20 Oktober 2014

Apakah Salah Kalau Wanita Memiliki Standar/Kriteria Untuk Pria?

Pertanyaan di atas pernah beberapa kali ditanyakan ke saya oleh beberapa orang teman. Datangnya juga random, berasal dari wanita maupun pria. "Apakah seorang wanita perlu memiliki standar/kriteria? Dan salahkah kalau memilikinya, takut terlalu tinggi atau malah terlalu rendah?"

Waktu ditanya pertama kali, saya sempat terdiam sejenak. Tapi setelah saya renungkan, kembali saya berpikir bahwa hal ini sangat penting. Ya, penting bagi wanita memiliki standar atau kriteria pria yang diinginkannya... 

Seperti ketika hendak mengikuti sebuah ekstrakurikuler atau bergabung dalam komunitas. Pertama-tama, yang akan kita perhatikan tentu standar yang diinginkan dan apakah ketentuannya sesuai dengan yang diharapkan. Kita tidak mungkin masuk komunitas bikers (misalnya), kalau kita saja tidak bisa naik sepeda (seperti saya, hehe...). Atau masuk dalam sanggar tari, tapi waktu latihan selalu bentrok dengan waktu kuliah. Jelas, kita akan berpikir ulang... Bahkan saya yakin, ketika kita telah menjadi anggota dari salah satu tempat gym yang memiliki beragam kelas atraktif pun, kita akan melakukan hal yang sama, memilih kelas yang sesuai dengan standar/kriteria kita. Mungkin kita akan coba-coba dulu di awalnya, tapi setelah itu, kita pasti akan mengambil keputusan mengikuti kelas-kelas tertentu saja.

Juga, ketika melamar pekerjaan. Yang akan kita pilih adalah standar sesuai pendidikan atau kesukaan/passion kita. Jarang sekali (bukan berarti tidak mungkin), kita memilih pekerjaan yang belum pernah kita pelajari atau mengerti lantaran ingin mencobanya dulu, ataupun ingin tahu seperti apa dunia tersebut. Mungkin kita akan melakukan pekerjaan ini sebagai pekerjaan tambahan atau part-time. Tapi, saya kira perasaan "ingin coba-coba" biasanya berlangsung sementara, jarang lama, dan akhirnya berujung pada keputusan ingin melanjutkan atau menghentikannya.

Maka, begitu juga dengan pemikiran, perlukah seorang wanita memiliki standar untuk pria dalam hidupnya, terutama jika hubungan yang dijalani ke depannya akan serius. Jelas saya katakan, "SANGAT PERLU..."

Ditambah lagi kenyataannya hingga saat ini saya belum pernah mendengar ada seorang yang berkata, "Saya mau pacaran sama siapa saja. Tak peduli dia baru membunuh orang tadi malam atau baru masuk atau keluar dari penjara. Saya mau dengannya..." Tolong selamatkan dan bangunkan teman Anda yang berkata demikian :)

Sehingga, kalau penting untuk memiliki kriteria, pertanyaannya sekarang, "Apa standar/kriteria yang harus ada?" 
Nah, untuk menjawab pertanyaan ini, saya kira hanya Anda yang bisa menjawabnya, karena... 

Semua bergantung dari seberapa baik Anda mengenal diri sendiri

Jika Anda memahami diri sendiri dengan baik, tahu persis apa yang Anda suka dan tidak, apa yang ingin Anda raih ke depannya atau tidak, maka pria yang memiliki standar/kriteria tersebut, ia akan mendukung, bahkan membantu Anda menuju ke sana. Dan itu semua dapat terjadi akibat pengenalan diri Anda sendiri...

Ibarat sebuah pengukuran, kita akan terbiasa menempatkan sesuatu berdasarkan urutannya. Beberapa berkata, "Yang terutama: Seiman". Yang lainnya, "Sudah mapan dan cinta keluarga." Ada juga yang berujar, "Yang penting: Dia dewasa. Jika sudah duda/janda, tidak apa." Well, untuk ketentuan ini saya akan bebaskan Anda berpikir. Karena, lagi, hanya Anda yang dapat menjawab dan menentukannya.

Tapi bagi saya yang terpenting, alangkah baiknya kalau Anda memiliki standarnya dulu, terlepas seperti apa urutan/tingkatnya nanti buat Anda. Jangan terbalik, Sahabatku...

Di sebuah acara eliminasi atau kompetisi, tidak pernah kita lihat sebaliknya. Mulai dari: Top 1, Top 5, Top 10, Top 40, dst --> No, tidak pernah terjadi demikian. Selalu dimulai dari banyak menjadi sedikit: Top 20, Top 10, Top 5, Top 3, akhirnya pemenang Top1. 


Begitu juga dalam menentukan standar/kriteria pria untuk Anda. Adalah normal kalau Anda memiliki standar/kriteria yang sangat banyak di awal. Ini tidak buruk, justru pertanda Anda sangat mengenal diri sendiri dengan baik. Tapi pada akhirnya, Anda akan mulai menempatkannya dalam Top 10, Top 5, Top 3. Justru bukan tak mungkin urutannya jadi berganti, yang tadinya prioritas turun ke nomor 2, yang tadinya ada menjadi Anda buang karena ada yang lebih penting.

Jadi, Sahabtku, hanya Anda yang dapat membuatnya terlalu tinggi atau terlalu rendah. Harapan saya, teruslah bijak dalam menentukannya karena ini tentang masa depan Anda. So obviously, you must think about it so serious...


