01 Desember 2014

MAGIC Christmas? A Magic Definitely Doesn’t Only Happened on Christmas


Magic Christmas = You are the magic Christmas
Christmas is near...
Sungguh tak terasa… Kita sudah memasuki hari pertama di bulan Desember. Yes, time flies

Apakah Anda telah mempunyai acara nanti? Atau mungkin sudah tak sabar menunggu libur panjang di akhir tahun? Sebagian besar teman saya sudah merencanakannya dengan baik. Pesta kostum, Christmas party, menghias pohon natal, kegiatan bakti sosial, memegang tiket liburan ke negara yang sedang musim dingin. Juga, pastinya berbelanja hadiah Natal atau untuk cross kado, beli aksesori Natal, seperti topi Santa, dasi bercorak Snowman, bando Rudolf, dll. 

Bicara soal Natal, saya jadi teringat waktu masih kecil dulu, saya termasuk anak kecil yang memercayai bahwa ada hadiah dari Santa Claus. Biasanya sekitar awal bulan Desember, saya dan adik-adik memotong rumput, memasukkannya ke dalam sepatu kami, lalu menaruhnya di sebelah bantal, dan kami pun tertidur. Keesokan paginya kami memperoleh hadiah dengan kartu natal bertulisan tangan yang tidak dikenal, berisi, “Jadilah anak yang baik dan menurut kepada orang tua, dst” Ya, saat itu saya berpikir, “Ini memang dari Santa. This is magic." 

Kegiatan ini terus saya lakukan setiap tahun. Sampai dengan suatu kali, tidak ada hadiah apapun di samping bantal kami. Alhasil, kami terus menaruhnya di sana hingga pertengahan bulan, namun hasil tetaplah nihil. Saya langsung mengeluh di depan Ibu dengan cemberut, “Santa melupakan kami tahun ini.” Anehnya, Ibu saya menjawab, “Karena mami belum membeli hadiah, Sayang. Mami masih sibuk mengurus papi kamu setelah pulang dari rumah sakit.” (Saat itu ayah saya dalam masa pemulihan akibat sakit hepatitis B). Jujur, saya tidak terlalu mengerti dengan jawabannya. Mungkin Ibu saya melihatnya, sehingga beliau melanjutkan kembali, “Selama ini Mami Papi yang membeli dan menaruh hadiah tersebut di samping bantal kalian.”

“Tapi, tulisan di kartu berbeda dengan tulisan mami?”
“Yah, Mami bedain dong. Kalau tidak kamu tahu yang menulis Mami.”
Saya langsung mengerti kenapa pesan-pesan di kartu natal selama ini terdengar familiar

Yah, saya rasa Anda tahu sesudahnya, bukan? Saya tidak pernah menaruh apapun lagi di samping bantal. Serta, berhenti berpikir bahwa hadiah dari Santa merupakan sesuatu yang magic.

Tapi, pernahkah Anda mengalaminya? Atau, mungkin Anda salah satu orang yang seperti saya, memercayai hadiah dari Santa. Hahaha… Senang rasanya tidak menjadi satu-satunya anak yang berpikir demikian. Dan dengan seiring berjalannya waktu, saya juga semakin menyadari bahwa keajaiban (MAGIC), tidak hanya terjadi menjelang atau saat Natal saja. Sesungguhnya, terjadi setiap hari. Bahkan Anda pun seorang keajaiban sebenarnya.

Sekitar dua minggu yang lalu, hari itu adalah hari Senin, saya bertemu tidak sengaja (dalam kamar mandi wanita), CEO dari Toko Buku (TB) Books and Beyond (B&B). Karena kami bekerja dalam satu groups, saya mengenalnya, bahkan telah beberapa kali mewawancarai beliau untuk keperluan publikasi. Saya langsung saja memberitahu, “Bu, saya ada menulis buku dan buku tersebut baru diterbitkan sekitar satu bulan yang lalu. Saya bermaksud menawarkannya ke ibu dan berharap buku saya bisa dimasukkan ke dalam TB B&B.” Ternyata perkataan saya langsung disambut baik oleh beliau. Sore harinya, saya memberikan sampel buku dan surat penawaran. Selasa pagi, keesokan harinya, saya menerima e-mail untuk mengatur pertemuan. Saya langsung membalas e-mail, pertemuan sebaiknya dilakukan hari Kamis saja, ketika jam saya makan siang.

