17 Desember 2015

PAIN IN THE NECK

Mengambil judul dari sebuah idiom Amerika: "Pain in the neck," yang artinya "If someone is very annoying and always disturbing you, they are a pain in the neck. Pain in the butt, or pain in the ass." 

Untuk kasus saya adalah tubuh saya, my health condition. Ketika dirawat inap di Siloam Hospitals Lippo Village tanggal 14-15 Desember 2015 lalu, akibat sakit vertigo infeksi telinga, ada beberapa pelajaran yang saya peroleh dari peristiwa ini.

Pertama, Bahwa kita tidak bisa membohongi tubuh sendiri.
Selasa lalu, tepatnya tanggal 8  Desember 2015, saya sempat dilarikan ke UGD (Emergency/Unit Gawat Darurat) oleh teman kantor karena kepala saya berputar tak keruan. Alangkah terkejutnya saya didiagnosa dokter, "Ibu terkena vertigo." What!? Saya resmi punya vertigo sekarang? Padahal saya sudah punya penyakit asma, tekanan darah rendah, mengapa ini jadi bertambah? Kemudian, dokter meminta saya untuk rawat inap, tapi saya menolak. Masa gara-gara sakit vertigo sampai dirawat inap segala. Akhirnya saya diperbolehkan pulang dengan obat resep dokter. 

Berjalannya waktu, ternyata bertambah buruk. Puncaknya adalah pada hari Jumat (11 Desember 2015), saya mengalami gempa. Tapi hanya diri saya saja. Saya lihat sekeliling, bahkan air di botol minum pun tidak bergoyang sama sekali. Saya terpaksa ijin tidak masuk kantor hari itu. Merasa tidak enak, hari Seninnya saya memutuskan masuk kantor. Saya masih dapat bekerja, hingga pukul tiga sore, dunia saya berputar lagi. Saya sempat menyender dan memejamkan mata di pantry kantor, tapi sepertinya tidak terlalu berguna. Karena setiap orang yang lewat bertanya, "Kamu kenapa?" (yang sebenarnya ini bentuk perhatian dari mereka). Sampai saya tidak tahan lagi. Pada jam empat sore, saya dibawa kembali ke UGD. Kali ini saya pasrah. Alhasil, saya dirawat inap selama satu malam dan diharuskan istirahat satu minggu kemudian.

Sayalah penyebab semua ini. Seolah-olah saya berpikir akan kuat, memperlakukan tubuh ini layaknya kondisi normal. Padahal tidak, saya sedang sakit. Terkadang kita suka berpikir, "Tinggal sedikit lagi, perut saya dapat menahannya... Setengah jam lagi baru tidur, karena nanggung ini film-nya.... Seminggu ini belum berolahraga, tapi pasti saya bisa naik gunung atau jalan jauh..." 

Bukannya tidak bisa, namun terkadang, kita memforsir tubuh sendiri untuk bisa mengikuti pikiran kita, rencana, aktivitas, dll. Hentikan... Anda mulai mengganggu diri sendiri! Mobil saja perlu beristirahat, padahal cuma sebuah mesin. Jangan paksa lagi... Dengarkan tubuh Anda. Karena Anda sedang tidak dibohongi di sini. Sayangi diri sendiri. Jangan sampai tumbang baru paham. Ini namanya "Kepalang tanggung," bukan "Mencegah lebih baik dari mengobati."

Kedua, Tidak memanjakan diri sendiri.
Saya paham, hal yang kedua ini terkesan kontradiktif dengan perihal pertama. Tapi ijinkan saya menjelaskannya. 

Kembali ke kisah saya di UGD, saya akui kurang bersabar waktu itu. Saya sedikit mendesak perawat untuk segera mendatangkan dokter. Dokter spesialis saraf akhirnya datang dua jam kemudian, baru saya dipindahkan ke kamar. Saya menempati kamar 857 bersama dengan seorang wanita yang baru saja selesai dioperasi siang harinya. Saya ditemani orang tua, adik, adik ipar saya. Dan disinilah saya jadi sedikit "manja" terhadap mereka. "Pusing... Dingin... Mau nonton, apakah bisa berikan saya remote control televisinya? Belum makan, lapar (memang waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam)." Lalu, karena tidak ada yang menemani saya malam harinya, saya mulai beberapa kali menekan tombol "Nurse Call" dan mengeluhkan, "Tidak bisa tidur, sus... Salah bantal..." Apakah Anda membacanya dengan mencibir? Yah, saya sedang mengeluh. Saya sedang manja... 

