29 Juli 2011

Nerry's Comfort Zone


Di dekat rumahku, ada salah seorang tetangga yang adalah pembantu rumah tangga. Ia baru saja dititipi anjing Golden Retriever oleh salah satu majikannya.
Mungkin kamu bingung mengapa aku berkata, “Salah satu majikannya?” Karena rumah yang ditinggali olehnya sebenarnya merupakan rumah milik majikan (aslinya) yang tinggal di Jakarta. Si Mbak hanya dititipi saja. Tapi, ia boleh tinggal bebas di situ dan memeliharanya/mendekorasi (memasang lampu hias, menempelkan poster-poster, memakai air, listrik, dsb). Dan kalau boleh kukatakan, rumahnya sangat bersih, meski tidak banyak perabotnya.
Untuk memenuhi kebutuhan (karena si mbak hanya dititipi saja :p), ia memutuskan untuk bekerja keliling menjadi pembantu harian dari beberapa orang majikan. Ia menyebutnya, "Bos-ku." 
Selama ini si Mbak merasa beruntung karena katanya, "Bos-ku selama ini baik-baik Non... Biar kata agak jauh rumahnya, tapi saya sih betah saja kerja di situ..." Yahh, lucky her... Cuma kalau menurutku sih, selain beruntung mendapat majikan yang baik, si Mbak juga orangnya memang sangat baik dan rajin, jadi rasanya ia tidak akan mengalami kesulitan bekerja di manapun dan bersama siapapun.
Oke, kembali lagi ke anjing Golden Retriever betina, warna putih, bernama Nerry yang usianya baru saja 6 bulan. Tapi selayaknya anjing Retriever, tubuhnya sudah bertumbuh sesuai dengan batas tingginya. Jadi rasanya ia tidak akan meninggi lagi, mungkin yang terjadi adalah melebar ke samping. Ya, aku yakin begitu...

Nah, Nerry persis sekali dengan foto ini
Nerry adalah anjing dari majikannya si Mbak yang sedang pulang ke negaranya, Korea, untuk berlibur sejenak. Nah, Nerry dititipi (juga) ke mbak. Tapi semua kebutuhannya sudah tentu disediakan, sekarung dog food, tempat makan dan minumnya, sisir, tali untuk berjalan-jalan, sampo anjing, bahkan vitamin, dan beberapa obat-obatan untuk hewan (yang adalah obat merah, minyak tawon, dsb :p)
Karena kesukaanku akan anjing, rumah si Mbak menjadi tempat yang sering kukunjungi dalam 2 minggu belakangan. Lagipula aku memang berencana tidak pergi kemana-mana juga selama seminggu ini (pas banget), hanya ingin berdiam di rumah, karena ada 2 deadline tulisan yang harus diselesaikan. Dan percayalah, aku betah-betah saja tidak kemana-mana...
Waktu hari pertama aku mengunjungi Nerry dan membelai-belainya, aku sudah (langsung) memutuskan untuk mengajaknya jalan-jalan, yang disambut riang gembira (sekali, kalo boleh kutambahkan) oleh Nerry. Ia sampai-sampai tidak bisa diam dengan menyalak sejadi-jadinya, seolah-olah berkata, "Hore.. hore.. Asik.. asik.. Kita akan berjalan-jalan..." Tentu saja aku mengerti, karena sejak menonton acara 'Dog Whisperer' (Cesar Milan), aku semakin yakin bahwa rutinitas yang harus dilakukan setiap hari adalah mengajak jalan. 
Hanya saja ternyata aku salah menduga, entah kenapa anjing ini tidak suka berjalan lama-lama... Apakah penyebabnya karena cuaca sore itu yang agak panas atau (mungkin) energinya sudah terkuras habis saat ia berlompat-lompat tadi. Aku melihatnya dengan lesu ketika Nerry sudah berbaring di tengah jalan raya kompleks, 10 menit kemudian. Ia benar-benar berbaring di sana dan tidak beranjak... Aku cukup khawatir memikirkannya, masalahnya tubuh Nerry pasti sudah mencapai 27 kg, setengahnya dari berat badanku. Aku tidak akan mungkin menggendongnya, bahkan aku gagal juga menariknya... Sampai dengan aku berkata, "Ayo dong Ner, wake up... Oke, kita pulang deh.." Tiba-tiba dia bangkit dan -tepatnya- menarikku pulang kembali ke rumah si Mbak. Aku sampai takjub melihatnya, sekaligus juga tertawa dalam hati. Sepertinya dia memang sangat mengerti dengan kata 'pulang' itu.
Sesampainya di rumah, Nerry langsung menuju tempat minumnya. Dengan tergesa-gesa, juga pasrah, ia menurut saja diikat kembali oleh si Mbak, lalu menjulurkan tangannya, tanda ingin 'bersalaman' dan aku menyambutnya. Namun ternyata tanganku tidak mau dilepasnya.
Aku tahu maksud Nerry, ia tidak mengijinkanku pulang ke 'rumahku,' ia masih ingin aku tetap di sana membelai-belainya, mengusap hidungnya, dan sedikit memberi pijatan di kepalanya. Kulakukan semua itu sampai 4 menit lamanya dan dia tetap tidak membiarkanku pergi. Si mbak pun berkata, "Dia tau tuh, Non, kalo sama Non dia disayang-sayang. Makanya dia nggak ijinin Non pulang."
Aku berpikir... Berarti secara nggak langsung, aku telah memberi kenyamanan kepada anjing ini. Meskipun perjumpaan kami terbilang singkat (dan rasanya tidak sampai 30 menit, dari pertama kali aku menghampiri rumah si Mbak hingga mengajaknya jalan-jalan), tapi Nerry merasa nyaman berada di dekatku (yang adalah orang asing) dibanding si Mbak. Padahal si Mbak yang memberinya makan, menyisirnya, tapi aku yang dia harapkan berada di sisinya. 
Cukup kagum aku dibuatnya, berhasil memberi kenyamanan kepada seekor anjing lagi... Dulu aku pernah berada di situasi yang sama, hanya saja anjingnya waktu itu adalah anjingku sendiri, yaitu Zacky, Doogie, Lea, dan terakhir adalah Cathy dengan 2 anaknya, Diane dan Florence. Memoriku sedikit mengenang mereka sebentar, sambil tersenyum-senyum sendiri...
Secara pribadi, aku sih senang-senang saja tiap hari kesana, membelainya dan mengajaknya jalan, toh cuma itu kerjaanku... Ringan... :p Yang berat-berat (memberinya makan, menyisir, membersihkan kotorannya) justru adalah pekerjaan si Mbak. Hehe... Aku seperti memiliki anjing, yang tidak ada bebannya... ;) Enaknya...
5 menit kemudian, aku diijinkan pulang oleh Nerry karena matanya sudah mulai tertutup sedikit. Sepertinya ia mulai capai dan mengantuk. Aku langsung pamit ke si Mbak (dan anaknya yang sedang berkunjung dari kampungnya), mengelus Nerry terakhir kali dan melambai, sambil berjanji, "Besok aku akan ajakin jalan-jalan lagi ya Mbak.."
Nerry sempat gusar waktu aku berjalan menjauhi rumah si Mbak. Ia pun bangkit lagi, tapi kali ini tidak menggonggong. Aku sempat berteriak kecil padanya, "Besok kita ketemu lagi ya Ner.. Jalan-jalannya lanjut besok.." Lagi-lagi, anjing itu tampaknya mengerti ucapanku, ia mengibas-ngibaskan ekornya sambil kaki depannya berdiri di tembok sebatas lutut di sebelahnya. 
Aku pun akhirnya bisa pulang ke rumah... :D