Tibalah hari Kamis, saya bersama dengan penerbit bertemu B&B. Pertemuannya sendiri tidak memakan waktu lama, namun mereka memberitahu siap memasukkan buku saya ke dalam B&B. As simple as that, wow… Tidak berhenti sampai situ saja, B&B bertanya hal ini, “Ibu Eve, apakah sudah melakukan book launching?”
“Belum, karena jujur saya tidak siapkan budget untuk itu. Ditambah lagi kemarin masih sibuk menawarkan buku saya ke teman-teman.”
“Kami bisa memberikan tempat kok, Bu, and that’s for free. Di lantai 2 ini.” (Saya ternganga mendengarnya). “Ibu tinggal mendatangkan massa dan media saja” ucapnya tersenyum.

Ketika pulang dari sana, perasaan kami (saya dan penerbit) adalah overwhelmed, sambil terus berujar, “Ini keajaiban… Ini pasti Tuhan yang lancarkan… Ini pasti seijin Tuhan, dari Tuhan.” Kami langsung membahas book launching tersebut dan mulai membagi tugas. Bahkan penerbit saya sudah menentukan waktunya, yaitu sekitar bulan Februari 2015. & guess what, at this moment, preparation of book launching is something happening for me...

I got the magic in me
Every time I touch that track it turns into gold
Everybody knows I've got the magic in me
(Lirik lagu "Magic In Me". Penyanyi: B.O.B) 

13 November 2014

Menikah Bukanlah Jalan Keluarnya


Suatu hari, saya mendapat pertanyaan seperti ini dalam sebuah acara talk show di komunitas, "Mengapa saya masih sendiri? Padahal dalam segi umur saya sudah siap. Apakah ini pertanda saya akan sendirian terus?" Saat mendengar pertanyaan tersebut, saya langsung jujur mengungkapkan, "Inilah alasan saya menulis buku Are You Still 'Single'?"

Pasalnya saya mengerti, tak sedikit wanita yang memiliki pertanyaan sama. Dan kemudian berpikir, "Apakah karena aku tidak cantik lagi... Apakah karena pria takut/merasa terintimidasi denganku... Apakah ada yang salah dengan diriku..." Jawaban yang akhirnya menjadi bab-bab buku saya. 

Seperti yang saya tulis di buku, tidak ada jaminan juga saat Anda membaca habis buku saya, tiba-tiba 'the right one' itu muncul di depan mata. Ta daa... No... (Tapi jika hal itu terjadi pada Anda, ijinkan saya memeluk Anda nanti saat bertemu. Saya turut berbahagia).

Saudariku, menikah bukanlah jalan keluarnya...

Isu Anda untuk menikah bukanlah usia atau bertambahnya usia, tetapi harusnya kesiapan. 
Artinya, ketika Anda menikah nanti, semua itu akibat kesiapan Anda, karena Anda benar-benar telah siap memasuki dunia pernikahan, BUKAN lantaran umur kian bertambah.

Menyambung pertanyaan di atas, "Kenapa dan mengapa?" Saya kira bukan ini pertanyaan yang tepat. Toh juga semakin kita pertanyakan, semakin kita kepikiran dan merasa khawatir. Namun, saya ingin mengajak Anda semua mengubahnya menjadi, "Apa yang bisa kulakukan dalam masa jomblo ini?"

Karena let me tell you my beautiful friends, Anda mempunyai banyak 'persiapan' yang bisa dilakukan. Tidak hanya sekadar persiapan keuangan membeli gaun pengantin impian ataupun perawatan kecantikan, lebih dari itu... Anda dapat mengisinya dengan belajar masak, membaca buku mengenai relationship dan/atau parenting, mengikuti sebuah kursus, tergabung dalam sebuah badan organisasi, mingle dengan komunitas yang hobinya sama dengan Anda, rutin ikut seminar dan workshop mengenai kesehatan, rajin nge-gym dan menjaga gaya hidup sehat, berlibur bersama keluarga, menghabiskan waktu bersama dengan sahabat (atau saya menyebutnya girlfriends), dll. 