Tak dipungkiri, ketika dirawat inap, kita sebagai pasien memang merasakan sakit dan rasa tidak nyaman di sekujur tubuh. Walaupun kepala saya yang didagnosis sakit, tapi entah kenapa, bagian tubuh lain, seperti paha, leher, tangan, juga ikut merasakan nyeri. Seumpama tubuh ini mati rasa, membatasi ruang gerak saya yang biasanya dapat saya lakukan sendiri... 

Saya bersyukur sempat mengobrol dengan teman sekamar saya di pagi harinya ketika kami breakfast -Anda ingat, wanita yang habis dioperasi ini?- Ia bercerita, bahwa sudah mulai dirawat inap sejak hari Minggu sore. Dan saat itu, rumah sakit betul-betul sangat sibuk, sampai-sampai semua kebutuhan ibu ini terlambat. Namun hebatnya, ia tidak mengeluh. Ditemani suaminya di kamar, ia yang terus-menerus mengingatkan perawat akan kebutuhannya. Dan menurutnya, selama masih bisa dilakukan sendiri, mengapa tidak?

Waktu mendengar hal itu saya jadi malu... Ya, meski tubuh ini sakit, bukan berarti kita jadi pity self (mengasihani diri sendiri). Bersyukurlah kita sudah dirawat, bersyukurlah untuk tempat tidur yang nyaman, perawat yang baik dan penuh perhatian, teman-teman yang memperhatikan, makanan yang diantarkan, dokter yang mengobati, dll. Semenjak itu saya berhenti pity self... Saya meyakinkan diri sendiri bahwa vertigo ini akan sembuh, tidak akan menghambat aktivitas saya lagi, dan saya akan keluar dari rumah sakit ini segera. Akhirnya, siang hari, setelah diperiksa dokter spesialis saraf, saya diijinkan pulang karena hasil-hasil tes dan kondisi kesehatan saya sudah jauh membaik. 

Jangan ikuti rasa sakit itu... Jangan terus menuruti kehendak yang demikian... Miliki keyakinan Anda akan sembuh dan bisa beraktivitas seperti sediakala lagi. Dan itulah yang saya lakukan sekarang, menulis blog lagi dan melanjutkan kegiatan menulis saya, seperti biasanya.

20 November 2015

My Word of the Day: ENJOY

Arti kata Enjoy (dari situs www.dictionary.com):
(dalam bahasa Indonesia dari KBBI, “nikmat”: enak, lezat, merasa puas, senang, pemberian atau karunia dari Allah. “menikmati”: merasai (sesuatu yang nikmat atau lezat), mengecap, mengalami (sesuatu yang menyenangkan atau memuaskan)
  1.  To experience with joy; take pleasure in
  2. To have and use with satisfaction; have the benefit of
  3. To find or experience pleasure for (oneself)
  4. To undergo (an improvement)
  5. To have intercourse with
Tidak hanya pekerjaan kita, kegiatan, teman-teman, suami/istri, tapi (yang lebih penting) kehidupan kita…
Do you enjoy it? Experience your life with joy, take pleasure in (mengambil kesenangan dalam) kehidupan kita. Or don’t you?
Jika tidak, mungkin kita harus berhenti sejenak dan pikirkan. Melihat dari pengertian di atas, apakah saya enjoy:
  • Pekerjaan saya? Hal-hal yang saya lakukan di kantor, selama 8/9/10/12 jam per hari?
  • Kegiatan/aktivitas saya? Hal-hal yang saya lakukan sepulang kantor, seperti gym, fitness, kursus/les (menari, menyanyi, dll)?
  • Keluarga saya? Terlepas belum menikah, sudah menikah, baru menikah, orang-orang yang merupakan darah daging saya (ayah, ibu, beserta anak-anaknya)?
  • Teman-teman saya? Orang-orang yang ada di sekeliling saya, baik yang dekat maupun jauh, seperti teman-teman kantor, sahabat, tetangga, teman rumpi, teman jalan, teman sos-med, dst?
  • Pasangan saya/hubungan pasutri? Kekasih, tunangan, suami atau istri?
  • Tidur saya? Apakah tidur nyenyak/pulas, kesulitan tidur, atau tidak bisa tidur sama sekali?
  • Kebiasaan saya? Seperti nonton, baca, masak, shopping, ngopi, nongkrong, ngafe, nulis, makan, dst?
Dan akhirnya, secara keseluruhan, do you enjoy your life? If yes, congratulations… You’ll be young forever. If not, what will you do? Karena hidup hanya sekali. Saya sendiri tidak mau hanya bertahan, tapi menghidupkan, benar-benar menjadikan (membuat, menyebabkan) hidup saya. 
Let’s enjoy our life…