08 Februari 2011

Miracle still happens


Bulan Januari 2011 yang lalu, I just returned from my holiday to Surabaya; I really enjoyed my trip. I got a lot experience in there, a lot of lessons, more weight & beautiful memorable moments. Yes… It was beautiful. Jadi ada 2 kejadian yang terjadi di Surabaya.

First, kasus diberhentikannya pesawat Mandala (padahal ya Mandala itu bagus lho. My flight was 1.55 pm and they actually departed on 1.55 pm. Gak pake telat, benar-benar on-time. Sayang sudah tidak beroperasi lagi). When they announced Mandala is no longer in operation, aku masih di Surabaya. FYI, waktu itu aku beli tiket pesawatnya dengan harga promo. Untuk harga one way only cuma Rp.100.000,- Jadi total PP: Rp.200.000,- Murah kan? (And even I didn't process the refund, let say Rp.200.000,- but for flight from Jkt to Sby, it’s still cheap). Ternyata harga murah ini dikarenakan harga transit. Harusnya tujuan ke Denpasar, tapi mereka transit di Surabaya. Makanya murah…
Ok back to the story… Pengumumannya itu diberitakan di Koran hari Kamis (tgl. 13 Jan). So, my cousin (yang namanya Ci Lia) membangunkan saya pagi-pagi benar, “Eve, ini kok di Koran Jawa Pos ada pemberitahuan kalo Mandala tidak beroperasi lagi ya? Coba deh kamu baca dan cari tahu dulu, sementara aku antar anak2 ke sekolah ya…” Namun, dikarenakan hari sebelumnya (hari Rabu) aku baru dari Madura (jalan-jalan dari Bangkalan, Sampang, Pemengkasan sampe Sumenep), aku masih sangat lelah. Jadi setelah membacanya, aku pun tertidur lagi. Sebenarnya bukannya cuek ato tidak peduli, but because I believe Tuhan tidak akan membiarkanku begitu saja. He will make everything well, so that is why I’m not worry at all. Saya pikir kalau pun sampai tidak menemukan pesawat murah atau sudah full hingga hari Senin, aku bisa pulang naik kereta. Yang menurutku masih ok lah… 
At 8 AM, again Ci Lia woke me up. It’s seems I was not able to sleep again and have to start looking the information about this situation.  But before I do that, I’m so surprised, my BB full of BBM from family & friends. They considering about me (hahaha… dan saya malah tidur). So, I got all the information from them: Refund, cheap airlines ticket, promo, etc. Mereka juga kasih tau keadaan kantor Mandala di Jakarta. Karena itulah, aku berencana mau mampir ke Kantor Pusat Mandala di Sby (Jl. Diponegoro) dengan maksud mau tanya-tanya, tapi nyatanya sangat rame, penuh, hujan pula, mungkin lebih baik batal saja…
Lalu, my Dad called & said, “Vlyne, kamu searching pesawat murah deh di internet. Nanti papi yang bayarin pesawatnya.” Dan itulah yang terjadi… In fact, my Father transfered me money for ticket, including airport tax. Voila… GOD really takes care of me. Akhirnya, aku pesen tiket pesawat via jasa travel langganan sodaraku yang letaknya cuma 2 rumah di sebelahnya (hahaha…). And before lunch, I got my ticket. Yes, all is well…