Upgrade diri Anda... Tingkatkan kualitas kecantikan Anda... *wink
Biarlah mereka dapat melihat keindahan luar dan dalam Anda.
Dan lihatlah, bukankah dunia Anda menjadi sangat menarik, berwarna dan hidup. Anda menikmati masa tersebut. Bertahan tidak ada dalam kamus Anda...

Kita memang tidak pernah tahu sampai kapan akan menyendiri, tapi di 'musim/momen' ini, saya juga tidak berharap Anda tidak menikmatinya. Besar harapan saya Anda dapat terus 'hidup' dan berhasil. Layaknya, teman-teman saya yang hendak pergi berlibur ke negara yang sedang mengalami musim dingin. Mereka mempersiapkannya dengan riang gembira, belanja pakaian dingin, jaket, sweater, pelembap wajah, make up, bahkan perlengkapan ski. Kesiapannya meluapkan semangat yang ikut saya rasakan juga, meski saya tidak turut serta.

Kemudian di sana, saya yakin, mereka tidak akan mengenakan pakaian musim kemaraunya, celana pendek ataupun kaus. Mereka tidak mau bertahan di musim dingin, mereka ingin berjalan-jalan menikmati pemandangan dan keindahannya. Mereka siap dan mencoba menikmati musim yang baru ini. Alih-alih bersembunyi, menghindar, apalagi tidak mau keluar, berharap musim ini tidak nyata dan segera berlalu. Nope... 

Sahabatku yang cantik, pernah ada pepatah yang bagus berkata, "Menjadi tua adalah sebuah keharusan. Menjadi dewasa adalah sebuah pilihan." Usia akan terus bertambah, tapi biarlah kita semkin bijak, dewasa, matang, komplit. Single forever...

Jadilah sibuk mempersiapkan diri sendiri... Sehingga hidup Anda berada dalam keadaan siap. Dan saat Tuhan membawa Anda memasuki musim yang baru, seperti pacaran/ tunangan/menikah/menjadi istri/menjadi ibu, Anda telah siap. Bukannya kalang-kabut lagi bersiap-siap, baru belajar sana-sini. Akhirnya, tidak menikmati momen tersebut, karena sudah keburu capai atau lelah. 

Tidak, justru sekaranglah waktunya...

"The bad news is time flies, the good news is you are the pilot" (Michael Altshuler)

20 Oktober 2014

Apakah Salah Kalau Wanita Memiliki Standar/Kriteria Untuk Pria?

Pertanyaan di atas pernah beberapa kali ditanyakan ke saya oleh beberapa orang teman. Datangnya juga random, berasal dari wanita maupun pria. "Apakah seorang wanita perlu memiliki standar/kriteria? Dan salahkah kalau memilikinya, takut terlalu tinggi atau malah terlalu rendah?"

Waktu ditanya pertama kali, saya sempat terdiam sejenak. Tapi setelah saya renungkan, kembali saya berpikir bahwa hal ini sangat penting. Ya, penting bagi wanita memiliki standar atau kriteria pria yang diinginkannya... 

Seperti ketika hendak mengikuti sebuah ekstrakurikuler atau bergabung dalam komunitas. Pertama-tama, yang akan kita perhatikan tentu standar yang diinginkan dan apakah ketentuannya sesuai dengan yang diharapkan. Kita tidak mungkin masuk komunitas bikers (misalnya), kalau kita saja tidak bisa naik sepeda (seperti saya, hehe...). Atau masuk dalam sanggar tari, tapi waktu latihan selalu bentrok dengan waktu kuliah. Jelas, kita akan berpikir ulang... Bahkan saya yakin, ketika kita telah menjadi anggota dari salah satu tempat gym yang memiliki beragam kelas atraktif pun, kita akan melakukan hal yang sama, memilih kelas yang sesuai dengan standar/kriteria kita. Mungkin kita akan coba-coba dulu di awalnya, tapi setelah itu, kita pasti akan mengambil keputusan mengikuti kelas-kelas tertentu saja.

Juga, ketika melamar pekerjaan. Yang akan kita pilih adalah standar sesuai pendidikan atau kesukaan/passion kita. Jarang sekali (bukan berarti tidak mungkin), kita memilih pekerjaan yang belum pernah kita pelajari atau mengerti lantaran ingin mencobanya dulu, ataupun ingin tahu seperti apa dunia tersebut. Mungkin kita akan melakukan pekerjaan ini sebagai pekerjaan tambahan atau part-time. Tapi, saya kira perasaan "ingin coba-coba" biasanya berlangsung sementara, jarang lama, dan akhirnya berujung pada keputusan ingin melanjutkan atau menghentikannya.