30 Oktober 2015

LIFE IS BEAUTIFUL - Berhenti Menunggunya

Ketika membaca ayat “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga”.

Saya suka ayat ini. Saya selalu memperkatakannya ketika kekhawatiran muncul, baik dalam pekerjaan, keuangan, makan, pergi hang-out atau mingle dengan teman, traktir teman, pacar? Saya mempercayai-Nya. Hanya saja saya (baru) menyadari satu hal, burung memang tidak bisa menabur atau mengumpulkan bekal dalam lumbung. Ia tidak bisa berpikir, apalagi menghitung. Namun, agar si burung dapat makan dan memberi makan anak-anaknya, jelas ia harus terbang, melakukan sesuatu. Dan Tuhan berjanji terus memeliharanya. Si burung akan terus mendapatkan makanan dimana saja. Hanya saja, ia harus terbang.

Saya sedang membaca artikel dari Mandy Hale berjudul “Three Lies Us Single People Need to Stop Telling Ourselves” dan kebohongan yang ketiga adalah “Thinking that we have to wait around for a relationship to realize our destiny”, Mandy menghimbau kita untuk “It’s time to stop waiting and start LIVING.” Ini adalah salah satu saran terbaik yang saya ketahui...

Pernahkah Anda menyukai seseorang, lalu memutuskan untuk menunggunya menghubungi Anda, mengajak pergi, memperkenalkan Anda dengan teman-temannya kemudian keluarganya, suatu hari “nembak” Anda, dan (siapa tahu) ia akan melamar nanti. Well, ini yang disebut menunggu…

Saya tidak menyalahkan Anda. Saya pun pernah melakukan hal yang sama. Dan begitu ia “nembak” saya, entah kenapa rasanya tidak sempurna atau seindah yang saya rasakan sebelumnya. Teman saya sempat berujar, “Mungkin terlalu lama ya, Eve…” Hmm, mungkin juga… Tapi saya sadar sekarang, hal tersebut dikarenakan saya hanya menunggu saja, tidak “terbang” atau “living”. Saya tidak melakukan apa-apa untuk mencerahkan hari saya, untuk mengisi kehidupan saya, dan (yang terpenting) melakukan persiapan untuk siapapun pasangan saya kelak.

Saya sering membalas perkataan teman-teman saya yang berkata, “Eve, sebenarnya kamu tuh sudah cocok berumah tangga dan punya anak” (Yes, I totally agree). Hanya saja ini jawaban saya, “Saya lebih baik telat menikah daripada salah pilih orang. Tidak apa deh terlambat, tapi saya percaya it’s all worth it…”

Bagaimana dengan Anda? Masihkah Anda menunggunya? Hentikan dulu sejenak “memikirkan dia”. Perhatikan diri Anda. Mulailah lakukan sesuatu. Upgrade yourself. Perkaya diri Anda dengan hal-hal hebat. Hidupi hidup Anda. Rasakan indahnya diri Anda dan lihatlah, you are worth it…  


Seperti kata-Nya kemudian, “Bukankah kamu lebih berharga daripada mereka (burung)?” Yes, you are, ladies

11 Juni 2015

Setelah Menonton Film Berjudul "LUCY"

Setelah menonton film layar lebar, “Lucy” selama dua hari berturut-turut, saya seperti diperhadapkan pada sebuah pemikiran/kenyataan ini.