Hotel Purnama at Batu, Malang
Nah yang kedua adalah kejadian BB-ku hilang. Hari Sabtu-nya, aku & keluarga Ci Lia pergi ke Batu, Malang dan kita nginep di Hotel Purnama yang bagus sekali, juga indah pemandangannya. Bahkan, kita sampe dikasih free of dinner, also the breakfast for 4 people.
After dinner, kita pergi jemput suaminya Ci Lia (namanya Ko Fendi), yang makan bareng temannya di Flamboyant Café. Dalam perjalanan, aku masih BBM-an ama temenku di mobil. Dan sesampai di sana, aku memang langsung turun (karena lagi hujan juga) & lari menuju tempat jual yoghurt yang letaknya tidak terlalu jauh. Kedua keponakanku uda pengen nyoba. Saat di kasir, aku baru sadar BB-ku dimana ya? Lalu, aku merogoh kantung, cari di tasku tapi gak ada. Aku langsung pinjam kunci mobil Ci Lia, mulai cari dan ngubek ke mobil juga halaman sekitarnya, tetap gak ketemu. Padahal aku ngerasa cuma sesaat lho, paling nggak sampe 3 menit kejadiannya. Aku mulai dag-dig-dug, kayanya hilang nih. Apalagi dihubungi sudah masuk voice mail.
Akhirnya, for the next 45 minutes, everybody was looking my BB, including Ko Fendi’s friend & his children (padahal aku baru saja berkenalan dengan mereka). Aku liat mereka sempet tanya2 tukang parkir, satpam, kasir yoghurt, pelican cafe. Trus sempat ninggalin nama & nomor telp yang bisa dihubungi karena café sudah mau tutup. But the truth is I’ve lost hope. I think it’s already gone.
Sesampainya di hotel, tiba-tiba Ci Lia merangkulku & berkata, “Eve sori banget ya kalo sampe jadi begini. Coba kalo kita gak ke Batu, pasti BB kamu gak hilang. Biar kuganti ya Eve BB-nya.” Waktu denger itu aku jadi nangis. Sebabnya, aku tidak mau Ci Lia berpikir demikian, juga merasa takjub atas tawaran Ci Lia. Tapi, sambil geleng-geleng kepala aku menolak. Lalu, kita sempet berdoa ber-4 di kamar (aku, ci Lia & 2 orang anaknya). Dalam doanya Ci Lia terus-menerus bicara tentang mujizat yang pasti terjadi (dan memang terjadi dalam hidupku, namun tidak dengan caraku). Saat itu aku teringat Filipi 4:6, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”
So, I changed my prayer, “Lord I’m grateful for all that happened to me now. Aku betul2 bersyukur liburan di Surabaya ini. Aku sungguh terpelihara sempurna, in everything. Makan enak terus, bisa puas nyobain berbagai macam makanan khas Sby. Bersyukur karena aku tinggalnya di rumah Ci Lia. Bersyukur karena keluarga ini adalah tuan rumah juga keluarga yang sangat baik. Bersyukur karena aku bisa ke Batu & liburan di tempat yang indah, yang mungkin gak akan kudapat lagi kalo di Jakarta.” Dan kalo kupikir2, aku pun juga hampir gak keluar uang selama liburan ini kecuali untuk beli oleh-oleh. So yes, I’m so lucky surrounded by all this beautiful moment. 
Setelah itu, aku pun tidak bersedih lagi, I just surrender to God. Kalo ketemu ya Puji Tuhan. Kalo gak ketemu, Puji Tuhan juga. Dan malamnya aku bisa tidur dengan nyenyak.

Keesokan harinya, dalam perjalanan pulang ke rumah (Sby), mereka bawa aku ke Plaza Marina (seperti Roxy) dan mereka benar2 berniat membelikanku BB. I think I can’t say anything. Karena kejadiannya ‘tiba-tiba’ juga, aku hanya mengikuti mereka 
Setelah muter2, aku sempet khawatir juga dengan harga BB original (hitam) di Sby yang bisa sampe 2,6 juta ato 2,7 juta. So I called my brother, Ryan. aku perlu quick lesson membeli BB darinya. Karena yang kemarin aku beli, aku hanya tau bayar tokk, tapi gak tau prosesnya gimana. Akhirnya, kita berhasil ketemu 1 toko yang jual BB dengan harga yg sama dengan Jkt, bergaransi TAM pula. It was perfect…  Jadi kita beli di sana.
Tapi ada yang membuatku kepikiran, mereka membayarnya dengan cicilan bukan tunai. So that’s make me thinking, mungkin saja mereka sedang tidak ada uang saat itu, makanya jadi nyicil. I felt really bad. 

Hingga malamnya, setelah anak2 sudah tidur, I decide to talk with them, “Ko, Ci, begini. Aku uda discuss sama Mami & kita merasa gak enak. Gimana kalo kita bantu bayar setengahnya?” Dan belum2, mereka langsung nolak. Lalu, aku bilang lagi, “Kalo gitu anggap ajah sekarang aku pinjem ya, nanti aku pasti balikin lagi dalam bentuk barang juga.” 
Dan Ko Fendi mulai bicara yang membuatku terharu, “Eve, kita kok kayak orang lain ya. Padahal kan kita keluarga. Jadi sudah seharusnya bersikap begitu. Jangan merasa gak enak dong, wong kita ajah udah gak mikirin kok. Yang terpenting kamu happy, gak kapok lagi ke Surabaya. Kita bener2 berharap kamu pulang dalam keadaan bahagia, bukannya bersedih. So, it’s oke lahhh..”
Saat itu entah kenapa ayat, “…Giving so you will be given…” terngiang2 di kepalaku. Aku percaya, Tuhan sedang memakai mereka untuk memberkatiku & pastinya, Tuhan pun akan memberkati mereka lebih lagi.  
That’s the value of family. I’m so thankful having them as my family…  Kalau mereka saja berusaha sedemikian rupa untuk membuatku melupakan my past, my lost & everything, so yes, I have to change my paradigm as well. Aku harus pulang dalam keadaan bahagia & sama2 enak. Supaya gak cuma aku saja yang enak, mereka pun juga demikian. Jadinya malam itu, kami asik bercerita tentang pengalamanan memancing di Madura, Bandung, Puncak (karena mereka belum pernah ke sana), juga makanan2 enak Sby lainnya yang aku belum coba, yang berarti (menurut mereka) aku harus datang lagi untuk nyobain, hehe... Kita bertiga ngobrol seru sekali sampe jam 11 pm. It was a beautiful night…