Maka, begitu juga dengan pemikiran, perlukah seorang wanita memiliki standar untuk pria dalam hidupnya, terutama jika hubungan yang dijalani ke depannya akan serius. Jelas saya katakan, "SANGAT PERLU..."

Ditambah lagi kenyataannya hingga saat ini saya belum pernah mendengar ada seorang yang berkata, "Saya mau pacaran sama siapa saja. Tak peduli dia baru membunuh orang tadi malam atau baru masuk atau keluar dari penjara. Saya mau dengannya..." Tolong selamatkan dan bangunkan teman Anda yang berkata demikian :)

Sehingga, kalau penting untuk memiliki kriteria, pertanyaannya sekarang, "Apa standar/kriteria yang harus ada?" 
Nah, untuk menjawab pertanyaan ini, saya kira hanya Anda yang bisa menjawabnya, karena... 

Semua bergantung dari seberapa baik Anda mengenal diri sendiri

Jika Anda memahami diri sendiri dengan baik, tahu persis apa yang Anda suka dan tidak, apa yang ingin Anda raih ke depannya atau tidak, maka pria yang memiliki standar/kriteria tersebut, ia akan mendukung, bahkan membantu Anda menuju ke sana. Dan itu semua dapat terjadi akibat pengenalan diri Anda sendiri...

Ibarat sebuah pengukuran, kita akan terbiasa menempatkan sesuatu berdasarkan urutannya. Beberapa berkata, "Yang terutama: Seiman". Yang lainnya, "Sudah mapan dan cinta keluarga." Ada juga yang berujar, "Yang penting: Dia dewasa. Jika sudah duda/janda, tidak apa." Well, untuk ketentuan ini saya akan bebaskan Anda berpikir. Karena, lagi, hanya Anda yang dapat menjawab dan menentukannya.

Tapi bagi saya yang terpenting, alangkah baiknya kalau Anda memiliki standarnya dulu, terlepas seperti apa urutan/tingkatnya nanti buat Anda. Jangan terbalik, Sahabatku...

Di sebuah acara eliminasi atau kompetisi, tidak pernah kita lihat sebaliknya. Mulai dari: Top 1, Top 5, Top 10, Top 40, dst --> No, tidak pernah terjadi demikian. Selalu dimulai dari banyak menjadi sedikit: Top 20, Top 10, Top 5, Top 3, akhirnya pemenang Top1. 


Begitu juga dalam menentukan standar/kriteria pria untuk Anda. Adalah normal kalau Anda memiliki standar/kriteria yang sangat banyak di awal. Ini tidak buruk, justru pertanda Anda sangat mengenal diri sendiri dengan baik. Tapi pada akhirnya, Anda akan mulai menempatkannya dalam Top 10, Top 5, Top 3. Justru bukan tak mungkin urutannya jadi berganti, yang tadinya prioritas turun ke nomor 2, yang tadinya ada menjadi Anda buang karena ada yang lebih penting.

Jadi, Sahabtku, hanya Anda yang dapat membuatnya terlalu tinggi atau terlalu rendah. Harapan saya, teruslah bijak dalam menentukannya karena ini tentang masa depan Anda. So obviously, you must think about it so serious...


Buku "Are You Still 'Single'?" masih:
Harga Promosi Rp 58.000,- s/d pembeli ke-500
Jika membeli 9 buku, gratis 1 buku untuk kamu
Dapat dikirim via pos

For order, please contact me: 08159878975
WA: 081805509562. Email: evelyne.priscilla@gmail.com

29 Agustus 2014

Apa saja kata Mereka? (Bagian 2)


Suatu kali,
saya pernah memberikan pertanyaan ini kepada sebanyak mungkin teman wanita yang masih lajang dan saya kenal karib, 
"Menurut kamu, why are you still single so far?"
Dari sinilah saya memperoleh 10 jawabannya.
Dan akhirnya menjadi ide dasar (atau kerangka karangan) 
dari buku pertama saya.
Check it out!