Buku "Are You Still 'Single'?" masih:
Harga Promosi Rp 58.000,- s/d pembeli ke-500
Jika membeli 9 buku, gratis 1 buku untuk kamu
Dapat dikirim via pos

For order, please contact me: 08159878975
WA: 081805509562. Email: evelyne.priscilla@gmail.com

29 Agustus 2014

Apa saja kata Mereka? (Bagian 2)


Suatu kali,
saya pernah memberikan pertanyaan ini kepada sebanyak mungkin teman wanita yang masih lajang dan saya kenal karib, 
"Menurut kamu, why are you still single so far?"
Dari sinilah saya memperoleh 10 jawabannya.
Dan akhirnya menjadi ide dasar (atau kerangka karangan) 
dari buku pertama saya.
Check it out!


5. "Masih banyak hal yang lebih penting"
Maksudnya di sini adalah bicara tentang fokus. Para wanita ini lebih memilih untuk membiayai sekolah adik-adiknya terlebih dulu atau menjadi tulang punggung keluarga, maupun berkarier, ketimbang punya pacar. Bahkan, di antara mereka ada juga yang telah terikat kontrak dengan perusahaan tempatnya bekerja hingga beberapa waktu ke depan untuk tidak menikah. Sehingga, berpacaran atau menikah masih bisa ditunda, setidaknya sampai keadaan menjadi lebih baik. Lagipula, kalau pacaran dan menjadi tulang punggung keluarga dijalani bersamaan, belum tentu hasilnya maksimal, bisa-bisa malah berantakan. Jadi, memang lebih baik fokus satu-per-satu.

6. "Baru saja putus, pernah batal menikah, atau bercerai sebelumnya"
Saya bersimpati saat mendengar para wanita ini bercerita tentang kisah hidup percintaannya, sekaligus juga merasa kagum menyaksikan kegigihan mereka untuk tidak menyerah, apalagi menjadi korban trauma. "I won't give up loving somebody," demikian kata mereka. Hanya saja pada kenyataannya, perkataan ini tidak semudah yang diucapkan mulut. Walau telah berpisah dua minggu atau satu tahun, tiga tahun lamanya, keadaannya tidaklah berbeda. Mereka masih memendam perasaan terhadap si mantan dulu, bahkan semakin berlarut-larut memikirkannya. Sehingga, setiap kenangan membawa mereka ke masa lampau kembali, mengakibatkan perasaan sedih ataupun tidak berarti muncul. 

Sudah menjadi sifat dasar wanita (memang) lebih sering menggunakan perasaannya ketimbang pikiran. Hal ini membuat wanita lebih sulit melupakan dibanding pria.

7. "Pernikahan itu sesuatu yang serius bagiku"
Pernikahan memang merupakan hal yang serius dan bukan main-main (permainan). Dibutuhkan kesadaran penuh untuk melalui tiap prosesnya. Setiap wanita tentu mendambakan pernikahan, namun pernikahan seperti apa yang diharapkan. Pernikahan adalah kerja keras, di mana Anda dan pasangan tidak akan mendapat cuti, kendatipun hanya satu hari. Sebagaimana ditulis Santo Aboeprajitno dalam Fatwa Cinta, "Pernikahan itu ibarat sekolah seumur hidup untuk belajar mencintai pasangannya."

Pernikahan dapat diartikan sebagai tiket sekali jalan, yang hanya ditujukan bagi "Orang dewasa" BUKAN "Anak-anak." Itu sebabnya, kita perlu memandang nilai diri kita dengan serius, serta memahami urutan yang sepatutnya terjadi dalam sebuah hubungan. Anda harus menghormati diri sendiri dan memperlakukannya secara istimewa, karena memang begitulah adanya diri Anda. 

8. "Mungkin karena aku sudah punya segalanya, pria jadi takut berhubungan denganku"
Jawaban ini malah keterbalikan dari jawaban pertama. Kelompok wanita yang menjawab demikian, justru berpenampilan lebih sederhana. Mereka lebih memilih naik busway dibanding mengemudi mobilnya sendiri. Kalau pun berkendara, mereka akan memilih mobil kantor yang relatif kuno, daripada mobil matic (milik pribadi) yang tentunya lebih memberi kenyamanan, terutama di tengah kemacetan lalu-lintas. 

Saat melihat penampilan mereka, sepertinya tidak ada yang mengira kalau pribadi/diri mereka bisa menakutkan pria untuk menjalin hubungan. Mungkin saja pria akan berpikir sama seperti saya, Wanita-wanita ini begitu sederhana. Namun nyatanya, sejumlah wanita di luar sana masih berpikir sebaliknya.

9. "Karena laki-laki itu bodoh dan aku sudah lelah berhubungan dengan mereka"
Jawaban kali ini mengingatkan saya akan sebuah cerita di buku "More Taste Berries for Teens" karya Bettie B Young, Ph.D., Ed.D. dan Jennifer Leigh Youngs. Ada seorang gadis yang putus hubungan karena curiga pacarnya berselingkuh. Setiap hari ia dan teman-temannya menjelek-jelekkan sang mantan, juga wanita yang diduga selingkuhannya itu, hingga suatu hari ia mengetahui bahwa semuanya hanyalah gosip belaka. Ia merasa sangat bersalah dan buru-buru meminta maaf. Dengan perasaan bodoh akibat memercayai gosip begitu saja lantaran emosi, ia berkata pada teman-temannya, "Mulai hari ini, jangan ada lagi kata-kata buruk mengenai mereka. Maksudku, siapa sih aku ini? Jelas-jelas perbuatanku jauh lebih buruk. Aku memang sudah minta maaf, tapi rasa malu ini sepertinya tidak akan pernah hilang."

