kerjakan sesuatu yang belum pernah Anda kerjakan sebelumnya. Kerjakan setiap hari... Pada akhirnya Anda akan tahu kok. Kerennya, Anda berhasil melaluinya. Dan ini semua bukan karena kehebatan Anda, tapi bagaimana Tuhan menentukan/menetapkan pekerjaan tersebut sejak mula. Sebabnya, IA tidak pernah menetapkan standar yang biasa-biasa saja, selalu luar biasa, yang melebihi pikiran kita sendiri.

So, don’t stress out, my friends... Just enjoy it... Your journey is fine.

17 Desember 2015

PAIN IN THE NECK

Mengambil judul dari sebuah idiom Amerika: "Pain in the neck," yang artinya "If someone is very annoying and always disturbing you, they are a pain in the neck. Pain in the butt, or pain in the ass." 

Untuk kasus saya adalah tubuh saya, my health condition. Ketika dirawat inap di Siloam Hospitals Lippo Village tanggal 14-15 Desember 2015 lalu, akibat sakit vertigo infeksi telinga, ada beberapa pelajaran yang saya peroleh dari peristiwa ini.

Pertama, Bahwa kita tidak bisa membohongi tubuh sendiri.
Selasa lalu, tepatnya tanggal 8  Desember 2015, saya sempat dilarikan ke UGD (Emergency/Unit Gawat Darurat) oleh teman kantor karena kepala saya berputar tak keruan. Alangkah terkejutnya saya didiagnosa dokter, "Ibu terkena vertigo." What!? Saya resmi punya vertigo sekarang? Padahal saya sudah punya penyakit asma, tekanan darah rendah, mengapa ini jadi bertambah? Kemudian, dokter meminta saya untuk rawat inap, tapi saya menolak. Masa gara-gara sakit vertigo sampai dirawat inap segala. Akhirnya saya diperbolehkan pulang dengan obat resep dokter. 

Berjalannya waktu, ternyata bertambah buruk. Puncaknya adalah pada hari Jumat (11 Desember 2015), saya mengalami gempa. Tapi hanya diri saya saja. Saya lihat sekeliling, bahkan air di botol minum pun tidak bergoyang sama sekali. Saya terpaksa ijin tidak masuk kantor hari itu. Merasa tidak enak, hari Seninnya saya memutuskan masuk kantor. Saya masih dapat bekerja, hingga pukul tiga sore, dunia saya berputar lagi. Saya sempat menyender dan memejamkan mata di pantry kantor, tapi sepertinya tidak terlalu berguna. Karena setiap orang yang lewat bertanya, "Kamu kenapa?" (yang sebenarnya ini bentuk perhatian dari mereka). Sampai saya tidak tahan lagi. Pada jam empat sore, saya dibawa kembali ke UGD. Kali ini saya pasrah. Alhasil, saya dirawat inap selama satu malam dan diharuskan istirahat satu minggu kemudian.

Sayalah penyebab semua ini. Seolah-olah saya berpikir akan kuat, memperlakukan tubuh ini layaknya kondisi normal. Padahal tidak, saya sedang sakit. Terkadang kita suka berpikir, "Tinggal sedikit lagi, perut saya dapat menahannya... Setengah jam lagi baru tidur, karena nanggung ini film-nya.... Seminggu ini belum berolahraga, tapi pasti saya bisa naik gunung atau jalan jauh..." 

Bukannya tidak bisa, namun terkadang, kita memforsir tubuh sendiri untuk bisa mengikuti pikiran kita, rencana, aktivitas, dll. Hentikan... Anda mulai mengganggu diri sendiri! Mobil saja perlu beristirahat, padahal cuma sebuah mesin. Jangan paksa lagi... Dengarkan tubuh Anda. Karena Anda sedang tidak dibohongi di sini. Sayangi diri sendiri. Jangan sampai tumbang baru paham. Ini namanya "Kepalang tanggung," bukan "Mencegah lebih baik dari mengobati."

Kedua, Tidak memanjakan diri sendiri.
Saya paham, hal yang kedua ini terkesan kontradiktif dengan perihal pertama. Tapi ijinkan saya menjelaskannya. 