5. "Masih banyak hal yang lebih penting"
Maksudnya di sini adalah bicara tentang fokus. Para wanita ini lebih memilih untuk membiayai sekolah adik-adiknya terlebih dulu atau menjadi tulang punggung keluarga, maupun berkarier, ketimbang punya pacar. Bahkan, di antara mereka ada juga yang telah terikat kontrak dengan perusahaan tempatnya bekerja hingga beberapa waktu ke depan untuk tidak menikah. Sehingga, berpacaran atau menikah masih bisa ditunda, setidaknya sampai keadaan menjadi lebih baik. Lagipula, kalau pacaran dan menjadi tulang punggung keluarga dijalani bersamaan, belum tentu hasilnya maksimal, bisa-bisa malah berantakan. Jadi, memang lebih baik fokus satu-per-satu.

6. "Baru saja putus, pernah batal menikah, atau bercerai sebelumnya"
Saya bersimpati saat mendengar para wanita ini bercerita tentang kisah hidup percintaannya, sekaligus juga merasa kagum menyaksikan kegigihan mereka untuk tidak menyerah, apalagi menjadi korban trauma. "I won't give up loving somebody," demikian kata mereka. Hanya saja pada kenyataannya, perkataan ini tidak semudah yang diucapkan mulut. Walau telah berpisah dua minggu atau satu tahun, tiga tahun lamanya, keadaannya tidaklah berbeda. Mereka masih memendam perasaan terhadap si mantan dulu, bahkan semakin berlarut-larut memikirkannya. Sehingga, setiap kenangan membawa mereka ke masa lampau kembali, mengakibatkan perasaan sedih ataupun tidak berarti muncul. 

Sudah menjadi sifat dasar wanita (memang) lebih sering menggunakan perasaannya ketimbang pikiran. Hal ini membuat wanita lebih sulit melupakan dibanding pria.

7. "Pernikahan itu sesuatu yang serius bagiku"
Pernikahan memang merupakan hal yang serius dan bukan main-main (permainan). Dibutuhkan kesadaran penuh untuk melalui tiap prosesnya. Setiap wanita tentu mendambakan pernikahan, namun pernikahan seperti apa yang diharapkan. Pernikahan adalah kerja keras, di mana Anda dan pasangan tidak akan mendapat cuti, kendatipun hanya satu hari. Sebagaimana ditulis Santo Aboeprajitno dalam Fatwa Cinta, "Pernikahan itu ibarat sekolah seumur hidup untuk belajar mencintai pasangannya."

Pernikahan dapat diartikan sebagai tiket sekali jalan, yang hanya ditujukan bagi "Orang dewasa" BUKAN "Anak-anak." Itu sebabnya, kita perlu memandang nilai diri kita dengan serius, serta memahami urutan yang sepatutnya terjadi dalam sebuah hubungan. Anda harus menghormati diri sendiri dan memperlakukannya secara istimewa, karena memang begitulah adanya diri Anda. 

8. "Mungkin karena aku sudah punya segalanya, pria jadi takut berhubungan denganku"
Jawaban ini malah keterbalikan dari jawaban pertama. Kelompok wanita yang menjawab demikian, justru berpenampilan lebih sederhana. Mereka lebih memilih naik busway dibanding mengemudi mobilnya sendiri. Kalau pun berkendara, mereka akan memilih mobil kantor yang relatif kuno, daripada mobil matic (milik pribadi) yang tentunya lebih memberi kenyamanan, terutama di tengah kemacetan lalu-lintas. 

Saat melihat penampilan mereka, sepertinya tidak ada yang mengira kalau pribadi/diri mereka bisa menakutkan pria untuk menjalin hubungan. Mungkin saja pria akan berpikir sama seperti saya, Wanita-wanita ini begitu sederhana. Namun nyatanya, sejumlah wanita di luar sana masih berpikir sebaliknya.

9. "Karena laki-laki itu bodoh dan aku sudah lelah berhubungan dengan mereka"
Jawaban kali ini mengingatkan saya akan sebuah cerita di buku "More Taste Berries for Teens" karya Bettie B Young, Ph.D., Ed.D. dan Jennifer Leigh Youngs. Ada seorang gadis yang putus hubungan karena curiga pacarnya berselingkuh. Setiap hari ia dan teman-temannya menjelek-jelekkan sang mantan, juga wanita yang diduga selingkuhannya itu, hingga suatu hari ia mengetahui bahwa semuanya hanyalah gosip belaka. Ia merasa sangat bersalah dan buru-buru meminta maaf. Dengan perasaan bodoh akibat memercayai gosip begitu saja lantaran emosi, ia berkata pada teman-temannya, "Mulai hari ini, jangan ada lagi kata-kata buruk mengenai mereka. Maksudku, siapa sih aku ini? Jelas-jelas perbuatanku jauh lebih buruk. Aku memang sudah minta maaf, tapi rasa malu ini sepertinya tidak akan pernah hilang."