Yes, bad things happen to good people. But God still with us. IA ada disana saat keadaan baik maupun buruk menimpa kita. HE consoled, embrace us & giving encouragement so we can bear it, get through of it. HE replaces my sorrow with joy, tak dibiarkannya aku bersedih terlalu lama. Thank you Father…

Akhir cerita, Ci Lia & Ko Fendi akhirnya setuju membagi pembayaran 50:50 dengan kita. After my mom talked to them dan membawa nama papiku, mereka setuju juga, fiuhh… That’s good… 
Sementara itu, orangtuaku juga memutuskan untuk membantu cicilannya. Dengan jumlah hanya  Rp.100.000 per bulannya saja, the rest will be their responsibilities (hahaha…) GOD is good all the time… Yes... Miracle still happens
Me, along with a wonderful family, minus pelayannya :)

17 Oktober 2010

I love my family

Benedict, me, Ryan, Mami, Papi
What MY DAD has done and said to me:
  • Waktu SMA dulu aku pernah ketahuan nyontek. Sampe my parents dipanggil Kepala Sekolah. Dan aku pun juga nyaris dikeluarin dari mata pelajaran tersebut, yang bisa jadi akibatnya gak naik kelas. Tapi ada 1 kejadian indah yang terjadi (yang tidak kulupa sampai sekarang), yaitu saat orang tuaku dipanggil Kepala Sekolah. Waktu menghadap, my Dad berkata, "Saya tau Evelyne memang salah, tapi dia anak saya. Dan sebagai orang tuanya saya meminta maaf atas perbuatannya itu, tapi saya sadar ini pun salah saya sebagai ortu. Namun satu hal yang pasti, saya akan terus berada di sisinya, terus men-support masa depannya, apapun hukuman Ibu kepadanya" Sejak saat itu, aku tidak pernah main-main lagi. I really take it seriously for school and college. Alhasil, IP ku: 3.32 dan berhasil lulus kuliah hanya dalam 3.5 tahun saja.
  • Ketika aku baru saja putus sama pacarku, my Dad malah berkata, "Ayo Vlyne kita pergi ke Mangga Dua yuukk.. Papi akan traktir kamu belanja dan membelikan barang-barang yang kamu suka." Yippii.. Aku kurang inget sih waktu itu beli apa aja, tapi yang kuingat, aku pulang dengan 3 kantong plastik besar, hihihi... Dan 2 hari kemudian, aku sudah bisa melupakan mantan pacarku itu...
  • Pernah juga waktu aku lagi merasa kesepian banget di rumah. Tiba-tiba timbul keinginan untuk memiliki anjing. Singkat cerita, aku memutuskan untuk meminjam anjing Sharpei milik tanteku, bernama Cathy selama 2 minggu. Aku memang hanya bermaksud meminjamnya saja, karena aku tau my Dad gak terlalu suka anjing. Tapi 10 hari kemudian, my dad malah mengijinkanku memeliharanya dan menjadikan anjing itu sebagai our pet. Thank you Dad..
What  My MOM has done and said to me :
  • My mom selalu nungguin aku pulang kantor supaya kita bisa makan malam bersama. Entah mau semalam apapun, she will waiting for me. Baru kemudian kami makan bersama di meja makan dan biasanya pun my mom hanya menjadi pendengar yang baik saja, dibiarkannya aku bercerita panjang lebar. Yeah.. She always in my side. She is my best friends. 
  • My mom suka membersihkan kamar anak-anaknya: ganti sprei, lap-lap, vacuum cleaner, ngejemur ranjang, dsb. Dan ia tidak pernah mengeluh dalam melakukannya, Kerenn...
  • Ketika aku batal married (it was 7 years ago), my mom told me, "Mami akan selalu bersama dengan kamu Vlyne. Bersama-sama kita akan hadapin ini. Mami juga akan selalu berada di sisimu, menghibur dan berusaha membuatmu tertawa lagi. Karena itulah yang Tuhan ingin Mami lakukan untuk menghiburmu." Dan akhirnya? Aku hanya menangis 3 hari saja dan tidak pernah bersedih/ memikirkannya lagi sampai sekarang :D That's because what my mom has said and done to me..
  • Dan ketika aku sempat mengalami financial problem, my mom selalu membantuku. Beliau-lah yang meminjamkan aku uang, membantu mengisi bensin, inisiatif membeli keperluanku. Dan di atas segalanya, my mom terus mendukung dan percaya akan keputusan yang telah kuambil. My mom tahu aku akan tetap baik-baik saja. "Doa orang benar memang besar kuasanya." I'm fine till now...
What MY BROTHER (Ryan) has done & said to me :
  • Ketika ada tukang parkir bersiul-siul terhadap aku, Ryan langsung membuka jendela dan berkata, "Eh Pak itu tuh kakak saya. Saya gak suka kamu berlaku demikian ya.. Lain kali jangan kurang ajar gitu. Paham? Awas lhoo.."
  • Waktu aku baru saja selesai skripsi dan memang diam saja di rumah, tidak melakukan apa-apa, aku sempet merasa kesepian dan bosan sekali. Lalu Ryan berkata begini, "Ayo Ci... Besok kamu ikut aku ke kampus deh. Aku cuma ada kelas satu kali. Lagipula di sana lagi ada pameran buku juga banyak jual makanan favorit. Oke?" Kenyataannya, I'd have fun in there. Aku berhasil beli buku-buku bagus yang miring harganya, trus terlibat dalam rapat dengan anggota Senat Kampusnya Ryan.
  • Pernah juga ketika aku baru mengundurkan diri dari WO tempat kami bernaung karena sikap kasar,  ketidak adilan dari boss-nya terhadapku, Ryan ikut-ikutan mengundurkan diri juga, ia memutuskan tidak mau terlibat lagi. Lalu beberapa bulan kemudian, istri bosnya sempat menghubungi Ryan dan meminta Ryan untuk kembali membantu timnya, belum-belum ia sudah mengatakan lebih baik jangan mengajak Evelyne (aku) lagi. Akhirnya dengan lantang Ryan menjawab, "Aku gak bisa, karena kalo ikut dengan kalian aku akan menyakiti ciciku. Dan aku tidak mau melakukannya.." Well, dia menolak pekerjaan itu untukku. I will never forget this..
  • Aku pernah bilang padanya bahwa ia sudah cocok dengan satu cewek ini. "Ryan, menurutku kamu dah cocok deh sama dia. Kenapa kalian gak jadian saja? Kita sekeluarga pun uda suka juga kok sama dia. Hmmm gimana? Coba deh kamu pikirin.." 2 hari kemudian, mereka jadian, walaupun sayangnya 1 tahun kemudian mereka putus. Tapi Ryan mendengarkan perkataanku dan mengikutinya. Dia percaya sama aku...
What MY LITTLE BROTHER (Benedict) has done & said to me : 
  • Waktu Dede (panggilan sayangku untuk Benedict) harus menjemput aku di tempat kerja, aku keluar dengan membawa 1 kantong plastik besar dan tas ku. Terlihat ribet memang, apalagi kami ternyata naik motor bukan mobil. Tapi belum aku duduk, Dede berkata, "Sini Ci plastiknya.. Aku taruh di stang motorku aja." Tujuan ia melakukan itu supaya aku bisa duduk nyaman di belakang. Namun setelah setengah jalan, tiba-tiba Dede menghentikan motornya dan berkata, "Ci.. Kok jadi miring-miring terus ya kemudinya?" Aku pun tertawa lalu berkata, "Ya uda sini kantongnya biar ku pegang aja." Tapi Dede tetep keukeuh, dan berkata, "Ya uda tas cici aja deh yang taruh di stang. Gak berat kan? Kalo ini sih bisa kok.." Hehehe, he was so funny
  • Ketika Benedict berantem sama pacar pertamanya, t'rus sempat putus sesaat, Ben datang ke kamarku lalu menangis. Dan sebelum ia bercerita, ia memelukku dulu sambil menangis di pundakku. Aku suka Benedict melakukan hal itu, ia sedang menganggapku sebagai Cici.