10. "Wah, tidak tahu deh kenapa aku masih jomblo sampai sekarang"
Kemudian, ia justru balik bertanya ke saya, "Menurut kamu kenapa?"


HAPPY READING *wink

22 Agustus 2014

Apa Saja Kata Mereka? (Bagian 1)


Suatu kali,
saya pernah memberikan pertanyaan ini kepada sebanyak mungkin teman wanita yang masih lajang dan saya kenal karib, 
"Menurut kamu, why are you still single so far?"
Dari sinilah saya memperoleh 10 jawabannya.
Dan akhirnya menjadi ide dasar (atau kerangka karangan) 
dari buku pertama saya.
Check it out!

Menyadari pertanyaan tersebut bersifat pribadi dan agak sensitif, maka saya menggunakan "Prinsip Garam" yang pernah saya baca dalam sebuah buku berjudul, "For Better or For Best Understanding Your Husband (Alasan Tersembunyi Mengapa Pria Berperilaku Tertentu)" ditulis oleh Dr. Gary Smalley. Buku yang ditujukan bagi kaum Hawa ini, menyodorkan sebuah prinsip menarik, yakni sifat garam yang pada dasarnya membuat orang haus. Menurut Dr. Gary, sebuah hubungan harusnya berhasil menciptakan dahaga akan percakapan yang membangun antara dirinya sendiri dengan orang lain. Sehingga hasilnya, masing-masing individu dapat mempelajari kebutuhan lawan bicaranya dengan baik. Well, saya sangat setuju...

Ibarat melakukan sebuah wawancara, Anda tidak akan pernah dipersiapkan banyak pertanyaan, melainkan hanya 3 atau 4 pertanyaan saja, di mana selebihnya harus Anda gali sendiri melalui pernyataan para narasumbernya, sambil memperhatikan dengan seksama setiap jawabannya. Karena dari situlah biasanya muncul penjelasan yang jujur. Ya, Anda hanya perlu mendengarnya dengan lebih cermat...

Untuk hal ini, gaya Oprah Winfrey maupun Najwa Shihab bisa dijadikan contoh. Menurut saya, mereka menggunakan prinsip garam saat mewawancarai narasumbernya. Terlihat sekali rasa haus yang sangat akan setiap jawaban narasumbernya. Tak henti-henti mereka melontarkan pertanyaan hingga semua menjadi jelas. Sampai-sampai penonton di studio ataupun di rumah ikut terhanyut merasakan suasananya.

Dengan cara yang sama, pertanyaan di atas saya ajukan. Akhirnya, diperoleh 10 jawaban yang diberikan oleh para wanita yang berani dan luar biasa ini:

1. "Mungkin karena aku sudah tidak cantik lagi"
Awalnya, merasa bingung juga mendengar jawaban ini keluar dari mulut mereka. Sebabnya, mereka termasuk wanita yang sangat cantik dan menarik. Sejujurnya, andai saya ini pria, tentu akan berpikir untuk mengejarnya. Mereka merupakan para wanita sophisticated yang penuh gaya dan hebat, lengkap dengan ciri-ciri: Menjinjing tas branded terkenal, sepatu tumit tinggi beralas merah, senyuman yang ramah, sikap yang akrab namun sopan, gadget yang selalu on, juga pekerjaan hebat yang dapat menunjang segalanya. Sungguh mengagumkan, bukan?

Namun, ketika pembicaraan berlanjut, saya baru mengerti alasannya, ternyata, "Aku merasa bingung saja. Padahal sudah seperti ini (sambil menunjuk dirinya sendiri), tapi kok belum laku ya? Padahal umur bertambah terus. Apakah karena kecantikanku sudah luntur?"

2. "Belum menemukan orang yang tepat"
Ini menjadi jawaban paling banyak yang diberikan. Saking banyaknya, juga karena "sedikit bosan" mendengar jawaban yang sama berulang-ulang, saya memutuskan memberi pertanyaan tambahan, "Lalu, apakah kamu sudah tahu standar atau kriteria pria yang kamu inginkan?"

Beberapa menjawab, "Tentu saja. Aku mau dia begini...begitu... Dan seterusnya," dengan bermimik muka penuh keyakinan, sampai-sampai saya pun ikut merasakan semangatnya, yang terpenting ia sudah mengetahui apa keinginannya. Lalu, ada juga yang menjawab dengan standar-standar, "Seiman. Baik. Ganteng. Sayang keluarga. Sayang saya. Pengertian. Dewasa. Kaya... Dan sebagainya." Namun, ada juga yang malah mengangkat bahunya sambil geleng-geleng kepala. Yah, Anda tentu mengerti maksudnya, bukan?

3. "Akunya saja yang belum mau. Santai saja"
Waktu mendengar jawaban ini, sempat terbersit pertanyaan dalam hati saya, Hmm, mau sampai kapan santainya? Kalau hanya sampai esok hari, mungkin saya tidak terlalu mengkhawatirkannya, walau kemudian sempat terganjal pikiran juga sih, "Kenapa harus santai sampai besok kalau sebenarnya bisa dimulai hari ini?"