10. "Wah, tidak tahu deh kenapa aku masih jomblo sampai sekarang"
Kemudian, ia justru balik bertanya ke saya, "Menurut kamu kenapa?"


HAPPY READING *wink

22 Agustus 2014

Apa Saja Kata Mereka? (Bagian 1)


Suatu kali,
saya pernah memberikan pertanyaan ini kepada sebanyak mungkin teman wanita yang masih lajang dan saya kenal karib, 
"Menurut kamu, why are you still single so far?"
Dari sinilah saya memperoleh 10 jawabannya.
Dan akhirnya menjadi ide dasar (atau kerangka karangan) 
dari buku pertama saya.
Check it out!

Menyadari pertanyaan tersebut bersifat pribadi dan agak sensitif, maka saya menggunakan "Prinsip Garam" yang pernah saya baca dalam sebuah buku berjudul, "For Better or For Best Understanding Your Husband (Alasan Tersembunyi Mengapa Pria Berperilaku Tertentu)" ditulis oleh Dr. Gary Smalley. Buku yang ditujukan bagi kaum Hawa ini, menyodorkan sebuah prinsip menarik, yakni sifat garam yang pada dasarnya membuat orang haus. Menurut Dr. Gary, sebuah hubungan harusnya berhasil menciptakan dahaga akan percakapan yang membangun antara dirinya sendiri dengan orang lain. Sehingga hasilnya, masing-masing individu dapat mempelajari kebutuhan lawan bicaranya dengan baik. Well, saya sangat setuju...

Ibarat melakukan sebuah wawancara, Anda tidak akan pernah dipersiapkan banyak pertanyaan, melainkan hanya 3 atau 4 pertanyaan saja, di mana selebihnya harus Anda gali sendiri melalui pernyataan para narasumbernya, sambil memperhatikan dengan seksama setiap jawabannya. Karena dari situlah biasanya muncul penjelasan yang jujur. Ya, Anda hanya perlu mendengarnya dengan lebih cermat...

Untuk hal ini, gaya Oprah Winfrey maupun Najwa Shihab bisa dijadikan contoh. Menurut saya, mereka menggunakan prinsip garam saat mewawancarai narasumbernya. Terlihat sekali rasa haus yang sangat akan setiap jawaban narasumbernya. Tak henti-henti mereka melontarkan pertanyaan hingga semua menjadi jelas. Sampai-sampai penonton di studio ataupun di rumah ikut terhanyut merasakan suasananya.

Dengan cara yang sama, pertanyaan di atas saya ajukan. Akhirnya, diperoleh 10 jawaban yang diberikan oleh para wanita yang berani dan luar biasa ini:

1. "Mungkin karena aku sudah tidak cantik lagi"
Awalnya, merasa bingung juga mendengar jawaban ini keluar dari mulut mereka. Sebabnya, mereka termasuk wanita yang sangat cantik dan menarik. Sejujurnya, andai saya ini pria, tentu akan berpikir untuk mengejarnya. Mereka merupakan para wanita sophisticated yang penuh gaya dan hebat, lengkap dengan ciri-ciri: Menjinjing tas branded terkenal, sepatu tumit tinggi beralas merah, senyuman yang ramah, sikap yang akrab namun sopan, gadget yang selalu on, juga pekerjaan hebat yang dapat menunjang segalanya. Sungguh mengagumkan, bukan?

Namun, ketika pembicaraan berlanjut, saya baru mengerti alasannya, ternyata, "Aku merasa bingung saja. Padahal sudah seperti ini (sambil menunjuk dirinya sendiri), tapi kok belum laku ya? Padahal umur bertambah terus. Apakah karena kecantikanku sudah luntur?"