14 Oktober 2010

Excited to make you happy

Banyak cara membuat kita bahagia...
Banyak cara membuat kita tertawa dan tersenyum.
Mau tau bagaimana? Tanyalah pada ahlinya.TUHAN... DIA-lah the Master. Dia punya segudang cara untuk membuat kita tertawa dan bahagia.

Hari Rabu yang lalu, sebenarnya saya sudah berencana untuk tidak bekerja.
Rasanya tidak bersemangat sekali untuk masuk kantor.. Selain kenyataan saya akan masuk ke dalam "The chaos world," alasan lainnya juga karena saya sedang enggan bertemu bos saya.
Namun, Mami saya tercinta sudah membuatkan makanan untuk di-take away ke kantor, yaitu ayam goreng favorit dan nasi uduk (nyam.. nyam..)
Ketika saya baru saja membuka mulut dan berkata, "Males ke kantor nih, Mam..."
"Lho kok gitu? Mami uda masak dari jam 5 pagi tadi lho. Kalo tau kamu gak ke kantor kan Mami gak usah bangun sepagi itu," jawabnya dengan muka bete. Dengan perasaan tak enak, akhirnya saya berujar, "Ya sudah deh, aku ke kantor ya.."

Sambil menyetir, saya berdoa dalam hati agar semuanya berjalan lancar hari ini: Supaya tidak ada yang marah-marah, teriak-teriak, saling menyalahkan, dan supaya saya juga dapat bekerja dengan baik, giving my best...
Lalu saya pun memandang ke langit dan terlihat cuaca sedang bagus, tidak hujan, tidak panas, hebat..
Dan yang mengejutkannya lagi, jalanan tidak macet. Thank You Lord.. It's very a good start for my morning..

Setiap hari Rabu, I never missed to listen Coach Career di Hard Rock FM bersama Rene Suhardono. Saya suka sekali dengan setiap topiknya, betul-betul membangun dan memotivasi. Rasanya tuh, pikiran seperti didobrak dan dirombak habis-habisan supaya bisa menjadi the "Ultimate You" setelah mendengarkan. (that's good)

Topiknya kali itu: Sebuah big decision selalu dimulai dengan small step.
Seperti biasa di setiap sesi-nya, Coach Rene melontarkan pertanyaan, "Big Decision apa yang baru saja kamu ambil akhir-akhir ini? Dan small step apa yang kamu lakukan?"
Saya langsung mengirimkan SMS, dengan tulisan: "My big decision: Keluar dari perusahaan akhir tahun ini. My small decision: terus menulis (coz that's my passion), writing everyday supaya selesai bukunya, keep smiling, thankful for brand new day, forgive people, terus berbuat kasih kepada mereka." 

20 menit kemudian, Hard Rock FM menghubungi saya. Luar biasa sekali...  Mereka bilang, "Evelyne, kamu akan segera on air ya dan bisa tanya apa saja kepada Rene. Dan kalo bagus kamu pun bisa menangin Nexian Journey-nya." Wow...
Dan kesempatan itu pun datang, Iwet dan Ayu Dewi bertanya dulu, "Apa kabar Evelyne?" dan saya menjawab, "Baik.. Baik.." 
"Oke Evelyne kamu mau share apa ke Rene sekarang." kata Iwet. Dan mulailah saya bercerita di sana.