4. "Masih muda. Masih banyak yang ingin aku lakukan"
Entah apa yang mendasari mereka menjawab demikian. Apakah mereka sungguh-sungguh merasa masih muda sehingga ibarat berkata, "Don't tell my age, I know that. But somehow, I still feel young and always excited for new things.

Atau, mungkinkah dikarenakan ketidaksiapan mereka, "Mumpung masih muda, rasanya sah-sah saja bersenang-senang dulu." Akhirnya mereka tidak membuat rencana, tidak mengatur waktu, tidak peduli. Mereka melakukannya semata-mata akibat sikap yang belum siap berkomitmen, sehingga tidak tahu ke arah mana hubungan yang sedang dijalankannya, bagaimana kelanjutannya, dan tidak berusaha mempersiapkannya juga. Mereka menjalani hari demi hari begitu saja, hanya mengisinya tanpa mengetahui dengan jelas tujuan memilih pria tersebut, alasan melakukan rutinitas tertentu. Dan sebagainya.

5. "Masih banyak hal yang lebih penting"

...to be continued...

16 Juni 2014

I Love my Country, Indonesia

Sungguh menarik sekali yang kualami pada hari Minggu (15 Jun 2014) kemarin...

Pertama-tama, aku akan menceritakan satu hal dulu. Minggu lalu, tepatnya sekitar hari Selasa (10 Jun), kantorku kedatangan anak magang dari luar negeri, Amerika tepatnya. Ia bernama Mary dan ia masih sangat muda...

Telah beberapa kali ia menanyakan padaku jalan paling aman dan nyaman ke Jakarta. Karena kami tinggal di daerah Tangerang, aku menyarankannya untuk menggunakan shuttle bus yang selalu stand-by setiap jam di halte mal terdekat. Kuberitahukan juga tempat-tempat pemberhentian shuttle bus di Jakarta. Kemudian kulanjutkan, "Sesampainya di Jakarta, kamu bisa menggunakan transportasi busway yang akan melewati setiap jalan protokol atau jalan besar di Jakarta", kataku.

Tapi, sepanjang aku menjelaskan padanya, jujur saja, ada perasaan sedikit menggelitik, apakah dia mengerti semua yang kujelaskan ini, bagaimana kalau dia nyasar atau tidak sampai di tujuan, pikirku. Sehingga, kuputuskan untuk mengantar dan memperlihatkan semua hal yang kubicarakan itu padanya hari Minggu. "Juga sekalian kamu kuliner, mencoba beberapa masakan Indonesia," sambungku.

Ternyata pada hari Sabtu, ia telah pergi sendiri ke Jakarta. Katanya, "Menggunakan shuttle bus." Aku sempat bernapas lega, berarti ia menangkap semua yang kuterangkan. Dan sesuai janji, hari Minggu aku akan menemaninya berkeliling Jakarta, semenjak siang hingga malam. 

Hari Minggu tiba, kujemput Mary di lobi Pacific Place Mall. Meski cuaca sedang hujan deras, tapi entah kenapa, rasa semangatku juga meluap-luap, sama persis dengan perasaannya saat memasuki mobilku. Aku langsung jalan, berencana melewati FX mal, yang menjadi salah satu tempat pemberhentian shuttle bus. Saat itulah Mary baru bercerita. Ternyata yang dimaksudnya dengan shuttle bus (yang digunakannya hari Sabtu kemarin) adalah bis umum. Waktu mendengarnya, sontak aku terkaget-kaget, menaikinya saja aku tidak pernah, tapi ia pergi ke Jakarta menggunakan bis itu? Aku langsung melarang Mary menggunakannya lagi. Ia pun mengakui sedikit merasa takut ketika berada di dalamnya. Syukurlah Tuhan sangat baik padanya, karena menempatkan satu orang pria yang cukup fasih berbahasa Inggris, memberinya arahan, bahkan ikut turun menemani Mary. Aku berkata, "Ya, Tuhan sangat peduli padamu, Mary." Lalu aku membuatnya berjanji untuk tidak menaiki bis itu lagi dan menunjukkan seperti apa shuttle bus yang sesungguhnya. Kulihat ia mencatatnya...

Nah kejadian berikut inilah, saat kami sangat bersenang-senang... 
Kuajak Mary mencoba nasi goreng iga di Plaza Indonesia mal. Tak lupa sesudahnya, kami pergi beribadah ke gerejaku yang terletak tepat di seberangnya. Syukurlah ia menikmati ibadah di sana... Sepulangnya, kembali kuajak Mary mencoba makanan di daerah Pecenongan. Awalnya, kami menyantap hot plate daging campur dan cah kangkung, di mana ia mengaku inilah pertama kalinya mencoba sayuran kangkung itu. Selanjutnya, kubawa ia mencoba salah satu makanan khas jalan itu, tak lain dan tak bukan, "Martabak Nutella", asli buatan "Perintis Martabak Pecenongan". Mary sangat memuji-muji setiap makanan yang dicobanya. Ia pulang dengan perasaan puas dan sukacita...

Ketika aku di rumah, berbaring di tempat tidurku, kulewati lagi ingatan sepanjang hari dengannya. Aku menyadari satu hal, ternyata aku sangat menyukai hal ini, menjadi host atau tuan rumah. Dan aku rasa semua itu bisa terjadi, karena aku mencintai negaraku, Indonesia. Aku ingat berulang kali mengatakan hal ini pada Mary, "Kupikir, yang harus kamu lakukan ketika mengunjungi negara lain adalah mencoba sebanyak mungkin ciri khas negara tersebut. Karena untuk apa menempuh perjalanan jauh -juga berjam-jam lamanya- kalau ujung-ujungnya hanya menikmati sesuatu yang sesungguhnya ada juga di negaramu?" Ia mengangguk tanda setuju...