2. "Belum menemukan orang yang tepat"
Ini menjadi jawaban paling banyak yang diberikan. Saking banyaknya, juga karena "sedikit bosan" mendengar jawaban yang sama berulang-ulang, saya memutuskan memberi pertanyaan tambahan, "Lalu, apakah kamu sudah tahu standar atau kriteria pria yang kamu inginkan?"

Beberapa menjawab, "Tentu saja. Aku mau dia begini...begitu... Dan seterusnya," dengan bermimik muka penuh keyakinan, sampai-sampai saya pun ikut merasakan semangatnya, yang terpenting ia sudah mengetahui apa keinginannya. Lalu, ada juga yang menjawab dengan standar-standar, "Seiman. Baik. Ganteng. Sayang keluarga. Sayang saya. Pengertian. Dewasa. Kaya... Dan sebagainya." Namun, ada juga yang malah mengangkat bahunya sambil geleng-geleng kepala. Yah, Anda tentu mengerti maksudnya, bukan?

3. "Akunya saja yang belum mau. Santai saja"
Waktu mendengar jawaban ini, sempat terbersit pertanyaan dalam hati saya, Hmm, mau sampai kapan santainya? Kalau hanya sampai esok hari, mungkin saya tidak terlalu mengkhawatirkannya, walau kemudian sempat terganjal pikiran juga sih, "Kenapa harus santai sampai besok kalau sebenarnya bisa dimulai hari ini?"

4. "Masih muda. Masih banyak yang ingin aku lakukan"
Entah apa yang mendasari mereka menjawab demikian. Apakah mereka sungguh-sungguh merasa masih muda sehingga ibarat berkata, "Don't tell my age, I know that. But somehow, I still feel young and always excited for new things.

Atau, mungkinkah dikarenakan ketidaksiapan mereka, "Mumpung masih muda, rasanya sah-sah saja bersenang-senang dulu." Akhirnya mereka tidak membuat rencana, tidak mengatur waktu, tidak peduli. Mereka melakukannya semata-mata akibat sikap yang belum siap berkomitmen, sehingga tidak tahu ke arah mana hubungan yang sedang dijalankannya, bagaimana kelanjutannya, dan tidak berusaha mempersiapkannya juga. Mereka menjalani hari demi hari begitu saja, hanya mengisinya tanpa mengetahui dengan jelas tujuan memilih pria tersebut, alasan melakukan rutinitas tertentu. Dan sebagainya.

5. "Masih banyak hal yang lebih penting"

...to be continued...

16 Juni 2014

I Love my Country, Indonesia

Sungguh menarik sekali yang kualami pada hari Minggu (15 Jun 2014) kemarin...

Pertama-tama, aku akan menceritakan satu hal dulu. Minggu lalu, tepatnya sekitar hari Selasa (10 Jun), kantorku kedatangan anak magang dari luar negeri, Amerika tepatnya. Ia bernama Mary dan ia masih sangat muda...

Telah beberapa kali ia menanyakan padaku jalan paling aman dan nyaman ke Jakarta. Karena kami tinggal di daerah Tangerang, aku menyarankannya untuk menggunakan shuttle bus yang selalu stand-by setiap jam di halte mal terdekat. Kuberitahukan juga tempat-tempat pemberhentian shuttle bus di Jakarta. Kemudian kulanjutkan, "Sesampainya di Jakarta, kamu bisa menggunakan transportasi busway yang akan melewati setiap jalan protokol atau jalan besar di Jakarta", kataku.

Tapi, sepanjang aku menjelaskan padanya, jujur saja, ada perasaan sedikit menggelitik, apakah dia mengerti semua yang kujelaskan ini, bagaimana kalau dia nyasar atau tidak sampai di tujuan, pikirku. Sehingga, kuputuskan untuk mengantar dan memperlihatkan semua hal yang kubicarakan itu padanya hari Minggu. "Juga sekalian kamu kuliner, mencoba beberapa masakan Indonesia," sambungku.

Ternyata pada hari Sabtu, ia telah pergi sendiri ke Jakarta. Katanya, "Menggunakan shuttle bus." Aku sempat bernapas lega, berarti ia menangkap semua yang kuterangkan. Dan sesuai janji, hari Minggu aku akan menemaninya berkeliling Jakarta, semenjak siang hingga malam. 