Kemudian, Coach Rene sempat berkata, "Wow.. Saya gak tau harus berkata apa.."
Tapi saya terus nyerocos saja, menggambarkan apa yang sedang terjadi. Karena saya merasa memang perlu membangun diri sendiri tiap hari. Itu yang harus saya lakukan... Makanya saya tidak menulis small step di SMS, tapi small decision.
I have to make small decision everyday untuk berkata pada diri sendiri, "Hey.. I'm gonna be okay.. I can do all things through GOD who strengthens me.." Terus menerus perkatakan itu setiap saat... Sebabnya terkadang saya merasa bisa tidak mudah bekerja dalam situasi kantor yang sekarang, terkadang saya bisa menjadi sangat tertekan banget untuk melaluinya.Di sisi lainnya pun, saya sudah punya agreement, "Kalau mau resign harus ajuin 3 bulan sebelumnya." Sometimes I hate that agreement.. But in a same time, I realized I have to commit; I can't too emotional. Apalagi saya tahu, sangat tidak dianjurkan sama sekali membuat keputusan dalam keadaan abu-abu ato bingung. Bisa jadi wrong decision yang dibuat. And I dont want that too.. I have to commit and responsible dengan keputusan yang sudah saya ambil. Karena itulah salah satu sikap orang dewasa: Bertanggung jawab atas keputusan yang telah diambilnya.

Then, saya berkata, "Aku mau menulis tiap hari." Lalu Coach Rene bertanya, "Sudah punya blog? Boleh tau apa namanya? Mungkin bisa berbagi disini, supaya bisa dibaca juga oleh yang lain."
Dan saya katakan, "Belum" (Sebenarnya saya sudah punya blog ini dari tahun 2009, tapi sudah tidak pernah saya isi atau jarang. Bahkan saya saja tidak yakin masih bisa sign in ato tidak, tapi nyatanya bisa, hahaha)
"Oke kamu harus punya sekarang. Karena aku yakin sekali, apa yang kamu tulis nanti bisa memberkati orang lain, juga bisa memengaruhi orang. Apa yang kamu rasakan, bisa kamu sharing-kan." 

Setelah selesai bercakap-cakap, akhirnya Iwet berkata, "Dan Evelyne kamu dapat hadiah Nexian Journey ya? Selamat.."
"Wah senangnya.. Uda punya blog, dapat hadiah pula, cocok tuh."
kata Ayu Dewi.
Tapi telp tiba-tiba ditutup, saya merasa belum diberitahu apa-apa about the gift, saya juga belum bilang "Tinggal disini... Nanti kirim aja kesini.... dan sebagainya" Namun sudah nut..nut.. (putus).

Waktu itu, saya belum tau sebenarnya saya dapat Nexian Journey atau tidak. Saya sempat telp balik berulang kali, juga bertanya ke operatornya, tapi I didn't get any explanation. But actually, that's not really matter for me. Yang terpenting: Sepanjang hari itu saya jadi tersenyum dan tersenyum terus. I'm so happy. Yeah, GOD really make me smile. Thank you Lord for what You've done.. 

Dan inilah yang saya lakukan juga, melanjutkan blog saya lagi.
Terima kasih untuk Coach Rene Suhardono. Yes.. This is my small step, but after heard what you said in a phone, I just believe: it will bring me to Big Decision and to the brighter future.

1 bulan kemudian...
Saya dapat juga Nexian Journey-nya, horee... Senang banget rasanya. Langsung saya jual untuk memenuhi kebutuhan. Dan harganya pun termasuk baguslah...

17 Desember 2009

Masih Adakah Kehidupan Indah itu?


Jujur saja, saya sedang tergila-gila dengan cerita Marley, tokoh anjing dari cerita “Marley and Me” dan pemiliknya –sekaligus penulis-- John Grogan. Perasaan ini timbul setelah saya menonton filmnya di bioskop. Ya.. Cerita yang diangkat dari kisah true story antara anjing dan pemiliknya itu memang patut diancungi jempol. Betul-betul menyentuh..
Sebenarnya wajar saja jika saya mengalami hal ini, mengingat saya adalah pecinta anjing dan di sisi lain, saya masih sering memikirkan anjing Sharpei saya (dulu) bernama Cathy, yang terpaksa diberikan ke orang lain karena kami sedang mengalami kendala financial. Rasanya, saya bisa menguraikan air mata tiap kali mengingatnya.

Beberapa waktu yang lalu, kami (jemaat) sempat diberi sebuah kuis oleh Pendeta kami. Beliau menanyakan beberapa hal di bawah ini : (disebut kategori pertama).
1. Sebutkan 5 nama Presiden favoritmu !
2. Sebutkan 5 nama olahragawan favoritmu !

Ketika mendengarnya, saya hampir gagal menjawab kedua pertanyaan tersebut. Karena saya hanya tahu sekitar dua sampai tiga nama saja, tapi ia menyuruh menyebutkan lima nama. Hingga saat ini, Presiden favorit saya masih Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) dan Gus Dur (Pak Abdurachman Wahid), yang telah banyak membawa perubahan bagi Indonesia.
Tapi ketika menjawab pertanyaan kedua, lain lagi ceritanya. Saya bukan penggila sport dan pengetahuan tentang dunia ini masih terbilang “standar-standar” saja. Sempat muncul beberapa nama, seperti Michael Jordan (yang sekarang sudah berusia tua dan mewariskan bakatnya itu ke anaknya – yang lagi-lagi saya tidak tahu nama anaknya--), David Beckham (karena ia sangat terkenal, apalagi setelah kepindahannya ke Amerika), dan yang terakhir Tiger Woods (entah penulisan namanya benar atau tidak).
Cukup lama waktu yang diberikan olehnya. Hingga ia melanjutkan pertanyaan untuk kategori yang kedua :
1. Sebutkan 5 nama guru favoritmu !
2. Sebutkan 5 nama orang yang pernah membantumu !
3. Sebutkan 5 kejadian yang tidak akan pernah kamu lupakan seumur hidup !