Kembali ke kisah saya di UGD, saya akui kurang bersabar waktu itu. Saya sedikit mendesak perawat untuk segera mendatangkan dokter. Dokter spesialis saraf akhirnya datang dua jam kemudian, baru saya dipindahkan ke kamar. Saya menempati kamar 857 bersama dengan seorang wanita yang baru saja selesai dioperasi siang harinya. Saya ditemani orang tua, adik, adik ipar saya. Dan disinilah saya jadi sedikit "manja" terhadap mereka. "Pusing... Dingin... Mau nonton, apakah bisa berikan saya remote control televisinya? Belum makan, lapar (memang waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam)." Lalu, karena tidak ada yang menemani saya malam harinya, saya mulai beberapa kali menekan tombol "Nurse Call" dan mengeluhkan, "Tidak bisa tidur, sus... Salah bantal..." Apakah Anda membacanya dengan mencibir? Yah, saya sedang mengeluh. Saya sedang manja... 

Tak dipungkiri, ketika dirawat inap, kita sebagai pasien memang merasakan sakit dan rasa tidak nyaman di sekujur tubuh. Walaupun kepala saya yang didagnosis sakit, tapi entah kenapa, bagian tubuh lain, seperti paha, leher, tangan, juga ikut merasakan nyeri. Seumpama tubuh ini mati rasa, membatasi ruang gerak saya yang biasanya dapat saya lakukan sendiri... 

Saya bersyukur sempat mengobrol dengan teman sekamar saya di pagi harinya ketika kami breakfast -Anda ingat, wanita yang habis dioperasi ini?- Ia bercerita, bahwa sudah mulai dirawat inap sejak hari Minggu sore. Dan saat itu, rumah sakit betul-betul sangat sibuk, sampai-sampai semua kebutuhan ibu ini terlambat. Namun hebatnya, ia tidak mengeluh. Ditemani suaminya di kamar, ia yang terus-menerus mengingatkan perawat akan kebutuhannya. Dan menurutnya, selama masih bisa dilakukan sendiri, mengapa tidak?

Waktu mendengar hal itu saya jadi malu... Ya, meski tubuh ini sakit, bukan berarti kita jadi pity self (mengasihani diri sendiri). Bersyukurlah kita sudah dirawat, bersyukurlah untuk tempat tidur yang nyaman, perawat yang baik dan penuh perhatian, teman-teman yang memperhatikan, makanan yang diantarkan, dokter yang mengobati, dll. Semenjak itu saya berhenti pity self... Saya meyakinkan diri sendiri bahwa vertigo ini akan sembuh, tidak akan menghambat aktivitas saya lagi, dan saya akan keluar dari rumah sakit ini segera. Akhirnya, siang hari, setelah diperiksa dokter spesialis saraf, saya diijinkan pulang karena hasil-hasil tes dan kondisi kesehatan saya sudah jauh membaik. 

Jangan ikuti rasa sakit itu... Jangan terus menuruti kehendak yang demikian... Miliki keyakinan Anda akan sembuh dan bisa beraktivitas seperti sediakala lagi. Dan itulah yang saya lakukan sekarang, menulis blog lagi dan melanjutkan kegiatan menulis saya, seperti biasanya.

30 Oktober 2015

LIFE IS BEAUTIFUL - Berhenti Menunggunya

Ketika membaca ayat “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga”.

Saya suka ayat ini. Saya selalu memperkatakannya ketika kekhawatiran muncul, baik dalam pekerjaan, keuangan, makan, pergi hang-out atau mingle dengan teman, traktir teman, pacar? Saya mempercayai-Nya. Hanya saja saya (baru) menyadari satu hal, burung memang tidak bisa menabur atau mengumpulkan bekal dalam lumbung. Ia tidak bisa berpikir, apalagi menghitung. Namun, agar si burung dapat makan dan memberi makan anak-anaknya, jelas ia harus terbang, melakukan sesuatu. Dan Tuhan berjanji terus memeliharanya. Si burung akan terus mendapatkan makanan dimana saja. Hanya saja, ia harus terbang.

Saya sedang membaca artikel dari Mandy Hale berjudul “Three Lies Us Single People Need to Stop Telling Ourselves” dan kebohongan yang ketiga adalah “Thinking that we have to wait around for a relationship to realize our destiny”, Mandy menghimbau kita untuk “It’s time to stop waiting and start LIVING.” Ini adalah salah satu saran terbaik yang saya ketahui...