Film yang diperankan oleh Scarlett Johansson tersebut, memberikan gambaran ketika manusia dapat menggunakan 100% dari kemampuan otaknya. Meski awalnya, Lucy hanya dijadikan sebagai pengantar paket obat, yaitu CPH4 –yang menurut film ini, merupakan suatu zat yang diberikan kepada janin selama masa kehamilan dan mempunyai efek samping yang merusak– ia berubah menjadi seorang yang dapat melakukan pekerjaan yang bisa saya katakan "pekerjaan Tuhan", lantaran obat tersebut masuk ke dalam tubuh dan selnya.

“Pekerjaan Tuhan?” tanya Anda, “Apa maksudnya?” 
Saya mungkin tidak bisa menceritakan secara detail ceritanya. Anda bisa menontonnya sendiri nanti. Tapi pada akhirnya, Lucy menjadi Omni-presence, ia berada dimana-mana. 
& inilah cerita dari sudut pandang saya... 

Seperti yang saya tulis di buku, “Are You Still ‘Single’?” Di dalam isi bab dua, saya ada membahas mengenai “Potensi.” Dan di bawah ini kutipan dari buku saya...
You are special. You are full of potential. 

“Most people have no idea of 
the giant capacity we can immediately command 
when we focus all resources on 
mastering a single area of our lives." 
—Anthony Robbins 


Selama ini manusia baru menggunakan 10% saja dari kemampuan otaknya. Tapi, lihatlah, dari 10% ini telah tercipta banyak "Produk-produk bagus". Sebut saja, Apple, Microsoft, konsep mega mal, hypermart, sosial media, film layar lebar, film serial, grup band dan penyanyi sukses, bisnis servis, sistem informatika, dll.
Semua yang saya sebut di atas bukanlah produk main-main. Mereka semua terbilang sukses dan terus berkembang. 

Beberapa pengertian potensi adalah: Kekuatan yang belum dimanfaatkan, talenta tersembunyi, kemampuan yang masih tertutup, semua yang Anda capai tetapi belum terwujud, semua yang Anda mampu lakukan tetapi belum dilaksanakan, sejauh yang dapat kita capai tetapi belum tercapai, kekuatan yang terpendam, dst. Well, my friends, semua ini perlu disingkapkan, kudu dikeluarkan...

"We all have the extraordinary coded with us
waiting to be released" 
—Jean Houston 

Saya mengutip dari penulis buku, Myles Munroe, "Tuhan tidak berusaha membuat Anda menjadi sesuatu. DIA berusaha menyingkap diri Anda yang sesungguhnya." Dan melihat pengertian ini dari film "Lucy," bukan keanehan yang akan Anda alami (seperti kemampuan immortals), namun seperti yang dikatakan oleh Professor Samuel Norman (diperankan oleh Morgan Freeman), "I have no idea..." Ya, tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata ketika kemampuan tersebut disingkapkan.

Namun, my friends, dalam hal ini Saya bukan meminta Anda untuk menggunakan kemampuan otak hingga 100%. Karena seperti yang tadi saya katakan di atas, sejauh ini kita hanya bisa mengaksesnya 10%. Namun, saya ingin mengajak Anda untuk membuka kode-kode "Potensi" dalam diri Anda. Mereka sedang menunggu untuk diungkapkan. Sebabnya, begitu potensi yang mulanya berbentuk benih, namun dengan seiring berjalannya waktubenih-benih Anda akan berubah menjadi “hutan”.

Oleh sebab itu, saya percaya di balik penampilan Anda, sesungguhnya masih tersembunyi sekian banyak gagasan, pikiran, visi yang dapat membawa dampak positif bagi banyak orang. Bahkan, akan bermunculan lagu-lagu penuh kekuatan yang belum diciptakan untuk dinyanyikan, buku-buku yang belum ditulis namun dapat mengubah kehidupan para pembacanya, film-film penuh inspirasi untuk dibuat dan ditonton, pemilik perusahaan dengan pemikirannya yang praktis dan kesuksesannya mengelola, & masih banyak lainnya. 

That's who you are, my friends, not the opposite... Ingatlah, bahwa sejak awal kita telah diciptakan demikian, "Penuh Potensi." Melalui waktu, kita perlu menjalani proses untuk memunculkannya... 

“The biggest lie the enemy tries to tell you is, 
“You’re not good enough, you don’t enough.” 
Don’t believe it!” 
—Casey Treat 

Happy release your codes. You'll be surprised of the capability that you're able to do... 