Untuk pertanyaan ini, saya tidak membutuhkan waktu lama dalam menjawabnya. Dengan gesit, saya menyebutkan satu per satu nama, sambil mengajak pikiran untuk bernostalgia sedikit, mengeluarkan beberapa arsip file dalam memori otak. Kali ini waktu yang diberikan pun juga tidak lama.
Setelah dilihatnya kami telah selesai, ia bertanya, ”Mengapa Anda lebih mudah menyebutkan kategori yang kedua?” Tak ada diantara kami yang menjawab. Lalu, ia pun menjelaskan maksudnya, “Itu karena orang-orang tersebutlah yang telah banyak meninggalkan kenangan di dalam hidupmu. Mereka telah berhasil menorehkan perubahan dalam diri Anda. Yang mungkin tidak besar bagi orang lain, apalagi bagi kota, namun itu besar bagi dirimu. Dan karena hanya Anda yang pernah merasakannya, maka akan tercipta abadi dalam memori. Mungkin mereka bukan orang tua dan teman Anda, tapi yang pasti mereka adalah orang-orang yang telah membawa perubahan dalam hidup Anda.”

Kurang lebih seperti itulah yang dirasakan oleh John Grogan terhadap Marley. Meskipun menurutnya, Marley adalah anjing terburuk di seluruh dunia. Tapi justru dengan keberadaan Marley, sosoknya mampu mengguncang dan mengubah hari-hari John dan Jenny (istrinya) sampai sekarang. Membuatnya bisa terus mengenang anjing tersebut, sekalipun Marley telah tiada. Saya membayangkan ketika John Grogan menulis tingkah laku Marley, kemungkinan akan seperti saya ketika mengenang Cathy: senyum-senyum sendiri, mulai memperlihatkan wajah sumringah dan sedikit bernostalgia dengan keluarga. Yang kemudian, saya abadikan kejadian lucu yang pernah kami alami tersebut ke dalam tulisan/ catatan.

Teman, banyak cara untuk membuat kita bahagia...
Saya pernah membaca sebuah buletin yang menyebutkan ini, ”Sesungguhnya hidup itu seperti masuk dan keluar pintu. Ketika kita lulus SMA, maka itu berarti kita menutup pintu SMA dan membuka pintu kuliah. Ketika kita mengakhiri masa lajang, artinya kita menutup pintu ”lajang dan sendiri,” yang kemudian membuka pintu pernikahan, juga keluarga, dan begitu seterusnya.”
Saya yakin sudah banyak nama dan kejadian yang ikut dialami dari proses ”keluar masuk” tersebut. Ada yang menyedihkan, ada juga yang menyenangkan. Ada yang membuat kecewa, ada juga yang membuat bangga. Ada yang perlu ditahan, tapi ada juga yang harus dilepaskan. Tapi, bersyukurlah pada Tuhan kita masih punya memori untuk terus mengingatnya.
Orang selalu berkata, “Life still go on, so continue your life.” Ya.. Hidup adalah sebuah proses. Kita perlu untuk terus melihat ke depan. Masa lalu pasti ada, karena kita pernah mengalaminya. Namun jangan berhenti sampai situ saja, ambil jalan untuk keluar dan masuki kehidupan yang baru. Untuk masa lalu sih, hanya cukup dikenang saja dalam hati. Seperti saya sekarang, sedang mengenang banyak nama dalam kehidupan saya dan saya jadi bersyukur dengan Tuhan atas proses ini.
Oleh karena itu, sekarang saya ingin berterimakasih kepada banyak nama yang telah membangun dan membantu saya, yang mungkin tidak dapat saya sebutkan satu per satu. Dan juga saya ingin meminta maaf dari lubuk hati terdalam kepada orang-orang yang mungkin merasa pernah saya kecewakan, saya betul-betul minta maaf. Namun, di atas segalanya, saya bersyukur pernah mengenal kalian semua. Ingatan ini akan bersifat abadi dalam memori saya. Terima kasih..

10 Juni 2009

"Saya bukan Korban"

Saya selalu melihatnya disana.. Seorang bapak tua berdiri di ujung jembatan, menjual dua dirigen air.

Dengan tidak mau mengetahui asal usul airnya, saya selalu bertemu bapak itu pada saat sedang menunggu lampu merah. Dari balik kemudi, saya perhatikan ia berdiri di bawah pohon rindang dengan kemeja berlengan panjang birunya dan celana selutut berwarna hitam -yang sepertinya merupakan "Seragam kerjanya"

Beberapa kali, tangannya menunjuk-nunjuk mobil atau motor yang lewat, sambil mulutnya komat-kamit mengatakan, "Air buat cuci piring neng.. Air buat bersih2 Pak.."

Sebenarnya kali pertama saya melihatnya, hati saya sudah meringis. Namun ternyata itu belum seberapa... Suatu kali saya melihatnya sedang merapikan dua dirigen air tersebut dan berjalan turun ke bawah. Bingung juga saya, kenapa dia turun ke bawah, tapi saya perhatikan terus saja Bapak itu dengan lebih seksama. Sungguh pilu saat mengetahuinya, ternyata ia berjalan ke rumahnya yang berada di bawah kolong jembatan. Rumah yang tidak ada atap itu terlihat berantakan, sarat dengan barang-barang miliknya.

Cukup lama saya menatap kolong jembatan itu, sampai tidak sadar lampu lalu lintas sudah berubah ke hijau. Saya berjalan cukup pelan, merasa syok. Selama ini saya pikir "Tinggal di kolong jembatan" hanya kiasan belaka. Tapi, hari ini saya betul-betul melihatnya.. Di sana.. Lalu, bagaimana dengan kamar mandinya? Bagaimana cara ia tidur di malam hari? Bagaimana kalau sedang hujan, tidak kepikirankah ia kalau air sungai/got bisa meluap? "Seperti itukah kemiskinan di ibukota?" Yah.. Banyak sekali pertanyaan yang melintas di kepala saya saat itu.