Pernahkah Anda menyukai seseorang, lalu memutuskan untuk menunggunya menghubungi Anda, mengajak pergi, memperkenalkan Anda dengan teman-temannya kemudian keluarganya, suatu hari “nembak” Anda, dan (siapa tahu) ia akan melamar nanti. Well, ini yang disebut menunggu…

Saya tidak menyalahkan Anda. Saya pun pernah melakukan hal yang sama. Dan begitu ia “nembak” saya, entah kenapa rasanya tidak sempurna atau seindah yang saya rasakan sebelumnya. Teman saya sempat berujar, “Mungkin terlalu lama ya, Eve…” Hmm, mungkin juga… Tapi saya sadar sekarang, hal tersebut dikarenakan saya hanya menunggu saja, tidak “terbang” atau “living”. Saya tidak melakukan apa-apa untuk mencerahkan hari saya, untuk mengisi kehidupan saya, dan (yang terpenting) melakukan persiapan untuk siapapun pasangan saya kelak.

Saya sering membalas perkataan teman-teman saya yang berkata, “Eve, sebenarnya kamu tuh sudah cocok berumah tangga dan punya anak” (Yes, I totally agree). Hanya saja ini jawaban saya, “Saya lebih baik telat menikah daripada salah pilih orang. Tidak apa deh terlambat, tapi saya percaya it’s all worth it…”

Bagaimana dengan Anda? Masihkah Anda menunggunya? Hentikan dulu sejenak “memikirkan dia”. Perhatikan diri Anda. Mulailah lakukan sesuatu. Upgrade yourself. Perkaya diri Anda dengan hal-hal hebat. Hidupi hidup Anda. Rasakan indahnya diri Anda dan lihatlah, you are worth it…  


Seperti kata-Nya kemudian, “Bukankah kamu lebih berharga daripada mereka (burung)?” Yes, you are, ladies

01 Desember 2014

MAGIC Christmas? A Magic Definitely Doesn’t Only Happened on Christmas


Magic Christmas = You are the magic Christmas
Christmas is near...
Sungguh tak terasa… Kita sudah memasuki hari pertama di bulan Desember. Yes, time flies

Apakah Anda telah mempunyai acara nanti? Atau mungkin sudah tak sabar menunggu libur panjang di akhir tahun? Sebagian besar teman saya sudah merencanakannya dengan baik. Pesta kostum, Christmas party, menghias pohon natal, kegiatan bakti sosial, memegang tiket liburan ke negara yang sedang musim dingin. Juga, pastinya berbelanja hadiah Natal atau untuk cross kado, beli aksesori Natal, seperti topi Santa, dasi bercorak Snowman, bando Rudolf, dll. 

Bicara soal Natal, saya jadi teringat waktu masih kecil dulu, saya termasuk anak kecil yang memercayai bahwa ada hadiah dari Santa Claus. Biasanya sekitar awal bulan Desember, saya dan adik-adik memotong rumput, memasukkannya ke dalam sepatu kami, lalu menaruhnya di sebelah bantal, dan kami pun tertidur. Keesokan paginya kami memperoleh hadiah dengan kartu natal bertulisan tangan yang tidak dikenal, berisi, “Jadilah anak yang baik dan menurut kepada orang tua, dst” Ya, saat itu saya berpikir, “Ini memang dari Santa. This is magic." 

Kegiatan ini terus saya lakukan setiap tahun. Sampai dengan suatu kali, tidak ada hadiah apapun di samping bantal kami. Alhasil, kami terus menaruhnya di sana hingga pertengahan bulan, namun hasil tetaplah nihil. Saya langsung mengeluh di depan Ibu dengan cemberut, “Santa melupakan kami tahun ini.” Anehnya, Ibu saya menjawab, “Karena mami belum membeli hadiah, Sayang. Mami masih sibuk mengurus papi kamu setelah pulang dari rumah sakit.” (Saat itu ayah saya dalam masa pemulihan akibat sakit hepatitis B). Jujur, saya tidak terlalu mengerti dengan jawabannya. Mungkin Ibu saya melihatnya, sehingga beliau melanjutkan kembali, “Selama ini Mami Papi yang membeli dan menaruh hadiah tersebut di samping bantal kalian.”