Di samping itu, tak henti-hentinya, aku bercerita soal berbagai kebiasaan dan habit orang Indonesia. Syukurlah, dalam perjalanan ke Pecenongan, kami melewati Monas, dan di sana sedang diadakan Pasar Rakyat. Meski jalanan sangat macet -untuk ukuran hari Minggu- kami sempat dilalui delman, bajaj, dan Ondel-ondel. Juga beberapa macam jajanan murah di samping jalan Monas. Kuberitahu kepadanya satu per satu dengan bangga...

Dan ketika kuperkenalkan Mary kepada teman-temanku, mereka juga sangat menyambut hangat. Membuat Mary sangat nyaman dan berkata, "Orang Indonesia memang baik-baik. Aku mau pergi lagi ke gerejamu dan berkumpul bersama teman-temanmu, Eve." Tentu saja, aku akan mengajaknya lagi di lain waktu. 

Kurasa siapapun bisa menjadi tour guide, selama ia menyukai hal tersebut... Dan entah kenapa aku punya perasaan akan mengalaminya lagi di kemudian hari. Sepertinya, dengan tamu-tamu orang asing lainnya, dan perjalanan yang berbeda pula. Tentunya, aku harus semakin memelajari negaraku dengan lebih baik. Siapa tahu kali ini kami akan pergi ke luar kota, dan ia akan semakin melihat keindahan negaraku Indonesia, pikirku dalam hati. Ya, bisa jadi... *fingercrossed

20 Maret 2013

Seperti Anak yang Hilang


Aku pun mengakui seperti anak yang hilang itu. 
Ketika aku memutuskan untuk kembali, segala pikiranku telah dipenuhi oleh sesuatu yang tidak-tidak. Aku berpikir terlalu jauh, sangat jauh bahkan, sampai terlihatnya mustahil bagiku untuk dilakukan, dan akhirnya mengurungkan niat untuk kembali.

Padahal Bapa menungguku di rumah. Dengan penuh kasih dan kesabaran, juga terus-menerus berdoa agar anaknya segera sadar dan kembali.

Karena itulah, ketika anaknya mulai tampak, sang ayah berlari menghampirinya untuk memeluknya erat-erat. Ayahnya sangat merindukan anak yang amat dikasihinya itu. Semua tindakan anaknya adalah masa lalu baginya. Ia mengampuni... Ia merangkulnya kembali...

Don’t think too much, Vlyne...
Bukuku ini penulisnya adalah Tuhan, bukan kamu. Kamu hanya perantara-Nya saja. Dan tentunya, IA terlebih ingin buku ini dibaca oleh sebanyak mungkin orang di luar sana, supaya mereka tidak lagi bersedih melainkan bersukacita, tidak lagi mengasihani diri sendiri melainkan mensyukuri segalanya, tidak lagi pasrah jadi korban melainkan memandang dirinya berharga, indah, full of potention.
Kamu hanya perlu mengingatkan mereka lagi. Seperti yang Yunus lakukan dan Tuhan ingin kamu melakukannya juga sekarang.

Guys, HE (GOD) cares about you. DIA ingin memenuhi janji-Nya, memberikan padamu masa depan yang indah dan cemerlang. You just need to trust HIM, every single day and always. Don’t think too much...

29 Juli 2011

Nerry's Comfort Zone


Di dekat rumahku, ada salah seorang tetangga yang adalah pembantu rumah tangga. Ia baru saja dititipi anjing Golden Retriever oleh salah satu majikannya.
Mungkin kamu bingung mengapa aku berkata, “Salah satu majikannya?” Karena rumah yang ditinggali olehnya sebenarnya merupakan rumah milik majikan (aslinya) yang tinggal di Jakarta. Si Mbak hanya dititipi saja. Tapi, ia boleh tinggal bebas di situ dan memeliharanya/mendekorasi (memasang lampu hias, menempelkan poster-poster, memakai air, listrik, dsb). Dan kalau boleh kukatakan, rumahnya sangat bersih, meski tidak banyak perabotnya.
Untuk memenuhi kebutuhan (karena si mbak hanya dititipi saja :p), ia memutuskan untuk bekerja keliling menjadi pembantu harian dari beberapa orang majikan. Ia menyebutnya, "Bos-ku." 
Selama ini si Mbak merasa beruntung karena katanya, "Bos-ku selama ini baik-baik Non... Biar kata agak jauh rumahnya, tapi saya sih betah saja kerja di situ..." Yahh, lucky her... Cuma kalau menurutku sih, selain beruntung mendapat majikan yang baik, si Mbak juga orangnya memang sangat baik dan rajin, jadi rasanya ia tidak akan mengalami kesulitan bekerja di manapun dan bersama siapapun.
Oke, kembali lagi ke anjing Golden Retriever betina, warna putih, bernama Nerry yang usianya baru saja 6 bulan. Tapi selayaknya anjing Retriever, tubuhnya sudah bertumbuh sesuai dengan batas tingginya. Jadi rasanya ia tidak akan meninggi lagi, mungkin yang terjadi adalah melebar ke samping. Ya, aku yakin begitu...