12 Maret 2015

And Remember, "You Are Beautiful..."


Saya yakin, setiap pertemuan bukanlah sebuah kebetulan...

Jadi, setelah Anda siap sekarang, what's next
Nah, ini kelanjutannya...

Sebuah pertanyaan besar,
"JIKA ANDA MEMBAYANGKAN SEBUAH PERNIKAHAN, APA YANG ADA DALAM BAYANGAN ANDA?"

Seperti yang kita tahu, pernikahan itu untuk membentuk keluarga. Jadi di dalamnya, ada suami, istri, juga anak. 
Dan bukan sekadar ayah, ibu, dan dua anak saja -Tapi, ini sih poster Keluarga Berencana ya- Maksud saya jika anggota keluarga ini berada dalam lingkaran, akan diisi apa dalamnya? 

Apa yang mau dan akan Anda isi dalam pernikahan Anda nantinya?

Nah, Anda tahu Walt Disney? 
Saya pernah mendengar ceritanya. Sesungguhnya waktu Disneyland di California diresmikan, saat itu Walt Disney sudah meninggal. Para tamu yang hadir di peresmiannya mengucapkan selamat kepada istrinya dan berkata, "Sayang sekali Walt tidak sempat melihat karyanya ini." Tapi saya suka jawaban sang istri, "Walt sudah melihat bentuk akhir karyanya ini berpuluh, bahkan beratus kali di dalam pikirannya." Wow...
Yes... Ketika Walt Disney sedang berada di sebuah lahan seluas 8 hektar tanah, ia sedang membayangkan sebuah Magical Park yang indah dan "Fun." Walt Disney merencanakan semuanya, setiap detail ada dalam pikirannya. Seperti apa Disneyland's King Arthur Carousel itu? Dan akan diletakkan dimana nanti? Lalu akan dibangun seperti apa Disney's Castle yang akhirnya jadi ikon Disney? 
Kemudian saat ia memberi nama Adventureland, Fantasyland, Frontierland, Tommorrowland, dst. Semua nama tersebut ada artinya... Bahkan tata letak, petanya... Ada yang ditaruh di tengah, lalu dipenuhi dengan taman atau dibangun jembatan dan sungai buatan yang indah, dan seterusnya.
Semua sudah ada di dalam pemikiran Walt Disney. Ia sudah tahu akan jadi seperti apa Disneyland itu. Ia sudah membayangkannya beratus-ratus kali. Ia telah melihatnya di dalam pikirannya. Jadi waktu Walt masih hidup, begitu pun Disneyland hidup di dalam pikirannya...

Nah, hebatnya pikiran kita, ia akan selalu menarik kita ke arah dominan.
Apa yang kita tatap paling lama, maka itu akan menjadi semakin kuat.
Semakin kamu berfokus kepadanya, akan semakin besar dampaknya. Lalu, penglihatan kita mengembangkan desire

Oleh karena itu, menurut saya, pernikahan bukanlah sebuah tujuan. Saya mengerti memang setiap wanita  mendambakan pernikahan, namun itu bukan goal Anda, Saudariku...
Goal Anda adalah apa yang akan terjadi setelah Anda menikah. Apa yang akan Anda isi? Nilai-nilai apa yang akan Anda anut, untuk kemudian diterapkan kepada anak-anak? Kehidupan seperti apa yang mau Anda jalani?

Sebabnya, if I can see it, I can have it. Itulah pola pikir kita...

Nah, saya termasuk orang yang suka menulis sesuatu, lalu menempelkannya di tempat yang bisa saya lihat. Tempat tersebut bisa di dinding, pintu lemari, pintu, samping lemari, dll, yang biasanya akan dipenuhi dengan segala sesuatu yang saya suka. Misal, tips/trik yang saya ambil dari majalah, quote dari buku, cita-cita saya, rencana, gambar puppies yang lucu, harapan dan keinginan, juga tambahan tulisan mengenai bayangan saya tentang sebuah pernikahan nantinya? 