“Tapi, tulisan di kartu berbeda dengan tulisan mami?”
“Yah, Mami bedain dong. Kalau tidak kamu tahu yang menulis Mami.”
Saya langsung mengerti kenapa pesan-pesan di kartu natal selama ini terdengar familiar

Yah, saya rasa Anda tahu sesudahnya, bukan? Saya tidak pernah menaruh apapun lagi di samping bantal. Serta, berhenti berpikir bahwa hadiah dari Santa merupakan sesuatu yang magic.

Tapi, pernahkah Anda mengalaminya? Atau, mungkin Anda salah satu orang yang seperti saya, memercayai hadiah dari Santa. Hahaha… Senang rasanya tidak menjadi satu-satunya anak yang berpikir demikian. Dan dengan seiring berjalannya waktu, saya juga semakin menyadari bahwa keajaiban (MAGIC), tidak hanya terjadi menjelang atau saat Natal saja. Sesungguhnya, terjadi setiap hari. Bahkan Anda pun seorang keajaiban sebenarnya.

Sekitar dua minggu yang lalu, hari itu adalah hari Senin, saya bertemu tidak sengaja (dalam kamar mandi wanita), CEO dari Toko Buku (TB) Books and Beyond (B&B). Karena kami bekerja dalam satu groups, saya mengenalnya, bahkan telah beberapa kali mewawancarai beliau untuk keperluan publikasi. Saya langsung saja memberitahu, “Bu, saya ada menulis buku dan buku tersebut baru diterbitkan sekitar satu bulan yang lalu. Saya bermaksud menawarkannya ke ibu dan berharap buku saya bisa dimasukkan ke dalam TB B&B.” Ternyata perkataan saya langsung disambut baik oleh beliau. Sore harinya, saya memberikan sampel buku dan surat penawaran. Selasa pagi, keesokan harinya, saya menerima e-mail untuk mengatur pertemuan. Saya langsung membalas e-mail, pertemuan sebaiknya dilakukan hari Kamis saja, ketika jam saya makan siang.

Tibalah hari Kamis, saya bersama dengan penerbit bertemu B&B. Pertemuannya sendiri tidak memakan waktu lama, namun mereka memberitahu siap memasukkan buku saya ke dalam B&B. As simple as that, wow… Tidak berhenti sampai situ saja, B&B bertanya hal ini, “Ibu Eve, apakah sudah melakukan book launching?”
“Belum, karena jujur saya tidak siapkan budget untuk itu. Ditambah lagi kemarin masih sibuk menawarkan buku saya ke teman-teman.”
“Kami bisa memberikan tempat kok, Bu, and that’s for free. Di lantai 2 ini.” (Saya ternganga mendengarnya). “Ibu tinggal mendatangkan massa dan media saja” ucapnya tersenyum.

Ketika pulang dari sana, perasaan kami (saya dan penerbit) adalah overwhelmed, sambil terus berujar, “Ini keajaiban… Ini pasti Tuhan yang lancarkan… Ini pasti seijin Tuhan, dari Tuhan.” Kami langsung membahas book launching tersebut dan mulai membagi tugas. Bahkan penerbit saya sudah menentukan waktunya, yaitu sekitar bulan Februari 2015. & guess what, at this moment, preparation of book launching is something happening for me...

I got the magic in me
Every time I touch that track it turns into gold
Everybody knows I've got the magic in me
(Lirik lagu "Magic In Me". Penyanyi: B.O.B) 

16 Juni 2014

I Love my Country, Indonesia

Sungguh menarik sekali yang kualami pada hari Minggu (15 Jun 2014) kemarin...

Pertama-tama, aku akan menceritakan satu hal dulu. Minggu lalu, tepatnya sekitar hari Selasa (10 Jun), kantorku kedatangan anak magang dari luar negeri, Amerika tepatnya. Ia bernama Mary dan ia masih sangat muda...

Telah beberapa kali ia menanyakan padaku jalan paling aman dan nyaman ke Jakarta. Karena kami tinggal di daerah Tangerang, aku menyarankannya untuk menggunakan shuttle bus yang selalu stand-by setiap jam di halte mal terdekat. Kuberitahukan juga tempat-tempat pemberhentian shuttle bus di Jakarta. Kemudian kulanjutkan, "Sesampainya di Jakarta, kamu bisa menggunakan transportasi busway yang akan melewati setiap jalan protokol atau jalan besar di Jakarta", kataku.