Nah, Nerry persis sekali dengan foto ini
Nerry adalah anjing dari majikannya si Mbak yang sedang pulang ke negaranya, Korea, untuk berlibur sejenak. Nah, Nerry dititipi (juga) ke mbak. Tapi semua kebutuhannya sudah tentu disediakan, sekarung dog food, tempat makan dan minumnya, sisir, tali untuk berjalan-jalan, sampo anjing, bahkan vitamin, dan beberapa obat-obatan untuk hewan (yang adalah obat merah, minyak tawon, dsb :p)
Karena kesukaanku akan anjing, rumah si Mbak menjadi tempat yang sering kukunjungi dalam 2 minggu belakangan. Lagipula aku memang berencana tidak pergi kemana-mana juga selama seminggu ini (pas banget), hanya ingin berdiam di rumah, karena ada 2 deadline tulisan yang harus diselesaikan. Dan percayalah, aku betah-betah saja tidak kemana-mana...
Waktu hari pertama aku mengunjungi Nerry dan membelai-belainya, aku sudah (langsung) memutuskan untuk mengajaknya jalan-jalan, yang disambut riang gembira (sekali, kalo boleh kutambahkan) oleh Nerry. Ia sampai-sampai tidak bisa diam dengan menyalak sejadi-jadinya, seolah-olah berkata, "Hore.. hore.. Asik.. asik.. Kita akan berjalan-jalan..." Tentu saja aku mengerti, karena sejak menonton acara 'Dog Whisperer' (Cesar Milan), aku semakin yakin bahwa rutinitas yang harus dilakukan setiap hari adalah mengajak jalan. 
Hanya saja ternyata aku salah menduga, entah kenapa anjing ini tidak suka berjalan lama-lama... Apakah penyebabnya karena cuaca sore itu yang agak panas atau (mungkin) energinya sudah terkuras habis saat ia berlompat-lompat tadi. Aku melihatnya dengan lesu ketika Nerry sudah berbaring di tengah jalan raya kompleks, 10 menit kemudian. Ia benar-benar berbaring di sana dan tidak beranjak... Aku cukup khawatir memikirkannya, masalahnya tubuh Nerry pasti sudah mencapai 27 kg, setengahnya dari berat badanku. Aku tidak akan mungkin menggendongnya, bahkan aku gagal juga menariknya... Sampai dengan aku berkata, "Ayo dong Ner, wake up... Oke, kita pulang deh.." Tiba-tiba dia bangkit dan -tepatnya- menarikku pulang kembali ke rumah si Mbak. Aku sampai takjub melihatnya, sekaligus juga tertawa dalam hati. Sepertinya dia memang sangat mengerti dengan kata 'pulang' itu.
Sesampainya di rumah, Nerry langsung menuju tempat minumnya. Dengan tergesa-gesa, juga pasrah, ia menurut saja diikat kembali oleh si Mbak, lalu menjulurkan tangannya, tanda ingin 'bersalaman' dan aku menyambutnya. Namun ternyata tanganku tidak mau dilepasnya.
Aku tahu maksud Nerry, ia tidak mengijinkanku pulang ke 'rumahku,' ia masih ingin aku tetap di sana membelai-belainya, mengusap hidungnya, dan sedikit memberi pijatan di kepalanya. Kulakukan semua itu sampai 4 menit lamanya dan dia tetap tidak membiarkanku pergi. Si mbak pun berkata, "Dia tau tuh, Non, kalo sama Non dia disayang-sayang. Makanya dia nggak ijinin Non pulang."
Aku berpikir... Berarti secara nggak langsung, aku telah memberi kenyamanan kepada anjing ini. Meskipun perjumpaan kami terbilang singkat (dan rasanya tidak sampai 30 menit, dari pertama kali aku menghampiri rumah si Mbak hingga mengajaknya jalan-jalan), tapi Nerry merasa nyaman berada di dekatku (yang adalah orang asing) dibanding si Mbak. Padahal si Mbak yang memberinya makan, menyisirnya, tapi aku yang dia harapkan berada di sisinya. 
Cukup kagum aku dibuatnya, berhasil memberi kenyamanan kepada seekor anjing lagi... Dulu aku pernah berada di situasi yang sama, hanya saja anjingnya waktu itu adalah anjingku sendiri, yaitu Zacky, Doogie, Lea, dan terakhir adalah Cathy dengan 2 anaknya, Diane dan Florence. Memoriku sedikit mengenang mereka sebentar, sambil tersenyum-senyum sendiri...
Secara pribadi, aku sih senang-senang saja tiap hari kesana, membelainya dan mengajaknya jalan, toh cuma itu kerjaanku... Ringan... :p Yang berat-berat (memberinya makan, menyisir, membersihkan kotorannya) justru adalah pekerjaan si Mbak. Hehe... Aku seperti memiliki anjing, yang tidak ada bebannya... ;) Enaknya...
5 menit kemudian, aku diijinkan pulang oleh Nerry karena matanya sudah mulai tertutup sedikit. Sepertinya ia mulai capai dan mengantuk. Aku langsung pamit ke si Mbak (dan anaknya yang sedang berkunjung dari kampungnya), mengelus Nerry terakhir kali dan melambai, sambil berjanji, "Besok aku akan ajakin jalan-jalan lagi ya Mbak.."
Nerry sempat gusar waktu aku berjalan menjauhi rumah si Mbak. Ia pun bangkit lagi, tapi kali ini tidak menggonggong. Aku sempat berteriak kecil padanya, "Besok kita ketemu lagi ya Ner.. Jalan-jalannya lanjut besok.." Lagi-lagi, anjing itu tampaknya mengerti ucapanku, ia mengibas-ngibaskan ekornya sambil kaki depannya berdiri di tembok sebatas lutut di sebelahnya. 
Aku pun akhirnya bisa pulang ke rumah... :D

08 Februari 2011

Miracle still happens


Bulan Januari 2011 yang lalu, I just returned from my holiday to Surabaya; I really enjoyed my trip. I got a lot experience in there, a lot of lessons, more weight & beautiful memorable moments. Yes… It was beautiful. Jadi ada 2 kejadian yang terjadi di Surabaya.