Jujur saja, saya tidak punya kendala membayangkan pernikahan yang baik. Saya punya orang tua yang masih romantis. Papi saya masih memberi surprise pergi ke Bali berdua saja untuk Mami waktu ulang tahun pernikahan mereka kemarin. Mami saya masih menyiapkan makanan untuk papi saya, setiap harinya. Jadi, saya berharap kami (saya dan suami saya kelak), dapat terus menjadi pasangan romantis.
Selain itu, masih banyak lagi yang bisa saya bayangkan... Saya belajar dan melihat banyak dari Mami saya, juga lainnya. Sejak dulu, Mami saya punya kebiasaan menyiapkan bekal makanan buat anak-anaknya. Jadi, di kantor saya jarang jajan, Saudariku... Saya terbiasa makan di kantor. Selain enak tentunya, terjamin juga kebersihannya. Dan ternyata, kebiasaan ini menular ke teman-teman kantor saya lainnya. Ramai-ramai kami jadi membawa bekal, lalu makan bersama-sama saat lunch, sambil saling mencoba masakan masing-masing. Bangga rasanya kalau mendengar teman saya suka masakan Mami... Karena itulah, saya inigin mengurus keluarga juga nantinya, memasak, membawakan bekal, dll.
Buat saya, Mami tidak hanya sekadar role model, tapi seorang sahabat juga. Saya bisa bercerita apa saja dengannya...  Tentang cowok, pekerjaan, teman, dst. Sehingga rasanya keren banget kalau saya bisa menjadi sahabat anak-anak nantinya, juga suami. Dapat memberi kenyamanan, apalagi Mami saya sabarnya bukan main...

Itu beberapa harapan saya. Bagaimana dengan Anda? Apa harapan Anda mengenai pernikahan nantinya? Akan diisi apa hari-hari Anda? Dengan suami Anda setiap harinya? Dengan anak-anak? Bersama keluarga? Apa yang akan Anda isi? Apa yang hendak Anda lakukan? 

Coba tutup mata Anda sekarang dan bayangkan. Imajinasikan... Karena if I can see it, I can have it.

Lalu, catatlah segera. Taruh di tempat atau lokasi yang mudah dilihat.
Dan jangan ditulis saja, Sahabatku... Tapi berfokuslah pada hal itu. Kerjakan dan kejar, kalau perlu. Mulai lakukan. Mulai cari tahu. Mulai mempelajarinya.
Lanjutkan upgrade diri Anda. Saya yakin Anda akan bertambah-tambah siap sekarang...

Dan, tahukah Anda pengertian dari flower itu? Berikut beberapa pengertiannya berdasarkan situs www.sederet.co.id
  • A plant cultivated for its blooms or blossoms
  • The period of greatest prosperity or productivity
  • Produce or yield flowers
  • To blossom, to bloom, to expand the petals as a plant
  • To embellish with flowers
So, be blossom... Be prosper... Be productive... It is not too late. Show it...
And remember, "You are beautiful... Strong enough. Good enough. And bright enough."

09 Januari 2015

The Real Definition of "Namaste"

Good afternoon, all...
I just found the real definition of "Namaste", a word that we always say before and after yoga. This is so deep..

"Namaste" is an ancient Sanskrit greeting, still in everyday use in India. It means: "I BOW THE GOD WITHIN YOU" (Aku melihat Tuhan di dalam diri kamu) or "The Spirit within me salutes the Spirit in you." Wow...

Coba deh pakai pemikiran ini ketika ketemu teman nanti. Bahwa di dalam dirinya ada Tuhan... Jadi hormati dia, hargai dia. Lihatlah hal yang baik & indah & luar biasa dalam dirinya, karena seperti itulah Tuhan kita. Our God is so good, kind, wonderful, and yes, He is in us.. 



Have a fruitful day and Namaste...

19 Desember 2014

Sometimes We Ask These BIG Questions


I’m not going to lie, I’m ask it too sometimes…

Yes, the big question: Why am I still single till now? When am I getting married? Or Am I going to be marry one day or not and why I had to wait for this so long?