Tapi, sepanjang aku menjelaskan padanya, jujur saja, ada perasaan sedikit menggelitik, apakah dia mengerti semua yang kujelaskan ini, bagaimana kalau dia nyasar atau tidak sampai di tujuan, pikirku. Sehingga, kuputuskan untuk mengantar dan memperlihatkan semua hal yang kubicarakan itu padanya hari Minggu. "Juga sekalian kamu kuliner, mencoba beberapa masakan Indonesia," sambungku.

Ternyata pada hari Sabtu, ia telah pergi sendiri ke Jakarta. Katanya, "Menggunakan shuttle bus." Aku sempat bernapas lega, berarti ia menangkap semua yang kuterangkan. Dan sesuai janji, hari Minggu aku akan menemaninya berkeliling Jakarta, semenjak siang hingga malam. 

Hari Minggu tiba, kujemput Mary di lobi Pacific Place Mall. Meski cuaca sedang hujan deras, tapi entah kenapa, rasa semangatku juga meluap-luap, sama persis dengan perasaannya saat memasuki mobilku. Aku langsung jalan, berencana melewati FX mal, yang menjadi salah satu tempat pemberhentian shuttle bus. Saat itulah Mary baru bercerita. Ternyata yang dimaksudnya dengan shuttle bus (yang digunakannya hari Sabtu kemarin) adalah bis umum. Waktu mendengarnya, sontak aku terkaget-kaget, menaikinya saja aku tidak pernah, tapi ia pergi ke Jakarta menggunakan bis itu? Aku langsung melarang Mary menggunakannya lagi. Ia pun mengakui sedikit merasa takut ketika berada di dalamnya. Syukurlah Tuhan sangat baik padanya, karena menempatkan satu orang pria yang cukup fasih berbahasa Inggris, memberinya arahan, bahkan ikut turun menemani Mary. Aku berkata, "Ya, Tuhan sangat peduli padamu, Mary." Lalu aku membuatnya berjanji untuk tidak menaiki bis itu lagi dan menunjukkan seperti apa shuttle bus yang sesungguhnya. Kulihat ia mencatatnya...

Nah kejadian berikut inilah, saat kami sangat bersenang-senang... 
Kuajak Mary mencoba nasi goreng iga di Plaza Indonesia mal. Tak lupa sesudahnya, kami pergi beribadah ke gerejaku yang terletak tepat di seberangnya. Syukurlah ia menikmati ibadah di sana... Sepulangnya, kembali kuajak Mary mencoba makanan di daerah Pecenongan. Awalnya, kami menyantap hot plate daging campur dan cah kangkung, di mana ia mengaku inilah pertama kalinya mencoba sayuran kangkung itu. Selanjutnya, kubawa ia mencoba salah satu makanan khas jalan itu, tak lain dan tak bukan, "Martabak Nutella", asli buatan "Perintis Martabak Pecenongan". Mary sangat memuji-muji setiap makanan yang dicobanya. Ia pulang dengan perasaan puas dan sukacita...

Ketika aku di rumah, berbaring di tempat tidurku, kulewati lagi ingatan sepanjang hari dengannya. Aku menyadari satu hal, ternyata aku sangat menyukai hal ini, menjadi host atau tuan rumah. Dan aku rasa semua itu bisa terjadi, karena aku mencintai negaraku, Indonesia. Aku ingat berulang kali mengatakan hal ini pada Mary, "Kupikir, yang harus kamu lakukan ketika mengunjungi negara lain adalah mencoba sebanyak mungkin ciri khas negara tersebut. Karena untuk apa menempuh perjalanan jauh -juga berjam-jam lamanya- kalau ujung-ujungnya hanya menikmati sesuatu yang sesungguhnya ada juga di negaramu?" Ia mengangguk tanda setuju...

Di samping itu, tak henti-hentinya, aku bercerita soal berbagai kebiasaan dan habit orang Indonesia. Syukurlah, dalam perjalanan ke Pecenongan, kami melewati Monas, dan di sana sedang diadakan Pasar Rakyat. Meski jalanan sangat macet -untuk ukuran hari Minggu- kami sempat dilalui delman, bajaj, dan Ondel-ondel. Juga beberapa macam jajanan murah di samping jalan Monas. Kuberitahu kepadanya satu per satu dengan bangga...