First, kasus diberhentikannya pesawat Mandala (padahal ya Mandala itu bagus lho. My flight was 1.55 pm and they actually departed on 1.55 pm. Gak pake telat, benar-benar on-time. Sayang sudah tidak beroperasi lagi). When they announced Mandala is no longer in operation, aku masih di Surabaya. FYI, waktu itu aku beli tiket pesawatnya dengan harga promo. Untuk harga one way only cuma Rp.100.000,- Jadi total PP: Rp.200.000,- Murah kan? (And even I didn't process the refund, let say Rp.200.000,- but for flight from Jkt to Sby, it’s still cheap). Ternyata harga murah ini dikarenakan harga transit. Harusnya tujuan ke Denpasar, tapi mereka transit di Surabaya. Makanya murah…
Ok back to the story… Pengumumannya itu diberitakan di Koran hari Kamis (tgl. 13 Jan). So, my cousin (yang namanya Ci Lia) membangunkan saya pagi-pagi benar, “Eve, ini kok di Koran Jawa Pos ada pemberitahuan kalo Mandala tidak beroperasi lagi ya? Coba deh kamu baca dan cari tahu dulu, sementara aku antar anak2 ke sekolah ya…” Namun, dikarenakan hari sebelumnya (hari Rabu) aku baru dari Madura (jalan-jalan dari Bangkalan, Sampang, Pemengkasan sampe Sumenep), aku masih sangat lelah. Jadi setelah membacanya, aku pun tertidur lagi. Sebenarnya bukannya cuek ato tidak peduli, but because I believe Tuhan tidak akan membiarkanku begitu saja. He will make everything well, so that is why I’m not worry at all. Saya pikir kalau pun sampai tidak menemukan pesawat murah atau sudah full hingga hari Senin, aku bisa pulang naik kereta. Yang menurutku masih ok lah… 
At 8 AM, again Ci Lia woke me up. It’s seems I was not able to sleep again and have to start looking the information about this situation.  But before I do that, I’m so surprised, my BB full of BBM from family & friends. They considering about me (hahaha… dan saya malah tidur). So, I got all the information from them: Refund, cheap airlines ticket, promo, etc. Mereka juga kasih tau keadaan kantor Mandala di Jakarta. Karena itulah, aku berencana mau mampir ke Kantor Pusat Mandala di Sby (Jl. Diponegoro) dengan maksud mau tanya-tanya, tapi nyatanya sangat rame, penuh, hujan pula, mungkin lebih baik batal saja…
Lalu, my Dad called & said, “Vlyne, kamu searching pesawat murah deh di internet. Nanti papi yang bayarin pesawatnya.” Dan itulah yang terjadi… In fact, my Father transfered me money for ticket, including airport tax. Voila… GOD really takes care of me. Akhirnya, aku pesen tiket pesawat via jasa travel langganan sodaraku yang letaknya cuma 2 rumah di sebelahnya (hahaha…). And before lunch, I got my ticket. Yes, all is well…

Hotel Purnama at Batu, Malang
Nah yang kedua adalah kejadian BB-ku hilang. Hari Sabtu-nya, aku & keluarga Ci Lia pergi ke Batu, Malang dan kita nginep di Hotel Purnama yang bagus sekali, juga indah pemandangannya. Bahkan, kita sampe dikasih free of dinner, also the breakfast for 4 people.
After dinner, kita pergi jemput suaminya Ci Lia (namanya Ko Fendi), yang makan bareng temannya di Flamboyant Café. Dalam perjalanan, aku masih BBM-an ama temenku di mobil. Dan sesampai di sana, aku memang langsung turun (karena lagi hujan juga) & lari menuju tempat jual yoghurt yang letaknya tidak terlalu jauh. Kedua keponakanku uda pengen nyoba. Saat di kasir, aku baru sadar BB-ku dimana ya? Lalu, aku merogoh kantung, cari di tasku tapi gak ada. Aku langsung pinjam kunci mobil Ci Lia, mulai cari dan ngubek ke mobil juga halaman sekitarnya, tetap gak ketemu. Padahal aku ngerasa cuma sesaat lho, paling nggak sampe 3 menit kejadiannya. Aku mulai dag-dig-dug, kayanya hilang nih. Apalagi dihubungi sudah masuk voice mail.
Akhirnya, for the next 45 minutes, everybody was looking my BB, including Ko Fendi’s friend & his children (padahal aku baru saja berkenalan dengan mereka). Aku liat mereka sempet tanya2 tukang parkir, satpam, kasir yoghurt, pelican cafe. Trus sempat ninggalin nama & nomor telp yang bisa dihubungi karena café sudah mau tutup. But the truth is I’ve lost hope. I think it’s already gone.
Sesampainya di hotel, tiba-tiba Ci Lia merangkulku & berkata, “Eve sori banget ya kalo sampe jadi begini. Coba kalo kita gak ke Batu, pasti BB kamu gak hilang. Biar kuganti ya Eve BB-nya.” Waktu denger itu aku jadi nangis. Sebabnya, aku tidak mau Ci Lia berpikir demikian, juga merasa takjub atas tawaran Ci Lia. Tapi, sambil geleng-geleng kepala aku menolak. Lalu, kita sempet berdoa ber-4 di kamar (aku, ci Lia & 2 orang anaknya). Dalam doanya Ci Lia terus-menerus bicara tentang mujizat yang pasti terjadi (dan memang terjadi dalam hidupku, namun tidak dengan caraku). Saat itu aku teringat Filipi 4:6, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”
So, I changed my prayer, “Lord I’m grateful for all that happened to me now. Aku betul2 bersyukur liburan di Surabaya ini. Aku sungguh terpelihara sempurna, in everything. Makan enak terus, bisa puas nyobain berbagai macam makanan khas Sby. Bersyukur karena aku tinggalnya di rumah Ci Lia. Bersyukur karena keluarga ini adalah tuan rumah juga keluarga yang sangat baik. Bersyukur karena aku bisa ke Batu & liburan di tempat yang indah, yang mungkin gak akan kudapat lagi kalo di Jakarta.” Dan kalo kupikir2, aku pun juga hampir gak keluar uang selama liburan ini kecuali untuk beli oleh-oleh. So yes, I’m so lucky surrounded by all this beautiful moment. 
Setelah itu, aku pun tidak bersedih lagi, I just surrender to God. Kalo ketemu ya Puji Tuhan. Kalo gak ketemu, Puji Tuhan juga. Dan malamnya aku bisa tidur dengan nyenyak.