Hanya saja saya melihat ada yang berbeda, satu hal yang pasti bapak itu tidak mau menjadi korban. Ia tetap mau berusaha "menaklukkan" dunia ini. Walaupun hidupnya seperti itu..

Tuhan pernah mengatakan bahwa salah satu tugas manusia adalah menaklukan bumi. Makanya,
"Control hidup kalian, control waktu dan uang kalian, jika tidak hidup, waktu dan uanglah yang akan mengontrol kalian."

Lagipula, keadaan ini bukan untuk selamanya kok. Saya buktinya..
Selama sepuluh tahun lebih, kami sekeluarga mempunyai financial problem. Namun, saat ini kami masih terus berdiri dan yakin Tuhan sedang memulihkan dan memperbaiki keuangan kami. Dimulai dari keuangan saya -yang perubahannya sangat luar biasa- dan bukan tidak mungkin juga keuangan orang tua saya pada akhirnya.

Saya sungguh salut terhadap Bapak tua itu.. Ia tidak meminta-minta atau mengemis, melainkan ia berusaha. Ia menemukan sesuatu yang ada dari dirinya (kedua dirigen tersebut), lalu mengusahakannya dengan sekuat tenaga. IA bukan KORBAN DUNIA melainkan IA sedang BEKERJA.

Dan malam itu, saya langsung mendoakannya, "Tuhan, aku tidak tahu siapa nama Bapak itu dan bagaimana ceritanya hingga dia bisa tinggal disana. Tapi Tuhan, berkatilah dia.. Pulihkan keuangan dan kehidupannya. Biar Engkau berkati dia dalam penjualan airnya itu, bahkan Engkau tambahkan, sehingga bisa menopang hidupnya. Amien.."

08 Juni 2009

Ceritakan apa Tujuanmu?

Setiap manusia pasti punya tujuan hidup. Yap.. Kita-kita memiliki purpose in our life..
Makanya, jangan anggap remeh dirimu! Dengan tidak memandang pekerjaan kita/kondisi keadaan sekarang ini. Well, the truth is YOU ARE SOMEBODY..

Kenapa saya berkata begini? Karena itulah tujuan Tuhan menciptakan kita. Segala yang ada di diri kita ini -dari ujung rambut sampe ujung kaki- ada maksudnya.
Kalo Bill Gates aja bisa menciptakan Microsoft dengan tujuan agar mempermudah kita dalam bekerja, menyimpan file (dan memang jd simpel sih..), apalagi Tuhan..
So, seperti yang saya katakan di awal tadi, Don't under estimated yourself!

Namun, segala sesuatunya memang harus dimulai dulu. Ingat kan, ada awal, pasti ada akhirnya.. Kata pepatah pun sama, "Terkadang kita perlu untuk mengambil step awal dulu, baru ke belakangnya akan mudah.." Saya setuju dengan quote ini..
Karena TUJUAN HIDUP BUKAN DIUKUR DARI KE-SPEKTAKULERANNYA, tapi APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN UNTUK HIDUPMU.. Dengan memulainya dari diri sendiri...

Saya selalu kagum dan salut dengan OB (Office Boy) di kantor saya. Betul-betul orang yang langka (menurut saya).. Selain kenyataan bahwa ia berfungsi (sebagai OB) dengan baik, ia pun juga berkeliling tiap hari untuk menanyakan ingin makan apa hari ini, mengisi botol raksasa saya di meja, berinisiatif untuk fotokopi tanpa disuruh, dsb. Sangat produktif, bukan? Bisa bayangkan kalo dia cuti atau tidak masuk? Saya seperti orang yang lupa waktu. Tiba-tiba saja jam sudah menunjukkan pukul 12 siang dan saya belum menyentuh makanan sama sekali. Belum lagi -seperti yang kita tau- terkadang Jakarta bisa sangat terik lalu berubah tiba-tiba jadi dingin( hehehe), membuat saya malas mencari makan di luar kantor.

Sama juga dengan kisah Harry Porter, Golden Compass, dan sejenisnya. Sebenarnya, intisari yang bisa saya dapatkan dari film tersebut, bukan tentang "Di kehidupan nyata mereka adalah orang biasa yang tidak punya apa-apa." Saya agak kurang setuju dengan pendapat itu, karena bisa membuat orang banyak berangan-angan, tanpa melihat realita yang sesungguhnya. Tapi justru yang saya lihat adalah "Mereka hidup punya tujuan"

Besar atau kecilnya tujuan kita bukanlah ukuran. Seperti yang saya katakan tadi, tidak perlu spektakuler, tapi percayalah itu akan mengguncang hidup orang lain, paling tidak untuk dirimu sendiri.

Bisa membawa perubahan bagi kehidupan orang lain, itu adalah tujuan. Secara tidak langsung, orang akan mencontoh tingkah lakumu, kebiasaanmu, itu adalah tujuan. Menjadi pendengar yang baik, itu adalah tujuan. Menjadi istri yang tunduk pada suami dan suami yang menghargai istri, itu adalah tujuan. Menjadi anak yang menurut, hormat dan berbakti pada orang tua, itu adalah tujuan.
And see, gak perlu heboh2 dulu kan? Mulailah dari perkara kecil, pasti nanti kita akan dipercayakan yang besar. Saya melihat banyak contoh seperti itu di kantor saya, yang awalnya loker koran, sekarang merupakan seorang Direktur. Yang awalnya, administrasi biasa, sekarang beliau menjabat sebagai Direktur Utama. Dan bukan mustahil, jika suatu hari nanti, giliran Anda...