Dan ketika kuperkenalkan Mary kepada teman-temanku, mereka juga sangat menyambut hangat. Membuat Mary sangat nyaman dan berkata, "Orang Indonesia memang baik-baik. Aku mau pergi lagi ke gerejamu dan berkumpul bersama teman-temanmu, Eve." Tentu saja, aku akan mengajaknya lagi di lain waktu. 

Kurasa siapapun bisa menjadi tour guide, selama ia menyukai hal tersebut... Dan entah kenapa aku punya perasaan akan mengalaminya lagi di kemudian hari. Sepertinya, dengan tamu-tamu orang asing lainnya, dan perjalanan yang berbeda pula. Tentunya, aku harus semakin memelajari negaraku dengan lebih baik. Siapa tahu kali ini kami akan pergi ke luar kota, dan ia akan semakin melihat keindahan negaraku Indonesia, pikirku dalam hati. Ya, bisa jadi... *fingercrossed

29 Juli 2011

Nerry's Comfort Zone


Di dekat rumahku, ada salah seorang tetangga yang adalah pembantu rumah tangga. Ia baru saja dititipi anjing Golden Retriever oleh salah satu majikannya.
Mungkin kamu bingung mengapa aku berkata, “Salah satu majikannya?” Karena rumah yang ditinggali olehnya sebenarnya merupakan rumah milik majikan (aslinya) yang tinggal di Jakarta. Si Mbak hanya dititipi saja. Tapi, ia boleh tinggal bebas di situ dan memeliharanya/mendekorasi (memasang lampu hias, menempelkan poster-poster, memakai air, listrik, dsb). Dan kalau boleh kukatakan, rumahnya sangat bersih, meski tidak banyak perabotnya.
Untuk memenuhi kebutuhan (karena si mbak hanya dititipi saja :p), ia memutuskan untuk bekerja keliling menjadi pembantu harian dari beberapa orang majikan. Ia menyebutnya, "Bos-ku." 
Selama ini si Mbak merasa beruntung karena katanya, "Bos-ku selama ini baik-baik Non... Biar kata agak jauh rumahnya, tapi saya sih betah saja kerja di situ..." Yahh, lucky her... Cuma kalau menurutku sih, selain beruntung mendapat majikan yang baik, si Mbak juga orangnya memang sangat baik dan rajin, jadi rasanya ia tidak akan mengalami kesulitan bekerja di manapun dan bersama siapapun.
Oke, kembali lagi ke anjing Golden Retriever betina, warna putih, bernama Nerry yang usianya baru saja 6 bulan. Tapi selayaknya anjing Retriever, tubuhnya sudah bertumbuh sesuai dengan batas tingginya. Jadi rasanya ia tidak akan meninggi lagi, mungkin yang terjadi adalah melebar ke samping. Ya, aku yakin begitu...