Hari Minggu tiba, kujemput Mary di lobi Pacific Place Mall. Meski cuaca sedang hujan deras, tapi entah kenapa, rasa semangatku juga meluap-luap, sama persis dengan perasaannya saat memasuki mobilku. Aku langsung jalan, berencana melewati FX mal, yang menjadi salah satu tempat pemberhentian shuttle bus. Saat itulah Mary baru bercerita. Ternyata yang dimaksudnya dengan shuttle bus (yang digunakannya hari Sabtu kemarin) adalah bis umum. Waktu mendengarnya, sontak aku terkaget-kaget, menaikinya saja aku tidak pernah, tapi ia pergi ke Jakarta menggunakan bis itu? Aku langsung melarang Mary menggunakannya lagi. Ia pun mengakui sedikit merasa takut ketika berada di dalamnya. Syukurlah Tuhan sangat baik padanya, karena menempatkan satu orang pria yang cukup fasih berbahasa Inggris, memberinya arahan, bahkan ikut turun menemani Mary. Aku berkata, "Ya, Tuhan sangat peduli padamu, Mary." Lalu aku membuatnya berjanji untuk tidak menaiki bis itu lagi dan menunjukkan seperti apa shuttle bus yang sesungguhnya. Kulihat ia mencatatnya...

Nah kejadian berikut inilah, saat kami sangat bersenang-senang... 
Kuajak Mary mencoba nasi goreng iga di Plaza Indonesia mal. Tak lupa sesudahnya, kami pergi beribadah ke gerejaku yang terletak tepat di seberangnya. Syukurlah ia menikmati ibadah di sana... Sepulangnya, kembali kuajak Mary mencoba makanan di daerah Pecenongan. Awalnya, kami menyantap hot plate daging campur dan cah kangkung, di mana ia mengaku inilah pertama kalinya mencoba sayuran kangkung itu. Selanjutnya, kubawa ia mencoba salah satu makanan khas jalan itu, tak lain dan tak bukan, "Martabak Nutella", asli buatan "Perintis Martabak Pecenongan". Mary sangat memuji-muji setiap makanan yang dicobanya. Ia pulang dengan perasaan puas dan sukacita...

Ketika aku di rumah, berbaring di tempat tidurku, kulewati lagi ingatan sepanjang hari dengannya. Aku menyadari satu hal, ternyata aku sangat menyukai hal ini, menjadi host atau tuan rumah. Dan aku rasa semua itu bisa terjadi, karena aku mencintai negaraku, Indonesia. Aku ingat berulang kali mengatakan hal ini pada Mary, "Kupikir, yang harus kamu lakukan ketika mengunjungi negara lain adalah mencoba sebanyak mungkin ciri khas negara tersebut. Karena untuk apa menempuh perjalanan jauh -juga berjam-jam lamanya- kalau ujung-ujungnya hanya menikmati sesuatu yang sesungguhnya ada juga di negaramu?" Ia mengangguk tanda setuju...

Di samping itu, tak henti-hentinya, aku bercerita soal berbagai kebiasaan dan habit orang Indonesia. Syukurlah, dalam perjalanan ke Pecenongan, kami melewati Monas, dan di sana sedang diadakan Pasar Rakyat. Meski jalanan sangat macet -untuk ukuran hari Minggu- kami sempat dilalui delman, bajaj, dan Ondel-ondel. Juga beberapa macam jajanan murah di samping jalan Monas. Kuberitahu kepadanya satu per satu dengan bangga...

Dan ketika kuperkenalkan Mary kepada teman-temanku, mereka juga sangat menyambut hangat. Membuat Mary sangat nyaman dan berkata, "Orang Indonesia memang baik-baik. Aku mau pergi lagi ke gerejamu dan berkumpul bersama teman-temanmu, Eve." Tentu saja, aku akan mengajaknya lagi di lain waktu. 

Kurasa siapapun bisa menjadi tour guide, selama ia menyukai hal tersebut... Dan entah kenapa aku punya perasaan akan mengalaminya lagi di kemudian hari. Sepertinya, dengan tamu-tamu orang asing lainnya, dan perjalanan yang berbeda pula. Tentunya, aku harus semakin memelajari negaraku dengan lebih baik. Siapa tahu kali ini kami akan pergi ke luar kota, dan ia akan semakin melihat keindahan negaraku Indonesia, pikirku dalam hati. Ya, bisa jadi... *fingercrossed