Keesokan harinya, dalam perjalanan pulang ke rumah (Sby), mereka bawa aku ke Plaza Marina (seperti Roxy) dan mereka benar2 berniat membelikanku BB. I think I can’t say anything. Karena kejadiannya ‘tiba-tiba’ juga, aku hanya mengikuti mereka 
Setelah muter2, aku sempet khawatir juga dengan harga BB original (hitam) di Sby yang bisa sampe 2,6 juta ato 2,7 juta. So I called my brother, Ryan. aku perlu quick lesson membeli BB darinya. Karena yang kemarin aku beli, aku hanya tau bayar tokk, tapi gak tau prosesnya gimana. Akhirnya, kita berhasil ketemu 1 toko yang jual BB dengan harga yg sama dengan Jkt, bergaransi TAM pula. It was perfect…  Jadi kita beli di sana.
Tapi ada yang membuatku kepikiran, mereka membayarnya dengan cicilan bukan tunai. So that’s make me thinking, mungkin saja mereka sedang tidak ada uang saat itu, makanya jadi nyicil. I felt really bad. 

Hingga malamnya, setelah anak2 sudah tidur, I decide to talk with them, “Ko, Ci, begini. Aku uda discuss sama Mami & kita merasa gak enak. Gimana kalo kita bantu bayar setengahnya?” Dan belum2, mereka langsung nolak. Lalu, aku bilang lagi, “Kalo gitu anggap ajah sekarang aku pinjem ya, nanti aku pasti balikin lagi dalam bentuk barang juga.” 
Dan Ko Fendi mulai bicara yang membuatku terharu, “Eve, kita kok kayak orang lain ya. Padahal kan kita keluarga. Jadi sudah seharusnya bersikap begitu. Jangan merasa gak enak dong, wong kita ajah udah gak mikirin kok. Yang terpenting kamu happy, gak kapok lagi ke Surabaya. Kita bener2 berharap kamu pulang dalam keadaan bahagia, bukannya bersedih. So, it’s oke lahhh..”
Saat itu entah kenapa ayat, “…Giving so you will be given…” terngiang2 di kepalaku. Aku percaya, Tuhan sedang memakai mereka untuk memberkatiku & pastinya, Tuhan pun akan memberkati mereka lebih lagi.  
That’s the value of family. I’m so thankful having them as my family…  Kalau mereka saja berusaha sedemikian rupa untuk membuatku melupakan my past, my lost & everything, so yes, I have to change my paradigm as well. Aku harus pulang dalam keadaan bahagia & sama2 enak. Supaya gak cuma aku saja yang enak, mereka pun juga demikian. Jadinya malam itu, kami asik bercerita tentang pengalamanan memancing di Madura, Bandung, Puncak (karena mereka belum pernah ke sana), juga makanan2 enak Sby lainnya yang aku belum coba, yang berarti (menurut mereka) aku harus datang lagi untuk nyobain, hehe... Kita bertiga ngobrol seru sekali sampe jam 11 pm. It was a beautiful night…

Yes, bad things happen to good people. But God still with us. IA ada disana saat keadaan baik maupun buruk menimpa kita. HE consoled, embrace us & giving encouragement so we can bear it, get through of it. HE replaces my sorrow with joy, tak dibiarkannya aku bersedih terlalu lama. Thank you Father…

Akhir cerita, Ci Lia & Ko Fendi akhirnya setuju membagi pembayaran 50:50 dengan kita. After my mom talked to them dan membawa nama papiku, mereka setuju juga, fiuhh… That’s good… 
Sementara itu, orangtuaku juga memutuskan untuk membantu cicilannya. Dengan jumlah hanya  Rp.100.000 per bulannya saja, the rest will be their responsibilities (hahaha…) GOD is good all the time… Yes... Miracle still happens
Me, along with a wonderful family, minus pelayannya :)