Nah, Nerry persis sekali dengan foto ini
Nerry adalah anjing dari majikannya si Mbak yang sedang pulang ke negaranya, Korea, untuk berlibur sejenak. Nah, Nerry dititipi (juga) ke mbak. Tapi semua kebutuhannya sudah tentu disediakan, sekarung dog food, tempat makan dan minumnya, sisir, tali untuk berjalan-jalan, sampo anjing, bahkan vitamin, dan beberapa obat-obatan untuk hewan (yang adalah obat merah, minyak tawon, dsb :p)
Karena kesukaanku akan anjing, rumah si Mbak menjadi tempat yang sering kukunjungi dalam 2 minggu belakangan. Lagipula aku memang berencana tidak pergi kemana-mana juga selama seminggu ini (pas banget), hanya ingin berdiam di rumah, karena ada 2 deadline tulisan yang harus diselesaikan. Dan percayalah, aku betah-betah saja tidak kemana-mana...
Waktu hari pertama aku mengunjungi Nerry dan membelai-belainya, aku sudah (langsung) memutuskan untuk mengajaknya jalan-jalan, yang disambut riang gembira (sekali, kalo boleh kutambahkan) oleh Nerry. Ia sampai-sampai tidak bisa diam dengan menyalak sejadi-jadinya, seolah-olah berkata, "Hore.. hore.. Asik.. asik.. Kita akan berjalan-jalan..." Tentu saja aku mengerti, karena sejak menonton acara 'Dog Whisperer' (Cesar Milan), aku semakin yakin bahwa rutinitas yang harus dilakukan setiap hari adalah mengajak jalan. 
Hanya saja ternyata aku salah menduga, entah kenapa anjing ini tidak suka berjalan lama-lama... Apakah penyebabnya karena cuaca sore itu yang agak panas atau (mungkin) energinya sudah terkuras habis saat ia berlompat-lompat tadi. Aku melihatnya dengan lesu ketika Nerry sudah berbaring di tengah jalan raya kompleks, 10 menit kemudian. Ia benar-benar berbaring di sana dan tidak beranjak... Aku cukup khawatir memikirkannya, masalahnya tubuh Nerry pasti sudah mencapai 27 kg, setengahnya dari berat badanku. Aku tidak akan mungkin menggendongnya, bahkan aku gagal juga menariknya... Sampai dengan aku berkata, "Ayo dong Ner, wake up... Oke, kita pulang deh.." Tiba-tiba dia bangkit dan -tepatnya- menarikku pulang kembali ke rumah si Mbak. Aku sampai takjub melihatnya, sekaligus juga tertawa dalam hati. Sepertinya dia memang sangat mengerti dengan kata 'pulang' itu.
Sesampainya di rumah, Nerry langsung menuju tempat minumnya. Dengan tergesa-gesa, juga pasrah, ia menurut saja diikat kembali oleh si Mbak, lalu menjulurkan tangannya, tanda ingin 'bersalaman' dan aku menyambutnya. Namun ternyata tanganku tidak mau dilepasnya.
Aku tahu maksud Nerry, ia tidak mengijinkanku pulang ke 'rumahku,' ia masih ingin aku tetap di sana membelai-belainya, mengusap hidungnya, dan sedikit memberi pijatan di kepalanya. Kulakukan semua itu sampai 4 menit lamanya dan dia tetap tidak membiarkanku pergi. Si mbak pun berkata, "Dia tau tuh, Non, kalo sama Non dia disayang-sayang. Makanya dia nggak ijinin Non pulang."
Aku berpikir... Berarti secara nggak langsung, aku telah memberi kenyamanan kepada anjing ini. Meskipun perjumpaan kami terbilang singkat (dan rasanya tidak sampai 30 menit, dari pertama kali aku menghampiri rumah si Mbak hingga mengajaknya jalan-jalan), tapi Nerry merasa nyaman berada di dekatku (yang adalah orang asing) dibanding si Mbak. Padahal si Mbak yang memberinya makan, menyisirnya, tapi aku yang dia harapkan berada di sisinya. 
Cukup kagum aku dibuatnya, berhasil memberi kenyamanan kepada seekor anjing lagi... Dulu aku pernah berada di situasi yang sama, hanya saja anjingnya waktu itu adalah anjingku sendiri, yaitu Zacky, Doogie, Lea, dan terakhir adalah Cathy dengan 2 anaknya, Diane dan Florence. Memoriku sedikit mengenang mereka sebentar, sambil tersenyum-senyum sendiri...
Secara pribadi, aku sih senang-senang saja tiap hari kesana, membelainya dan mengajaknya jalan, toh cuma itu kerjaanku... Ringan... :p Yang berat-berat (memberinya makan, menyisir, membersihkan kotorannya) justru adalah pekerjaan si Mbak. Hehe... Aku seperti memiliki anjing, yang tidak ada bebannya... ;) Enaknya...
5 menit kemudian, aku diijinkan pulang oleh Nerry karena matanya sudah mulai tertutup sedikit. Sepertinya ia mulai capai dan mengantuk. Aku langsung pamit ke si Mbak (dan anaknya yang sedang berkunjung dari kampungnya), mengelus Nerry terakhir kali dan melambai, sambil berjanji, "Besok aku akan ajakin jalan-jalan lagi ya Mbak.."
Nerry sempat gusar waktu aku berjalan menjauhi rumah si Mbak. Ia pun bangkit lagi, tapi kali ini tidak menggonggong. Aku sempat berteriak kecil padanya, "Besok kita ketemu lagi ya Ner.. Jalan-jalannya lanjut besok.." Lagi-lagi, anjing itu tampaknya mengerti ucapanku, ia mengibas-ngibaskan ekornya sambil kaki depannya berdiri di tembok sebatas lutut di sebelahnya. 
Aku pun akhirnya bisa pulang ke rumah... :D