Well, what can I say, we’re woman. We’d like to use a feeling than mind. Sebagai contohnya saja, kita akan menangis saat nonton cerita yang sedih atau perpisahan, sementara pria hanya memutarkan bola matanya. Dan saya yakin sekali, setiap kali kita melihat bayi yang lucu ataupun anak anjing yang nakal, kita akan bersuara, “Owww, so cute…”

Hahahaha… That’s nothing wrong with that… Itulah yang membedakan kita dengan kaum pria. Hanya saja sayangnya, karena demikian terkadang wanita  membutuhkan lebih banyak waktu untuk move on, lebih lama dalam memilih daripada memutuskan, terlalu sering mengorbankan dirinya sendiri bagi orang lain namun menyia-nyiakan keinginan pribadi atau (buruknya) diri sendiri, lebih sering terbawa perasaan/lingkungan di sekitar daripada membuat perubahan atau berdiri teguh. Kerap berlarut-larut dalam perasaannya, susah move on, memilih “terbiasa” dibanding keluar dari zona nyamannya, mengambil sikap pasrah ketimbang membela dirinya sendiri (keinginannya).

Sahabatku yang cantik, ijinkan saya mengatakan hal ini kepada Anda, “Semua itu adalah masa lalu... Semua itu telah berada di belakang. Tidak ada yang bisa Anda lakukan lagi untuk kembali atau mengulangnya, tidaklah mungkin hingga jutaan tahun kemudian. Yang ada hanya hari ini…”

Ucapkan syukur untuk saat ini. Syukuri pekerjaan Anda. Syukuri keberadaan Anda. Syukuri perpisahan Anda, walau rasanya sakit di sini (sambil menunjuk hati Anda). Syukuri status Anda. Syukuri teman-teman Anda. Syukuri lingkungan Anda. Syukuri komunitas Anda. Syukuri keluarga Anda, baik jauh maupun dekat. Ucapkan syukur… Lalu, jalani kembali hidup Anda…

Masih ada waktu. Masih ada kesempatan. Belumlah terlambat. Semua itu masih ada di luar sana. Anda tinggal terus melanjutkan perjalanan. Terus berjalan maju, mau jalan cepat bahkan berlari pun tidak masalah, yang penting Anda maju dan bersemangat melanjutkannya. Barangkali sebentar lagi Anda akan sampai. Bisa jadi tepat di persimpangan/belokan di sana, ‘the right one’ itu berdiri. Tetaplah yakin... Walaupun belum kelihatan, bukan berarti tidak ada apa-apa di ujung jalan sana. Anda hanya perlu melangkah sedikit lagi, maju sedikit lagi… Then, you’ll see

Sembari itu, cobalah lihat sekitar. Saya yakin Anda tidak berjalan sendirian. Ada beberapa teman dan orang yang sedang berjalan juga di samping Anda. Boleh jadi mereka baru berpisah/putus, ada juga yang masih terluka, gapailah tangan mereka. Peganglah tangannya. Berjalanlah bersama-sama. Teruslah maju ke depan… Anda mungkin tidak tahu harus berkata apa. Tak mengapa, Saudariku… Terkadang yang dibutuhkan hanya telinga, diri Anda, dan tatapan mata penuh pengertian, juga kasih dari Anda. Yang lainnya tidaklah penting…

Ingatlah selalu, Anda tidak sendirian, Sahabatku, tidak pernah seperti itu… Berhentilah berpikir demikian dalam hidup ini. Cobalah keluar dan mulailah perhatikan dengan seksama. Berhentilah bertanya, “Kenapa dan Kapan?” Toh tidak membuat Anda tenang apalagi lega, malahan bertambah-tambah kepikiran. Mulailah berkata, “Apa yang bisa kulakukan? Apa yang bisa kuperbuat?” Mulailah explore keasikan menjadi seorang wanita. Bersenang-senanglah. Its our privilege… *wink

Mulailah kumpulkan teman-teman wanita Anda, baik yang masih jomblo, bertunangan, maupun yang sudah menikah. Pergilah berlibur dengan mereka atau belanja bareng. Bisa juga mengobrol santai sambil minum teh/ngopi, lalu sama-sama mengatur asupan diet, ataupun sekadar pergi ke gym bersama,  mengikuti kelas yoga, pilates, dll. Bagaimana dengan belajar masak, yang dilanjutkan mencoba tempat makanan baru? Tidak apa kok sekali-kali mentraktir diri sendiri makanan mewah dan fancy. Atau yang sering saya lakukan, chatting dengan my girlfriend sampai puas hingga tengah malam (sampai-sampai kami berdua ketiduran). Its sounds fun, ladies

So, my dearest friend,
I hope this Christmas will be for you a cheerful ending to the year
 and a great beginning to a happy new one.
Merry Christmas and Happy New Year...